Muslim Uighur
dan Muslim Yaman adalah komunitas muslim yang sebenarnya secara geografis
sangat jauh dari Indonesia. Muslim Uighur berada dalam wilayah di Republik
Rakyat China yaitu di Xinjian, sedangkan Musim Yaman mendiami negara Yaman yang
terletak di Timur Tengah tepatnya di selatan Arab Saudi. Secara agama, kedua
komunitas ini tentu memiliki ikatan emosional yang cukup kuat dengan penduduk
Indonesia karena dilandasi persamaan agama mayoritas yang dianut.
Akhir-akhir ini
pemberitaan tentang Uighur banyak dperbincangkan karena dianggap disana terjadi
kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah China. Banyak pihak yang
menuding jika pemerintah China menciptakan kamp konsentrasi untuk menyiksa
etnis Uighur. Beritanya sangat masiv hingga sangat viral di media sosial.
Sedangkan perlakukan yang berbeda terjadi pada penderitaan muslim Yaman. Tidak
ada teriakan “save Yaman” atau “selamatkan Yaman”, padahal disana kejahatan
kemanusiaan juga terjadi. Sejak 2015, koalisi Arab Saudi dan sekutunya
memborbardir Yaman dengan alasan ingin mengembalikan kekuasaan presiden yaman
yang terguling yaitu Mansour Hadi. Ini tentu menjadi semacam tanda tanya besar,
mengapa isu Uighur sangat masiv didengungkan sedangkan isu Yaman seperti sunyi
senyap. Padahal Yaman juga mayoritas penduduknya beragama islam. Sama dengan
agama mayoritas yang dianut oleh etnis Uighur di xinjian. Mari coba kita lihat
mengapa terjadi ketidakadilan pemberitaan disini.
Yang pertama
adalah konstalasi global. Jadi jika dilihat secara umum, ada dua kubu yang
sekarang sedang mencoba melakukan hegemoni global. Yang pertama adalah kubu Amerika
Serikat (AS) dan sekutunya. AS bersekutu dengan para anggota NATO (Pakta
Pertahanan Atlantik Utara) di Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman. Kemudian
di Timur Tengah bersekutu dengan negara-negara teluk seperti Arab Saudi dan Uni
Emirat Arab, kemudian menjadi penyokong utama Israel, dan di Asia bersekutu
dengan Korea Selatan dalam melawan hegemoni nuklir Korea Utara, kemduian di Amerika
Latin mereka bersekutu dengan rezim kapitalis yang beberapa bulan lalu
mengkudeta Presiden Evo Morales di Bolivia.
Sedangkan pihak
lainnya adalah Rusia dan China. Rusia menjadi saingan AS dalam hegemoni
persenjataan sedangkan China menjadi lawan AS di bidang perdagangan. Sekutu
kedua negara dapat dilihat di Timur Tengah yaitu Suriah dan Iran, di Asia ada Korea
Utara, dan di Amerika Latin ada Kuba beserta Venezuela. Ini gambaran umum
bagaimana kedua kekuatan ini mencoba saling melakukan hegemoni. Walaupun kedua
pihak ini saling berseteru, melihat persaingannya harus dilihat secara
keseluruhan. Artinya ada keadaan dimana sekutu mereka bisa jadi melakukan
hubungan baik dengan lawan dari pihak mereka.
Kita bisa ambil
contoh bagaimana Arab Saudi yang menjadi sekutu utama AS di Timur Tengah, tetapi
tetap menjalin hubungan baik dengan Rusia dan China. Sama juga dengan keadaan Turki
di Eropa yang menjadi sekutu AS karena sesame anggota NATO, tetapi tetap
menjalin hubungan dengan Rusia, China dan Iran yang merupakan rival AS. Arab
Saudi dan Turki bahkan tidak terlibat dalam hegemoni yang menyudutkan China
dalam kasus Uighur. Walaupun para pecinta Salman dan Erdogan di negara ini
mengecam China untuk kasus Uighur. Sebenarnya jika lebih ingin lebih pintar,
fans Salman dan Erdogan di Indonesia harus melihat perseteruan ini dari
kacamatan oportunis. Dalam hegemoni global tidak ada lawan dan kawan yang
abadi.
