KESYAHIDAN QASSEM SOLEIMANI DAN ESKALASI TERBARU TIMUR TENGAH


Mayor Jenderal Qassem Soleimani adalah komandan Pasukan Quds dari Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menemui syahidnya dalam sebuah serangan udara Amerika Serikat (AS) di Ibukota Irak, Baghdad. IRGC telah mengumumkan bahwa pada hari Jumat tanggal 03 Januari 2020 Mayor Jenderal Qassem Soleimani dan Al Muhandis menjadi martir dalam sebuah serangan yang dilancarkan AS lewat helikopter.

Sejarah mencatat Mayor Jenderal Qassem Soleimani lahir pada tahun 1957 di sebuah desa pegunungan terpencil Ghanat Molk di Kota Raber, Provinsi Kerman, Iran. Soleimani menyelesaikan pendidikan dasarnya pada usia 12 tahun. Selepas itu ia mencoba menjadi seorang tukang bangunan di sebuah wilayah di Kerman dan setelah itu ia bekerja sebagai kontraktor. Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran yang berhasil menumbangkan kekuasaan Syah Pahlevi, ia bergabung dengan IRGC. Ia terlibat dalam perang Irak-Iran dan berada di sejumlah operasi militer besar seperti Val Fajr 8, Karbala 4, Karbala 5, dan Shalamache.

Selepas perang Irak-Iran ia terlibat dalam perang melawan narkoba di perbatasan timur Iran-Afghanistan dan berhasil menyelesaikan tugasnya disana dengan gemilang. Pada tahun 1997, ia dipanggil oleh peimpin tertinggi revolusi islam iran yaitu Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan diangkat menjadi Komandan Qods IRGC . Prestasi gemilang Soleimani selama memimpin Pasukan Qods adalah berhasil melakukan penguatan terhadap gerakan perlawanan di kawasan, seperti Hizbullah di Lebanon maupun kelompok pejuang di Palestina. Kita bisat lihat bagaimana begitu tangguhnya Hizbullah ketika berperang dengan Zionis Israel pada tahun 2000 dan 2006 sehingga bisa mengusir entitas penjajah tersebut dari Lebanon Selatan. Hal yang sama bisa kita lihat bagaimana kemenangan pejuang Gaza dalam perang 22 hari melawan rezim Zionis.

Secara garis besar, Soleimani ketika memimpin gerakan Qods memiliki tugas utama yaitu membantu gerakan perlawanan melawan rezim Zionis Israel dan ia berhasil dengan gemilang menjalankan tugasnya itu. Kemudian seiring munculnya gerakan teroris transnasional di Timur Tengah terkhusus di Irak dan Suriah yaitu Daesh/ISIS maupun Jabhat Al Nusra, ia memiliki tugas tambahan untuk menumpas gerakan tersebut. Beberapa gerakan teror ini tidak bisa kita lepaskan dari konspirasi barat dan dukungan finansial negara teluk seperti Arab Saudi. Guna menghadapi gerakan teroris transnasional ini, ia membentuk kelompok relawan Al Hashd Al Shabi di Irak dan Al Difa Al Wathani di Suriah. Dan sekai lagi, ia sukses besar dengan berhasil menumpas gerakan teror ini. Prestasi lain dari sepak terjang Mayor Jenderal Qassem Soleimani adalah keberhasilannya dalam meyakinkan Presiden Rusia yaitu Vladimir Putin untuk terjun ke perang di Suriah. Ini dilakukannya ketika ia berkunjung ke Moskow, Rusia di tengah tekanan barat dan ancaman invasi militer terhadap Suriah.

Karena perannya yang begitu besar dalam “mengganggu” kepentingan AS dan Zionis Israel di Timur Tengah, maka ia terus menjadi target pembunuhan. Sebelum ia syahid di tanggal 03 januari 2020 kemairn, tercatat sudah beberapa kali ia menjadi target pembunuhan dan beberapa kali juga ia selamat dari serangan tersebut. AS sendiri bahkan memasukkan IRGC sebagai organisasi teroris, kesatuan dimana Soleimani menjadi Komandan Qods. Ini pertama kalinya dalam sejarah sebuah organisasi militer negara dimasukkan sebagai organisasi teroris oleh negara lain.

