MENGEMBALIKAN ISTILAH MAKASSAR



Saya melihat bahwa diantara kita yang berasal dari suku Makassar itu sendiri telah mengalami kekurangan kosakata untuk menyebut istilah budaya kita sendiri. Banyak ternyata istilah yang kita gunakan bukan bersumber dari budaya Makassar, melainkan hasil dari asimilasi dengan budaya luar terutama dengan budaya tetangga kita. Banyaknya diantara kita yang telah berteman maupun kawin-mawin dengan tetangga sebelah menjadi salah beberapa faktor yang mengakibatkan hal ini terjadi.

Saya tidak melarang ataupun menghimbau untuk menghindari pertemanan maupun kawin-mawin dengan mereka, karena sebagai makhluk sosial hal itu akan sangat sulit kita hindari. Saya pun banyak berteman dengan mereka dan bahkan ada beberapa orang diantara mereka yang saya jadikan rujukan ketika ingin mengambil sebuah pertimbangan karena keluasan ilmu. Apalagi diantara mereka itu sudah berkontribusi banyak di dalam pembangunan daerah-daerah yang didiami oleh kita para suku Makassar terutama di kota Makassar. Saya hanya sekadar mengingatkan bahwa suku Makassar kaya akan kosakata mengenai istilah-istilah yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita harus menggunakan istilah dari kebudayaan kita sendiri.

Istilah “aga kareba” adalah istilah yang kadang membuat saya merasa senyum-senyum sendiri ketika ada diantara kita suku Makassar yang menggunakan istilah ini ketika menanyakan kabar. Ini belum termasuk dengan bahasa awal orang-orang luar Sulawesi Selatan yang berkunjung ke Kota Makassar khususnya menggunakan istilah ini untuk menanyakan kabar kita. Di sinilah sebenarnya peran kita dituntut. Mari kita jelaskan kepada mereka bahwa kata “aga kareba” bukan bahasa Makassar. Bahasa itu adalah bahasa tetangga sebelah sehingga tidak tepat penggunaannya ketika ditanyakan kepada kita. Dalam kosakata maupun kebiasaan bahasa Makassar, jika kita ingin menanyakan kabar maka kata yang biasa digunakan adalah “apa kabara antu mae” atau biasa juga digunakan jika lebih spesifik yaitu kalimat “ante kamma antu pakkasiaka”. Inilah istilah yang umum digunakan terutama mereka yang tinggal di Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar yang dikenal dengan dialek lakiung. Dan memang jawaban dari pertanyaan ini adalah “bajik-bajikji” yang berarti baik.

Ada juga istilah yang oleh sebagian dari kita dikenal dengan “jokka-jokka” yang berarti jalan-jalan. Saya tidak ingin menyalahkan para suku Makassar milenial (mereka yang terlahir dari rahim suku Makassar baik kedua orang tuanya suku Makassar maupun hanya salah satunya, tetapi jarang bahkan tidak diajarkan bahasa Makassar oleh orang tuanya) yang sering menggunakan istilah ini. Padahal dalam kosakata Makassar, istilah yang tepat digunakan adalah “jappa-jappa”. Ada juga yang mengistilahkan dengan kata “solle” walaupun konotasinya negatif karena berarti keluyuran.

Selain pengucapan dalam kalimat menanyakan kabar dan istilah jalan-jalan, isitilah kaum tetangga yang banyak “menggeser” bahasa Makassar juga banyak terjadi di istilah pernikahan. Jika kita pernah menonton film “uang panai”, ada satu adegan yang diberi istilah “ma’manu-manu” yang berarti pihak calon mempelai pria melakukan penyelidikan asal usul terhadap calon mempelai perempuan. Padahal dalam budaya Makassar, istilah penyelidikan ini dikenal dengan istilah “a’jangang-jangang” yang diambil dari kata “jangang” berarti ayam. Istilah ini diibaratkan dengan tingkah ayam jantan yang seperti melakukan penyelidikan terhadap ayam betina ketika hendak kawin. Istilah lainnya yang familiar dan sering digunakan adalah kata “mappetuada” yang berarti menentukan tanggal pernikahan. Istilah ini bukanlah istilah Makassar melainkan isitilah tetangga. Dalam bahasa Makassar, peristiwa penentuan hari pernikahan disebut “appanassa” atau “appanai leko caddi”.