Kembali ke
persoalan Uighur dan Yaman. Adanya ketidakimbangan pemberitaan sebenarnya dapat
dilihat dari latar belakang persaingan global seperti yang saya dijelaskan di
atas. Uighur seperti yang kita ketahui merupakan wilayah China. Jika dirunut ke
belakang akan kita temukan bahwa sebelum kasus Uighur kembali mencuat, ada
demonstrasi anti China di Hong Kong yang telah berakhir. Kasus Uighur dan Hong Kong
memiliki kesamaan hasil yang diharapkan yaitu adanya isu pelanggaran hak asasi
manusia (HAM) sehingga muncul sentimen anti China. Dan sangat jelas yang akan
diuntungkan dari peristiwa ini adalah AS.
Mengapa saya
katakan demikian. AS akan memporsir besar-besaran sebuah isu untuk menjatuhkan
saingan globalnya. Jika memang AS adalah polisi dunia dan pahlawan HAM, mengapa
mereka diam saja terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilaukan Saudi dan
koalisinya di Yaman. Apakah bangsa Yaman bukan manusia sehingga seenaknya saja
menjadi bahan percoabaan senjata Saudi. Apakah Yaman adalah negara yang
melakukan ekspansi ke Saudi sehingga Saudi berhak menyerang yaman. Dengan dalih
mencoba mengembalikan kekusaan Mansour Hadi, Saudi melaukan kejahatan kemanusiaan
di Yaman. Dan AS dan tentunya penggemar Salman sebagai raja Arab Saudi diam-diam
saja, sehingga duniapun diam-diam saja. Karena memang media sekarang sudah
dikuasai oleh amerika. Dan anehnya ini yang menjadi kiblat pemberitaan
masyarakat Indonesia kebanyakan.
Kemudian yang
kedua adalah penyebaran isu ini sesuai permintaan. Yang saya maksud adalah
bahwa tidak mungkin mereka yang selama ini memakan dana dari Saudi akan
memberitakan kekejaman tuannya. Sebejat apapun yang dilakukan oleh Saudi
terhadap rakyat Yaman, mereka tidak akan pernah menggugat. Mereka mungkin lupa
jika Yaman juga adalah bagian yang tidak terpisahkan dari umat islam. Apakah
Uighur islam dan Yaman bukan. Mereka juga lupa jika Yaman adalah bangsa Arab
yang notabene banyak habib berasal dari negeri itu. Tetapi pembelaan mereka
terhadap negeri asal habib ini tidak ada karena yang dibela bukanlah perjuangan
islam dan keturunan habib, melainkan perjuangannya adalah membela bani Saud,
penguasa kerajaan Saudi. Jadi sangat jelas motif mereka melakukan pembelaan,
sehingga harusnya kita memunculkan kritisme terhadap mereka yang begitu kencang
melakukan pembelaan Uighur tetapi diam-diam saja terhadap kekejian Saudi kepada
rakyat Yaman. Selain itu kita juga harus hati-hati dengan mereka yang meminta
donasi di aksi pembelaan Uighur. Jangan sampai uang anda disalahgunakan untuk
kepentingan mereka saja.
Terakhir adalah
bahwa isu Uighur sebenarnya sudah jelas. NU sesuai kunjungan mereka kesana,
telah menjelaskan bahwa tidak ada kejahatan kemanusiaan yang terjadi disana. Yang
disebutkan sebagai kamp konsentrasi sebenarnya adalah tempat untuk melakukan
deradikalisasi. Artinya tempat ini dibangun dengan tujuan untuk melawan arus radikalisasi,
kasusnya sama dengan di Indonesia. Radikalisasi adalah momok yang memang harus
dilawan. Bahkan anggota teroris Santoso di Poso, ditemukan jika mereka memiliki
anggota dari etnis Uighur. Selain itu, pemerintah China juga menghadapi
gerakan-gerakan separais disana. Sama dengan OPM disini, sehingga sangatlah
wajar jika mereka melakukan tindakan tegas. Adalah wajar jika setiap negara
berhak mempertahankan kedaulatan negaranya. Kebebasan beragama disana sangat
dijamin. Bukan hanya etnis Uighur, bahkan umat islam dari etnis lain seperti
etnis Hui yang merupakan etnis muslim terbesar dan etnis Han, mereka bebas
beribadah. Yang ditindak adalah perbuatannya, yaitu terorisme dan separatisme
dan bukan agamanya. Sehingga jangan mudah terpancing oleh pemberitaan,
lebih-lebih jika pemberitaan itu disebarkan oleh akun biasa yang tidak
terverifikasi kebenarannya.

Comments
Post a Comment