Lagi ramai perihal Museum Hagia Sophia yang
rencananya akan dikonversi oleh Presiden Turki Racip Erdogan menjadi masjid
menuai pro dan kontra. Hagia Sophia yang berarti kebijaksanaan suci adalah warisan
dunia UNESCO dan merupakan destinasi wisata yang sangat ramai dkunjungi oleh
masyarakat dunia. Bangunan ini awalnya adalah sebuah gereja katedral yang
dibangun di Konstantinopel (sekarang Istanbul Turki) pada abad ke 6 masehi. Awal
berdirinya, daerah Konstantinopel merupakan daerah yang menjadi Ibu Kota
Kekaisaran Byzantium. Negara yang menjadikan Kristen Ortodoks sebagai agama
resminya ini awalnya merupakan bagian timur Kekaisaran Roma dan dijalankan
setelah imperium besar itu runtuh.
Kemudian di tahun 1453 ketika Kesultanan Ottoman di
bawah Pasukan Mehmed II berhasil menguasai Konstantinopel, maka wajah Hagia
Sophia ikut pula berganti. Gereja kaum Ortodoks ini akhirnya dikonversi menjadi
masjid. Perubahan dari gereja menjadi masjid menimbulkan perubahan baik dari
segi interior maupun eksterior. Mozaik-mozaik disembunyikan di bawah cat kuning
dengan pengecualian Theotokos yaitu Perawan Maria dengan anak di Apse. Kemudian
ditambahkan monogram empat khalifah dan dua cucu Nabi SAW yaitu Hasan dan
Husain dan diletakan di pilar mengapit Apse dan pintu masuk Nave. Setelah Republik
Turki berdiri dan Mustafa Kemal yang bergelar Ataturk menjadi Presiden, maka pada
tahun 1935 Hagia Sophia kembali mengalami perubahan fungsi menjadi museum. Ini
dilakukannya sebagai bagian dari reformasi sekulernya. Dan pada bulan Juli
2020, di masa pemerintahan Racip Erdogan sebagai Presiden Turki dan berdasar
keputusan Pengadilan Turki, maka Hagia Sophia akan dikonversi kembali menjadi
sebuah masjid. Keputusan ini seperti memenuhi keinginan dari kaum konservatif
religius di Turki yang telah lama menyerukan konversi bangunan Hagia Sophia
menjadi masjid.
Keputusan ini mendapatkan banyak kecaman terutama
dari pihak Kristen Ortodoks baik itu di Rusia maupun Yunani. Keputusan yang
seperti mengorek luka lama ini bisa saja memicu kembali sentimen negatif diantara
Muslim dan Kristen Ortodoks, padahal hubungan baik diantara keduanya sudah
terjalin secara positif selama berabad-abad. Dari pihak gereja Ortodoks Rusia
menentang rencana alih fungsi museum Hagia Sophia ini. Mereka mengecam rencana
ini karena dapat memicu ketegangan antar umat beragama. Bahkan ditambahkan
bahwa perubahan status ini akan mengarah pada perubahan dan pelanggaran
keseimbangan antar agama yang rapuh. Bahkan jika dilihat dari kacamata geo
politik, keputusan ini bukan saja mengganggu keseimbangan agama, tetapi hubungan
antara Turki dan Yunani akan lebih memanas lagi padahal sebelum keputusan kontroversi
ini saja mereka sudah berseteru perihal perebutan daerah di Siprus. Dimana
pemerintahan Siprus yang sebagian besar mendapatkan dukungan dari Yunani,
mengalami konflik dengan Turki di bawah kekuasaan Erdogan yang mendukung
gerakan separatis di Utara Siprus.
Keputusan ini kembali menegaskan watak pragmatis
seorang Erdogan. Di satu sisi ia mencoba menarik simpati kaum Muslim terutama
yang konservatif dengan memunculkan romantisme kekuasaan Kesultanan Ottoman dan
memfigurkan dirinya layaknya seorang Sultan walaupun sebenarnya hubungan Muslim
dan Kristen Ortodoks terutama di Rusia sangatlah baik, tetapi di sisi lain ia
tetap menjadi sahabat baik bagi negara Zionis Israel yang nyata-nyata membantai
rakyat Palestina. Jika memang Erdogan ini adalah Sultan yang selalu membela
kepentingan kaum muslim, maka hal yang paling pertama harus dilakukannya
sebagai bentuk perjuangan membela Palestina adalah memutuskan hubungan diplomatik
dengan Israel dan bukan malahan bermesraan hingga saat ini. Dan bahkan juga yang
terjadi keputusan-keputusannya tidaklah sama sekali ditujukan untuk melemahkan
posisi Israel. Itu belum termasuk dengan keputusan ceroboh Erdogan terhadap
tetangga-tetangga muslimnya yang tidak dia lakukan terhadap Israel.
