GELE-GELE (GELI) SAYA MENDENGAR LAGU TENTANG AISYAH DAN RASUL


Pada kesempatan kali ini saya mencoba membuat artikel yang keluar dari pembahasan covid-19. Seperti yang kita ketahui, berita tentang covid-19 sudah sebulan merajai sekaligus menjadi bahasan utama public tanah air hingga global. Sehingga kita butuh pembahasan lain dan saya mengambil lagu yang lagi viral untuk dibahas dengan isinya menceritakan sosok Aisyah dan Rasulullah. Berikut lirik dari lagu tersebut:

Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merahnya pipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar, istri Rasulullah
Sungguh sweet Nabi mencintaimu
Hingga Nabi minum di bekas bibirmu
Bila marah, Nabi kan memanja
Mencubit hidungnya

Aisyah….
Romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan Baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau di samping Rasulullah

Aisyah….
Sungguh manis oh sirah kisah cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta ya Aisyah, ya humairah
Hooo… hooo… hooo…

Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merahnya pipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar, istri Rasulullah
Sungguh sweet Nabi mencintaimu
Bila lelah Nabi baring di jilbabmu
Seketika kau pula bermanja
Menyikat rambutnya

Aisyah….
Romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan Baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau di samping Rasulullah

Aisyah….
Sunggu manis oh sirah kisah cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta ya Aisyah, ya humairah


Aisyah….
Romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan Baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau di samping Rasulullah

Aisyah….
Sunggu manis oh sirah kisah cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta ya Aisyah, ya humairah
Rasul sayang, kasih Rasul cintamu.

Dengan segala penghormatan saya kepada Aisyah sebagai istri dari Rasul, tetapi apakah mungkin Rasulullah bersikap seperti yang diceritakan oleh lirik lagu di atas terhadap istrinya. Segala akhlak dan tingkah laku Rasul SAW terekam baik di dalam Al Quran. Di Surah An Najm Ayat 4 menjelaskan jika ucapan beliau adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Kemudian di ayat lain tepatnya di Surah Al Ahzab Ayat 21 dikatakan jika pada diri Rasul terdapat contoh suri tauladan yang baik. Kemudian selanjutnya di Surah Al Anbiya Ayat 107 dikatakan jika Rasul itu menjadi rahmat bagi alam semesta. Saya mengambil tiga sifat Rasul ini yaitu perkataannya adalah wahyu, suri tauladan yang baik, dan rahmat bagi alam semesta untuk melihat apakah lirik lagu ini sudah tepat penggambaran akhlak Rasul atau tidak.

Di lirik lagu ini Rasul ingin ditampilkan sebagai sosok yang romantis dengan istrinya. Disebutkan ia meminum di bekas bibir Aisyah. Bila Aisyah marah, beliau memanjakan Aisyah dan mencubit hidungnya  atau baring di jilbabnya kemudian menyikat rambutnya. Kemudian beliau juga dikatakan jika pernah main lari-lari dengan Aisyah. Kehidupan Rasul dan istrinya memang banyak diceritakan dalam berbagai hadist. Tetapi apakah mungkin sosok manusia agung dan paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia ini habis waktunya hanya disibukkan dengan memanjakan istrinya. Beliau ini adalah orang besar yang melahirkan peradaban besar. Meminum bekas bibir istri, mencubit hidung istri, hingga menyisir rambut istri seperti mengibaratkan Rasul ini pengantin baru yang lagi dimabuk asmara. Apakah pantas seorang Rasul dimabuk asmara.

Dalam sejarahnya setelah 2 tahun Khadijah sang istri pertama rasul wafat barulah beliau berpoligami termasuk menikahi Aisyah yang pada saat itu beliau berumur 52 tahun dan Aisyah berusia 9 tahun atau ada yang menyebutkan 13 tahun. Dan kemudian beliau tinggal serumah ketika Aisyah berusia 13 tahun atau 19 tahun. Kita mencoba mengambil Asiyah ketika itu berumur 13 tahun berarti Rasul berusia 56 tahun. Yang menjadi pertanyannya apakah orang yang sudah menginjak usia 56 masih mengalami mabuk asmara seperti meminum bekas bibir istrinya, mencubit hidungnya, hingga menyisir rambutnya. Apakah Rasul mengalami pubertas yang kedua di usia lebih dari setengah abad. Itu belum termasuk kekonyolan yang menyebutkan jika beliau bermain dan berlari-lari dengan Aisyah. Coba bayangkan seseorang yang sudah berumur 56 tahun bermain dan berlari-lari dengan anak berusia 13 tahun. Apakah bermain dan berlari-lari dengan anak usia 13 tahun ketika usia kita sudah menginjak 56 tahun adalah wahyu dari Allah SWT. Apakah meminum bekas istri adalah bentuk dari contoh suri tauladan yang baik. Apakah menyisir rambut dan mencubit hidung istri dapat mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.

Lirik lagu ini bukan hanya tidak sesuai dengan penggambaran sosok seorang Nabi dan Rasul, tetapi justru telah merendahkan kewibaan Nabi sebagai sosok manusia yang mulia dengan penekanan penggambaran di lirik lagu ini hanyalah hawa nafsu belaka. Selain itu penggambaran Rasul di lirik ini justru menjadi senjata kaum orientalis yang akan kembali menggambarkan jika Rasul itu adalah sosok pedofil yang menikahi anak di bawah umur. Seseorang yang sudah tua dengan usia 56 tahun mengalami kelainan karena menyukai anak yang berusia 13 tahun dan menikahinya. Bahkan bukan hanya menikahinya, tetapi ia pun memanjakannya seperti pengantin baru hingga bermain dan berlari-lari dengan sosok penggambaran yang lagi dimabuk asmara.

Saya pribadi lebih menyukai jika penggambaran Rasul terhadap istrinya lebih banyak menjelaskan sisi spiritual Nabi dan bagaimana dakwahnya hingga islam menyebar ke seluruh dunia. Penggambaran seperti ini selain memunculkan kebanggaan tersendiri akan kisah perjuangan Rasul, juga akan meminimalisir suara-suara miring dari kaum orientalis atau mereka yang memang selalu mencari celah untuk menjatuhkan islam lewat kisah Rasul. Mungkin saja ini bagian dari strategi pemasaran agar lagu ini viral dengan lebih memperlihatkan sisi romantis yang dalam bahasa saya adalah sisi nafsu karena itu memang keinginan pasar dan terbukti laku di pasaran sehingga terlihat strategi ini berhasil. Tetapi di sisi lain, saya juga melihat ada upaya menjauhkan umat islam dari sejarah yang sebenarnya dengan melakukan distorsi dan penggiringan opini yang tidak benar.



Comments