KANKER ITU BERNAMA ISRAEL DAN AMERIKA SERIKAT


Jika ada yang menanyakan mengapa hingga saat ini kawasan Timur Tengah menjadi kawasan yang sangat mudah bergolak di dunia ini, mungkin ada beberapa pendapat yang muncul. Ada yang mengatakan jika memang watak bangsa Arab sebagai bangsa terbesar di Timur Tengah adalah bangsa yang memang memiliki riwayat perang antar sesama sejak zaman dahulu. Sehingga jika sekarang sesama bangsa Arab atau bangsa Arab dengan bangsa lain di Timur Tengah berperang maka itu bukanlah hal yang baru. Karena sudah turun temurun memang begitulah sifat orang Arab. Bagi saya jawaban seperti ini disimpulkan dalam kacamata yang sangat prematur dan cenderung terjebak pada kesalahan berpikir.

Saya mengatakan jika kesimpulan itu bersifat prematur dikarenakan kesimpulannya sangat terburu-buru. Bahwa menjadikan sejarah sebagai sebuah kesimpulan untuk sesuatu yang terjadi di masa sekarang itu sangat perlu dipertanyakan. Jika dahulu bangsa-bangsa di nusantara sering berperang dalam berbagai kondisi, apakah mereka sekarang juga mewarisi sifat seperti itu. Saya kira jawabannya adalah tidak. Begitu juga dengan menjadikan alasan masa lalu peperangan sesame bangsa Arab sebagai justifikasi apa yang terjadi sekarang. Dahulu bukan hanya bangsa Arab yang berperang. Bahkan bangsa lain peperangan mereka jauh lebih parah. Eropa yang berperang dengan sesama mereka. Ingat bagaimana Hitler di perang dunia ke II menjadi salah satu manusia paling kejam di dunia yang berasal dari Jerman. Apakah akan adil ketika menjadikan sejarah Hitler sebagai pembunuh yang sangat kejam di masa lampau, disematkan kepada seluruh bangsa Jerman. Tentu hal ini akan sangat sulit diterima. Itu belum termasuk dengan kekejaman bangsa Belanda di nusantara. Atau kekejaman yang dilakukan bangsa Turki terhadap bangsa Armenia. Jika bangsa Jerman, Belanda, dan Turki tidak adil dibebankan beban masa lampau mereka untuk generasi sekarang, seharusnya itu juga berlaku untuk bangsa Arab.

Selanjutnya kesimpulan dengan menjadikan masa lalu sebagai patokan untuk menilai masa sekarang adalah pemikiran yang terjebak di kesalahan berpkiri fallacy of retrospective determinism. Artinya kesalahan pengambilan kesimpulan dengan determinisme sejarah. Apa yang terjadi di masa lampau, tidak serta merta menjadi sesuatu kesimpulan yang terjadi di masa sekarang. Dalam logika Aristotelian dijelaskan bahwa sesuatu hanya sama dengan dirinya sendiri dan mustahil sama dengan sesuatu yang bukan dirinya. Sejarah masa lampau bangsa Arab hanya sama dengan peristiwa ketika itu dan mustahil sama dengan kejadian sekarang. Jika di zaman dahulu bangsa Arab memiliki riwayat peperangan yang panjang antar sesama, bukan berarti sejarah itu akan pasti terulang di masa sekarang. Jadi pemikiran seperti itu yang banyak disampaikan oleh para kaum orientalis sangat tidak bisa diterima sebagai pemikiran yang ilmiah.

Jadi pertanyaan sekarang, apa sebenarnya yang menyebabkan kawasan Timur Tengah selalu menjadi kawasan yang tidak stabil. Jika anda melihat sejarah pembentukan negara-negara modern di Timur Tengah, maka akan kita dapati bagaimana bangsa Arab ini terpecah dalam beberapa negara. Ada Suriah, Lebanon, Palestina, dan sebagian Yordania yang dahulu kita kenal sebagai daerah Syam. Ada juga Irak yang terkenal dengan sebutan negara 1001 malam. Di bagian selatan daerah Jazirah Arab atau Hijaz itu menjadi beberapa negara seperti Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Oman. Sedangkan di selatan Hijaz berdiri negara Yaman. Terpecahnya negara Arab ini sebagai warisan dari perang dunia ke II.