Turki di bawah kepemimpinannya mempersenjatai
pemberontak di Suriah yang hendak menggulingkan pemerintahan sah Bashar Al Assad.
Dan termasuk juga bagaimana kurang ajarnya seorang Erdogan yang menganeksasi
wilayah utara Suriah. Padahal dalam sejarahnya, Suriah adalah negara terdepan
yang memerangi pembentukan Israel di Palestina dan sebagai konsekuensinya negara
itu harus kehilangan Dataran Tinggi Golan yang masih dicaplok Israel. Jika ia
dengan gagah dan berani mensponsori pemberontakan serta gerakan aneksasi di Suriah,
mengapa tidak ada sebutir pun peluru yang ia tembakkan ke Israel. Padahal jika Erdogan
memang serius ingin mengusir Israel dari Palestina, ia bisa saja menjalankan
proxy war melalui Hamas seperti yang dilakukan Iran lewat Hamas dan Jihad Islam
di Palestina serta Hizbullah di Lebanon. Tetapi Erdogan tetap tidak akan
melakukan itu berhubung ia adalah seorang pragmatis sejati.
Pengambilan paksa wilayah negara yang berdaulat
tidak hanya dlakukan oleh Erdogan di Suriah, tetapi di Irak Utara dengan alasan
keamanan negara juga dilakukannya. Bahkan jejak teror Erdogan juga terekam di
Libya. Pasca tergulingnya Muammar Khadafi di Libya, Erdogan mencoba memainkan
peran yang lebih besar untuk menguasai negara di Afrika Utara itu walaupun di
pihak yang lain ada Mesir, Saudi, dan UEA yang menjadi saingan Erdogan. Efek
dari campur tangan mereka baik itu dari Turki, Mesir, Saudi, dan UEA yang
kesemuanya adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim justru hanya
menyisahkan kehancuran bagi Libya yang di bawah pemerintahan Khadafi yang
dikatakan otoriter itu justru mengantarkan Libya menjadi salah satu negara
makmur di benua Afrika. Bahkan negara yang bertikai dan memperebutkan pengaruh
di Libya ini jika mereka memang memperjuangkan kepentingan islam, seharusnya
senjata yang digunakan di Libya ini lebih bagus jika diberikan kepada para
pejuang bersenjata di Palestina. Tetapi justru yang terjadi adalah sebaliknya
dan membuat Israel tertawa ria karena melihat sesama negara muslim saling
berperang. Mungkin selain pragmatis, Erdogan dan para pemimpin negara muslim
yang bertikai di Libya ini juga memiliki penyakit dungu, bahkan berada di titik
nadir karena dapat diadu domba oleh Israel dan tentu oleh sang majikan AS.
Masihkan kita percaya jika Erdogan adalah seorang
pejuangan kepentingan kaum muslimin dunia hanya karena ingin mengubah status
Hagia Sophia menjadi masjid. Tentu jawabannya tidak semudah itu, kita tidak
bisa melakukan simplifikasi. Hagia Sophia adalah simbol hubungan baik kaum Muslim
dan Kristen Ortodoks. Biarkanlah tetap menjadi museum yang menjembatani
hubungan kedua agama ini dan Turki menjadi tuan rumahnya. Justru jika ingin
disebut sebagai pembela muslim dunia, langkah awal yang harus dilakukan oleh Erdogan
adalah memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Karena jika tidak, adalah
absurd berteman dengan negara pembantai kaum Muslim tetapi di sisi lain
mempropagandakan dirinya sebagai seorang Sultan. Mungkin sebagai seorang Sultan
Zionis saja.
Panasakkang Maros, 13 Juli 2020

Apakah anda seorang muslim, ataukah Kristen ?
ReplyDeleteAndai anda jwb dg argumen juga bukan dg omongan yg kita sdh tau apa maksud anda.
Delete