Istilah selanjutnya yang oleh sebagian dari kita bahkan sudah sangat lumrah menggunakannya adalah istilah “mappacci”. Kosakata yang berarti suatu acara sakral sebelum akad nikah ini yang biasa ditandai dengan peletakan sesuatu di tangan yang umumnya sekarang menggunakan daun pacar. Dalam istilah bahasa Makassar ritual ini disebut dengan “korontigi”. Selain itu ada istilah “mapparola” yang sering juga digunakan. Istilah ini menjelaskan ritual yang dilakukan oleh mempelai perempuan besarta keluarganya ke rumah mempelai pria setelah pesta pernikahan. Istilah ini adalah istilah tetangga yang sebenarnya kita juga punya istilah sendiri yang disebut “a’lekka bunting”. Belum lagi istilah lain seperti “indo botting” yang sebenarnya bagi kita orang Makassar harusnya menggunakan kata “anrong bunting”.

Prinsip dan semboyan kita pun ada yang sudah teralienasi oleh budaya tetangga. Istilah “sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi” adalah istilah yang sudah sangat populer. Padahal dalam istilah itu hanya terdapat satu kosakata Makassar dan dua lainnya adalah istilah tetangga. Kata yang tepat dalam istilah Makassar adalah, “sipakatau” yang berarti saling memanusiakan, “sipakainga” yang berarti saling mengingatkan dan “sipakalabbiri” yang berarti saling memuliakan. Ada juga istilah “sigajang laleng lipa” yang berarti saling menikam di dalam sarung. Padahal kita punya istilah “assitobo lalang lipa”. Ritual ini adalah budaya Makassar yang ditandai dengan senajata yang digunakan adalah badik (senjata khas Makassar) maupun pengikat kepala passapu patinra/patonro (pengikat kepala orang Makassar) yang berwarna merah dan hitam. Pengikat kepala ini banyak digunakan pada masa kerajaan dahulu di kerajaan-kerajaan Makassar. Sedangkan di kerajaan-kerajaan tetangga, kita akan sangat sulit menemukannya.

Sebenarnya masih banyak istilah-istilah dalam bahasa Makassar yang secara tidak sadar kita sudah membuatnya terpinggirkan di kampung sendiri dengan lebih sering menggunakan istilah tetangga. Semoga kita dapat menyadari itu semua karena tanggung jawab pelestarian budaya berada di tangan kita sebagai orang Makassar. Menjaga tradisi suku kita bukan berarti menyerang budaya dan adat orang lain, bukan juga berarti menolak dan membatasi ruang gerak aktualisasi budaya mereka karena hal itu terkesan sangat naif. Tetapi menjaga tradisi kita adalah dengan cara yang sangat sederhana yaitu menggunakan istilah-istilah kita sendiri dan mengajarkannya kepada anak-anak, keluarga, maupun teman kita.

Saya juga agak “cemburu” menemukan banyaknya orang asing yang belajar budaya orang Jawa bahkan terlibat di dalam pementasan budaya itu. Kita bisa melihat bagaimana seorang vlogger asing yang wara-wiri di youtube dengan bahasa jawa. Atau kita juga bisa melihat bagaimana seorang sinden (penyanyi dalam pementasan budaya Jawa) yang ternyata orang luar negeri. Itu belum terhitung bagaimana lagu-lagu Jawa telah dikenal secara nasional. Siapa yang tidak kenal dengan lagu “jaran goyang” yang merupakan istilah Jawa. Atau begitu terkenalnya Via Vallen dengan lagu Jawanya. Dan bagaimana dengan lagu Makassar dan penyanyi Makassar yang hanya berjaya di daerah sendiri. 

Saya sesekali berpikir kapan lagu Makassar akan terkenal secara nasional setingkat dengan lagu-lagu Jawa atau paling tidak lebih tenar dari lagu-lagu Ambon dan Manado. Bukan lagi dikenal hanya sebagai lagu yang diputar pas saat ada pesta pernikahan dan itupun agak “terpaksa” karena yang menikah orang Makassar atau karena pernikahannya dilangsungkan di Makassar. Mari kita ubah semua itu dan dimulai dari diri kita masing-masing saribattang. Sehingga budaya kita lestari dan tidak menjadi asing di kampung sendiri.



Comments

Post a Comment