Tanggal 09 Desember 2020 adalah
waktu pelaksanaan untuk memilih nahkoda baru Kota Makassar yang pada pilkada sebelumnya
mencatat sejarah dengan kotak kosong mengalahkan calon yang didukung banyak
partai. Artinya secara garis besar, faktor ketokohan di kota Makassar lebih
berpengaruh daripada faktor partai politik. Saya tidak akan menjelaskan siapa
pilihan saya di pilkada Walikota Makassar kali ini. Di artikel ini saya akan
mencoba menyajikan kepada pembaca persoalan yang ada di kota Makassar dengan banyak
tertuju pada persoalan reklamasi pantai losari dan sekitarnya termasuk CPI (Center
Point of Indonesia) dan MNP (Makassar New Port) . Reklamasi pantai yang terletak
di bibir Kota Anging Mammiri ini selain menampilkan keindahan yang bisa
dinikmati oleh warga kota, reklamasi ini juga ternyata berdampak buruk terhadap
lingkungan dan terkesan mubazir. Walaupun tupoksi dari pembangunannya terletak
pada Pemerintah Provinsi, tetapi sedikit banyaknya tentu ada kaitannya dengan Pemerintah
Kota Makassar. Mari kita bahas dampak buruk dari reklamasi di Pantai Losari dan
CPI serta MNP yang digadang gadang akan menjadi simbol baru kota Makassar ini.
Pembangunan Masjid 99 Kubah di
kawasan CPI dibangun di atas kawasan yang sarat dengan konflik dan pelanggaran
HAM. Sebab masjid ini dibangun di atas lahan yang dahulunya dihuni oleh 41
kepala keluarga nelayan. Bahkan menurut salah satu organisasi pengamat
lingkungan hidup, para nelayan ini digusur tanpa ganti rugi dan hidup terlunta
lunta. Dan jika pembangunan masjid ini tetap dilanjutkan, maka bangunan ini di
kemudian hari akan menjadi simbol penggusuran rumah ibadah atas rumah warga. Selian
itu pembangunan Masjid 99 Kubah ini terkesan mubazir dan sangat tidak
proporsional.
Kita bisa lihat dengan jarak yang
tidak begitu jauh, sudah ada masjid terapung yang lebih dahulu dibikin. Jika tujuan
masjid adalah untuk menampung orang untuk beribadah, maka tentu masjid terapung
yang berada di atas lahan rekmalasi Pantai Losari ini sudah representative sebagai
tempat ibadah. Sehingga buat apa lagi dibangun masjid yang sangat berdekatan. Apakah
dana yang dianggarkan untuk membuat masjid ini tidak lebih baik jika diberikan
kepada nelayan yang terkena dampak penggusuran dengan memberikan mereka rumah
dan bantuan yang bisa membantu usaha mereka. Tentu ini lebih baik dikarenakan
berdampak langsung kepad para nelayan. Bukankah tujuan kita bernegara adalah
membuat kita sejahterah dan bukan gagah-gagahan tempat ibadah. Buat apa tempat
ibadah banyak dan terlihat megah tetapi dibangun di atas penderitaan rakyat
sekitar. Ini yang saya maksud mubazir dan tidak proporsional.
Kemudian CPI adalah kawasan
reklamasi yang merusak lingkungan hidup dan juga ditentang keras oleh nelayan
dan masyarakat pesisir, termasuk perempuan pesisir di Galesong Takalar dan Kota
Makassar dikarenakan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh proyek CPI. Pemandangan
CPI juga terlihat kontras jika dibandingkan dengan daerah pesisir di Galesong Utara,
Takalar yang terletak sekitar 19 KM dari Kota Makassar. Kawasan ini dilanda
abrasi parah yang dipicu oleh pengerukan pasir laut untuk reklamasi CPI dan MNP.
Dalam 2 (dua) tahun abrasi ini menggerus luas daratan sejauh 10-15 meter. Dampak
lainnya sebagian rumah warga ambruk dan sebagian lagi rusak.
