Dari sebuah ceramah Gus
Muwafik yang menyebut Nabi Muhammad SAW itu mengalami rembes (dekil) ketika
masih kecil, menyulut protes dari sebagian kalangan yang menyebut diri mereka
sebagai pecinta Nabi Muhammad SW. Tak lupa mereka menyuarakan semacam tanda
pagar “kami bersama Nabi Muhammad”. Bahkan di Solo, Jawa Tengah ada sekelompok
orang yang melakukan demo mengenai kasus Gus Muwafik ini. Sebenarnya Gus Muwafik
sendiri telah menyampaikan permohonan maaf perihal kasus ini. tetapi sebagian
kelompok ini masih terus mempermasalahkan ucapan Gus Muwafik yang dinilai telah
menghina Nabi Muhammad SAW. Bahkan salah satu organisasi telah melaporkan Gus
Muwafik ke pihak kepolisian dengan tuduhan kepada penghinaan Nabi Muhammad SAW.
Jika melihat latar
belakang Gus Muwafik, beliau adalah seorang pendakwah dari kalangan Nahdlatul
Ulama (NU). NU seperti yang kita ketahui adalah organisasi islam tradisional
yang sangat menjunjung tinggi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan
keluarganya. NU adalah salah satu organisasi islam yang selalu melaksanakan
maulid sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan syiar islam. NU
juga sering melaksanakan peringatan milad yaitu hari kelahiran dan haul yaitu
hari kematian baik itu keturunan Nabi Muhammad SAW maupun para wali penyebar
agama islam. NU juga meyakini ajaran tabarruk yaitu mengambil berkah kepada
mereka yang dianggap keturunan Nabi Muhammad SAW yang berakhlak mulia maupun
para wali penyebar agama islam. NU seperti kelompok islam tradisional lainnya
adalah organisasi yang menjalankan itu semua dan tentu sangat beririsan dengan
kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan para keluarganya. Lantas mengkinkah
seorang Gus Muwafik sebagai salah satu pendakwah dari NU melakukan penghinan
kepada Nabi Muhammad SAW.
Betul bahwa seorang Gus
Muwafik hanyalah manusia biasa yang pasti akan melakukan kesalahan. Ceramah
beliau yang dianggap menghina itu lebih menjelaskan keadaan Nabi Muhammad SAW
ketika masih kecil. Bukankah Nabi Muhammad SAW juga memiliki sisi Al Basyar
yang dalam artian secara fisik beliau SAW tidak jauh beda dengan manusia pada
umumnya. Beliau SAW juga mengalami lapar, mengalami haus, mengalami kedinginan,
memiliki tangan, memiliki kaki, akan mengalami sakit dan keadaan beliau ketika
masih kecil pasti memiliki ciri umum seperti yang dipunyai oleh manusia pada
umumnya. Jadi lantas ketika ada yang menyamakan beliau SAW dari dimensi Al Basyar
di waktu kecil dengan manusia pada umumnya, apa yang harus dipermasalahkan.
Tetapi apapun itu
ceramah Gus Muawafik telah membuat sebagian orang mempermasalahkannya. Ada yang
memang mempermasalahkan karena pengetahuan yang minim, dan ada juga yang
mempermasalahkan karena memang ingin menyulut konflik. Bagi yang memiliki
pengetahuan yang minim mereka mungkin tidak paham jika Al Quran dalam menyebut
manusia itu menggunakan tiga kata. Yaitu Al Basyar dalam aspek bilogis manusia,
kemudian Al Nas dalam aspek sosiologis manusia, dan Al Insan dalam aspek
spiritual manusia. Dalam aspek Al Basyar dan Al Nas, setiap manusia memiliki kecenderungan
yang sama pada aspek ini. Semua manusia akan berinteraksi satu dengan lainnya. Entah
itu bercakap, berbincang, berdiskusi, maupun melakukan kegiatan secara
bersama-sama. Inilah yang dimaksud aspek Al Nas. Kemudian setiap manusia mengalami
fase pertumbuhan dan perkembangbiakan dan inilah yang dimaksud aspek Al Basyar.
Termasuk Nabi Muhammad SW mengalami fase ini. Bukankah Allah SWT berfirman:
“ Dan diantara
tanda-tanda kekuasanNya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian
tiba-tiba kamu (menjadi) manusia (basyar) yang berkembang biak.” (QS Al Rum : 20)
Jadi apakah sisi Al
Basyar Nabi SAW akan dinafikan padahal jelas bahwa beliau juga adalah manusia
yang akan mengalami fase pertumbuhan dan perkembangbiakan seperti manusia pada
umumnya. Inilah pentingnya memahami agama menggunakan akal. Jika agama tidak
dipahami dengan menggunakan akal, maka agama hanyalah menjadi doktrin. Kita
memiliki iman tetapi sebenarnya buta, sehingga kita tidak akan mampu melihat
dengan benar karena tidak adanya peran akal dalam membantu memahami sesuatu.