Eskalasi pasca meninggalnya komandan Qods IRGC ini akan sangat berpotensi memicu konflik terbaru di Timur Tengah yang bisa jadi menargetkan kepentingan AS di Timur Tengah maupun juga dapat mengancam Israel. Iran bisa saja tidak terlibat langsung dalam perang melawan AS tetapi menggunakan taktik perang proxy. Keberhasilan Soleimani dalam menghimpun kekuatan perlawanan di Timur Tengah seperti di Lebanon, Suriah, Irak, dan Palestina memungkinkan Iran menggunakan gerakan perlawanan di negara-negara tersebut untuk berperang dengan segala macam kepentingan AS di kawasan. Hizbullah sangat bisa diandalkan di Lebanon Selatan bahkan menjadi patron perlawanan terhadap Zionis Israel. Di Suriah kepentingan-kepentingan AS dan Israel sangat dapat dijangkau oleh Iran yang dimana mereka menempatkan beberapa penasehat militernya disana.

Sedangkan di Irak seperti yang kita ketahui sebelum peristiwa syahidnya Soleimani, kedubes AS di Irak diserang oleh demonstran sebagai jawaban atas serangan AS terhadap pusat militer yang menewaskan beberapa anggota Al hashd Al Shabi, organ paramiliter yang pro Iran. Dan tentu ini menjadi semacam sinyal perlawanan yang harus diperhatikan oleh AS. Sedangkan di Palestina, baik Hamas dan Jihad Islam maupun gerakan perlawnan lainnya adalah kartu as yang bisa saja menjadi masalah Israel di kemudian hari walaupun kemungkinan ini sangat kecil. Perlawanan juga bisa dilakukan oleh gerakan Ansharullah di Yaman yang pro Iran. Dan jangkauan peperangan Ansharullah bisa saja mencapai Teluk Aden di Selatan Yaman dimana disana bercokol banyak personel militer AS dan tentu ini menjadi potensi yang bisa saja menjadi medan perang yang baru.

Iran juga berpotensi melakukan perlawnan ekonomi terhadap AS dengan menutup selat Hormuz sebagai balasan dari sanksi ekonomi yang dilancarkan oleh AS. Seperti yang kita ketahui bahwa selat Hormuz adalah jalur distribusi laut minyak di Timur Tengah. Dan dapat kita bayangkan betapa susahnya ketika selat itu ditutup dan Iran punya kemampuan untuk itu. Dan ketika selat itu ditutup, maka otomatis penyaluran minyak akan terhambat dan tentu akan berdampak pada kenaikan harga minyak dunia serta akan banya negara yang ikut menanggung kerugian tersebut. Itu belum termasuk jika Iran berhasil meyakinkan negara-negara muslim maupun negara lainnya untuk meninggalkan dollar dalam transaksi internasionalnya dan menggantinya dengan emas. Seperti diketahui bahwa kerjasama ekonomi antara Iran, Rusia, dan China memungkinkan mereka untuk mendepak dollar dari alat tukar perdagangan internasional. Selain itu beberapa waktu yang lalu Iran dan beberapa negara muslim lainnya seperti Malaysia dan Turki memulai rencana untuk menggunakan emas sebagai alat tukar dalam perdagangan internasional yang berarti akan menenggalamkan dollar.

Memang ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi seperti yang saya sebutkan di atas. Bisa perang proxy, bisa perang dagang, dan bisa juga perang langsung antara Iran dan AS. Semua itu bisa saja terjadi tergantung perhitungan dan dampak untung rugi bagi Iran sendiri. Yang tidak mungkin dari itu semua bagi saya adalah bahwa syahidnya Mayor Jenderal Qassem Soleimani adalah rekayasa Iran dan AS seperti khayalan khilafer, wahabi dan para pendukung Raja Salman. Entah apa yang merasuki otak mereka sehingga pembunuhan yang nyata terjadi disebut sebagai rekayasa. Benar apa yang dikatakan oleh seorang cendikiawan dan saya melihat ini snagat cocok untuk para khilafer, wahabi, dan para pendukung Raja Salman”

“Jangan menaseati orang bodoh karena ia akan membencimu, tetapi nasehatilah orang pintar karena ia akan mencintaimu”.




Comments