Selain itu dampak lain yang
ditimbulkan adalah kerusakan lingkungan di Pulau Kodingareng. Penambangan yang
dilakukan membuat air laut menjadi keruh dan berlumpur yang tentu membuat ikan
tidak akan mendekat. Tidak mendekatnya ikan tentu membuat tangkapan nelayan
akan menurun, dan ini sangat berpengaruh pada pendapatan nelayan. Reklamasi yang
dibuat dengan mengambil pasir dari sebuah pulau tidak selamanya berkorelasi
positif dengan kesejahteraan warga kota. Gedung yang tinggi di tempat reklamasi
hanya akan menjadi pemandangan kosong jika dibandingkan dengan kesejahteraan
nelayan. Tentu kita tidak ingin bangunan yang bediri di atas tanah reklamasi
dikenang sebagai bangunan yang bediri di atas penderitaan warga pulau. Apalagi di
atas raklamsi itu berdiri masjid yang sangat identik sebagai simbol agama.
Hal buruk lain yang terjadi dari
penambangan pasir ini tentu mengakibatkan bencana ekologis dikarenakan
menggeser sumber material dari luat ke daratan. Proyek CPI itu seluas 157,23 ha
yang tentu membutuhkan pasir laut sebanyak 22 juta kubik dan saya dapat
mengatakan ini luar biasa kerusakan yang terjadi. Pulau yang menjadi tempat
pengerukan pasir tentu akan sangat dirugikan dengan proyek CPI ini dengan
kebutuhan pasir yang sangat banyak. Itu belum termasuk dengan rencana permbuatan
reklamasi khusus jasa dan perdagangan yang luasnya sekira 3.133,29 ha dan tentu
membutuhkan pasir laut yang lebih banyak lagi. Dan pertanyaannya kemudian,
apakah kemajuan sebuah kota harus berdiri di atas penderitaan warganya. Gedung tinggi
dan mewah, reklamasi pantai yang indah, serta masjid yang megah tentu tidak
akan bisa dibanggakan jika dibangun di atas penderitaan kota. Semua hanyalah
bangunan kosong yang dinikmati para pemodal dan kaum borjuis.
Itu merujuk reklamasi di kota Makassar
yang sangat gencar dan apakah walikota yang terpilih ini bisa mendesak gubernur
untuk meninjau ulang proyek yang merugikan warga dan lingkungan ini. Calonnya beragam
mulai dari calon yang dulu juga bertanggung jawab pada reklamasi pantai losari
dan membuat airnya keruh karena tidak membuat air di losari ke laut lepas
disebabkan reklamasi. Ada juga calon lain yang didukung oleh orang kuat yang
berpengaruh secara nasional yang tentu punya kalkulasi jika calonnya menang di
kota Makassar. Ada juga calon yang mencoba kembali untuk bertarung dengan latar
belakang nama ayah dan kakaknya walaupun sebelumnya ia kalah. Apakah semuanya
jika salah satu yang terpilih dari mereka berani menggugat proyek CPI dan MNP
ini.
Itu baru persoalan CPI dan MNP,
belum persoalan macet yang seperti menjadi bagian dari Kota Makassar. Macet di
sepanjang jalan A.P.Pettarani dijawab dengan pembuatan jalan toll layang yang
mungkin ke depannya hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya. Seharusnya membuat
sistem transportasi massal yang efisien dan efektif dengan tidak mencontek BRT
yang saya nilai gagal. Kita bisa lihat justru di bawah toll layang jalanan
mengalami penyempitan lahan. Persoalan lain seperti banjir juga harusnya bisa
menjadi perhatian walikota yang terpilih nanti. Bahwa harus ada ketegasan untuk
menjamin selokan yang menjadi saluran air tidak terhalangi. Baik karena di
atasnya dijadikan lahan oleh warga maupun dari depan aliran airnya tidak
terhambat. Banyak pembangunan jalan di kota Makassar yang saya lihat justru
tidak memiliki saluran got yang memadai. Kita bisa lihat itu di daerah
pinggiran kota seperti di beberapa ruas jalan di Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea.
Selain reklamasi, macet, dan banjir, tentu masih banyak persoalan lain di Kota Makassar.
Dan semoga pasca pilkada kita mendapat walikota yang bisa menyelesaikan
masalah-masalah yang ada di Kota Makassar.
Makassar, 08 Desember 2020

Kesannya bukan tempat ibadah tetapi sesuatu yg ingin di pertontokan ke indahannya.
ReplyDelete