Sedangkan mereka yang
mempermasalahkan karena ingin menyulut konflik, mereka memahami bahwa ada yang
beragama doktrin yaitu tidak memaksimalkan fungsi akalnya, maka akan dengan
mudah disulut kebenciannya hanya dengan menggunakan simbol agama. Di kasus Gus Muwafik
ini, walaupun beliau sudah minta maaf tetapi kasus ini terus digoreng terus
menerus. Karena memang sasarannya adalah mereka yang beragama doktrin dan minim
pengetahuan akan agama.
Mereka mungkin lupa bahwa
yang kontra dengan Gus Muwafik adalah mereka yang diam saja ketika Nabi
Muhammad SAW dilecehkan oleh penceramah EE dengan mengatakan beliau SAW pernah
dalam keadaan sesat. Apakah EE ini lupa bahwa tidaklah Nabi Muhammad SAW
berkata selain wahyu yang diwahyukan (QS An Najm :3-4). Artinya seluruh
perkataan Nabi Muhammad SAW adalah wahyu dan dengan lancangnya EE mengatakan
beliau SAW pernah sesat. Mungkin lebih tepatnya adalah EE yang pernah berada
dalam keadaan sesat karena melecehkan Nabi Muhammad SAW. Dan anehnya yang
kemarin mendemo Gus Muwafik sama sekali tidak bereaksi dalam kasus ini. Ini
cinta kepada Nabi Muhammad atau cinta sama EE.
Mereka juga yang diam
ketika AS mengatakan Nabi Muhammad SAW tidak bisa mewujdukan Rahmatan Lil
Alamin hingga tegaknya khilafah. Memang benar AS sudah melakukan klarifikasi
tetapi dia sama sekai tidak menjelaskan secara mendetail ayat yang menunjukkan
Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lil alamin (QS Al Anbiya : 107).
Apakah ucapan AS lebih dipercaya ketimbang penjelasan ayat Al Quran. Terus sama
dengan kasus EE, para pemrotes Gus Muwafik sama sekali tidak bereaksi padahal
jelas kerahmatan lil alamin Nabi Muhammad SAW ditolaknya hingga tegaknya
khilafah.
Bahkan mereka yang
seperti tidak tersinggung ketika KHB mengatakan orang tua Nabi Muhammad SAW masuk
neraka. Aneh bin ajaib. Padahal Imam Al Razi dalam tafsirnya pada Al Baqarah
ayat 124 tentang permohonan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT untuk menjadikan
keturunannya sebagai imam bagi seluruh umat manusia mengatakan jika doa beliau AS
telah dikabulkan. Sehingga dari keturunnya lahir pemimpin seperti Nabi Ismail AS,
Nabi Ishak AS, Nabi Isa AS, hingga Nabi Muhammad SAW. Apakah mungkin nabi
Muhammad SAW berasal dari orang tua penghuni neraka sementara beliau adalah
keturunan Nabi Ibrahim AS. Bukankah doa beliau AS telah dikabulkan sehingga
sangat tidak masuk akal jika Nabi Muhammad SAW yang berasal dari keturunan yang
telah dijamin menjadi pemimpin berasal dari orang tua penghuni neraka. Ingat,
doa nabi Ibrahim AS tidak akan dikabulkan bagi mereka yang melakukan kezaliman.
Apakah kedua orang tua Nabi Muhammad SAW pernah melakukan kezaliman. Logikanya
adalah jika kedua orang tua beliau SAW pernah melakukan kezaliman, maka nabi
terakhir tidak berasal dari keturunan Abdullah dan Aminah sesuai dengan janji
Allah SWT kepada Nabi Ibarhamin AS.
Dan apakah ada nada
protes dari mereka yang mengaku sebagai pecinta nabi. Jawabannya tentu tidak
ada. Mengapa tidak ada karena memang yang dicintai bukan Nabinya. Bahkan
embel-embel kecintaan kepada nabi hanya dijadikan sebagai tameng. Dan tentu
organisasi tradisional seperti NU dan lainnya yang sejalan dengan NU yang
menjadi sasaran mereka. NU secara organiasi adalah garda terdepan dalam membela
pancasila dan NKRI. Sehingga kita akan paham mengapa mereka begitu gigih
menyerang NU maupun organisasi lain yang sejalan dengan NU.
Jadi masih pantaskah
mereka dipercaya berbuat atas dasar kecintaan kepada Nabi. Bagi saya cinta yang
tebang pilih adalah cinta palsu. Dan karena palsu maka cinta mereka sebenarnya
sama sekali tidak bernilai.

Comments
Post a Comment