Sementara di tempat lain ada satu daerah di Palestina yang justru sekarang “tidak menjadi” negara Arab padahal berada di kawasan Arab. Negara ini adalah sebuah entitas zionis yang dibentuk pasca perang dunia ke II sebagai tanggung jawab moral kejahatan Hitler terhadap Yahudi Eropa di perang dunia ke II. Dengan propaganda bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan untuk bangsa Israel, maka berbondong-bondonglah para imigran gelap Yahudi dari berbagai negara ini masuk ke Palestina. Mereka dengan dukungan negara imprealis ketika itu seperti Inggris memaksakan mendirikan negara illegal di sebuah kawasan yang bahkan mereka tidak memiliki akar sejarah kepemilikan tanah disana. Mereka selalu menyebut diri mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan hanya karena pada saat pembentukan negara illegal ini, mereka menang perang beberapa kali dengan negara-negara Arab.

Jadi logika sederhanya seperti ini, jika anda mencuri seharusnya yang dihukum adalah anda dan bukan tetangga jauh anda. Jika Eropa dalam hal ini Jerman merasa bertanggung jawab terhadap perilaku Hitler kepada bangsa Yahudi Eropa di masa perang dunia ke II, maka seharusnya negara Israel dibentuk di Jerman sebagai pihak yang merasa bersalah. Bukan malahan melimpahkan kesalahan itu kepada bangsa Arab Palestina yang letaknya tidak berada di Eropa dan tidak terlibat dalam pembantain bangsa Yahudi di Eropa. Disinilah letak kerancuan pendirian negara zionis ilegal tersebut. Apakah merampok tanah seseorang adalah tindakan yang mencerminkan sebagai bangsa pilihan Tuhan. Bagi saya negara zionis Israel bukanlah negara yang didirikan sebagai negara bangsa pilihan Tuhan. Negara itu adalah kanker yang akan selau membuat destabilisasi kawasan Timur Tengah.

Setali tiga uang dengan Israel, Amerika Serikat dalam hal ini pemerintahannya adalah pihak yang memang selau menginginkan jika kawasan Timur Tengah menjadi tidak stabil. Dengan isu muruhan Sunni-Syiah, Arab-Persia, dan isu-isu lain, Amerika berhasil membuat beberapa negara Arab menjadi ketergantungan dalam segi keamanan. Hampir seluruh negara teluk memilik pangakalan militer Amerika termasuk Turki, dan ini justru membuat situasi Timur Tengah akan selalu dalam kondisi siap perang. Dan pihak yang paling diuntungkan disini jelas adalah Amerika. Apalagi dengan peristiwa baru-baru ini dengan wafatnya Jenderal Iran yaitu Qassem Soleimani maka Amerika akan kembali memprogandakan bahwa Iran yang identik dengan Syiah dan Persia adalah musuh bangsa Arab. Dan celakanya, banyak Negara arab yang termakan isu ini. Dan melupakan isu besar mereka untuk melenyapkan Israel dari Timur Tengah.

Apa yang dilakukan oleh Amerika di Timur Tengah dengan terus menghasut perang dan destabilisasi kawasan, adalah bukti bahwa mereka kanker selain Israel. Ibarat kanker, maka Amerika dan Israel harus dilenyapkan dari Timur Tengah. Israel seharusnya dibentuk saja di Jerman sebagai tanggung jawab moral pemerintah Jerman dan Eropa kepada bangsa Yahudi Eropa sebagai korban kekejaman Hitler. Sehingga kawasan Palestina akan aman. Begitu juga dengan Amerika yang seharusnya ditendang dari Timur Tengah. Yang menghancurkan Afghanistan adalah Amerika. Yang menghancurkan Irak dalah Amerika. Seharusnya bukti ini sudah cukup untuk dipahami oleh bangsa Arab bahwa Amerika itu dalam hal ini pemerintahannya bukanlah teman yang menjamin keamanan. Tetapi adalah kanker yang terus menggerogoti Timur Tengah sebagai ladang penjualan senjata mereka.




Comments