Membicarakan
tentang Supersemar berarti melangkahkan jauh pikiran kita untuk menapak tilas
salah satu momen sejarah paling kelam bangsa Indonesia di tahun 1965. Proses
napak tilas ini bukan ditujukan untuk mengorek luka lama yang oleh beberapa
kalangan disebut sudah tidak relevan lagi untuk dibahas karena hanya akan
memecah belah persatuan bangsa. Proses napak tilas ini dilakukan sebagai bahan
pembelajaran mengenai sebuah peristiwa penting yang mengiringi perjalanan bangsa
Indonesia. Bukankah Bung Karno pernah berujar seperti ini, “Jangan sekali-kali
melupakan sejarah” atau yang lebih dikenal dengan istilah “Jasmerah”. Selain
itu ada juga pepatah bijak yang berbunyi, “Pengalaman adalah guru yang paling
berharga”. Peristiwa masa lampau dapat digunakan sebagai contoh pembelajaran
bagaimana kita melangkah ke depannya agar hal-hal buruk yang terjadi di masa
lampau dapat kita hindari sehingga tidak terjadi di masa kini dan yang akan
datang.
Kelahiran
Supersemar sendiri memiliki kaitan yang sangat penting dengan peristiwa G30S.
Pasca peristiwa yang menggemparkan publik nasional dan internasional ini,
lahirlah apa yang dinamakan Surat Perintah Sebelas Maret atau yang biasa
disingkat Supersemar. Banyak kontroversi yang mengiringi perjalanan keluarnya
surat perintah yang menjadi cikal bakal perubahan kekuasaan dari orde lama ke
orde baru ini baik itu berupa intrik politik maupun tindakan-tindakan tidak
terduga lainnya. Cikal bakal inipun yang telah berhasil mengubah kebijakan umum
bangsa Indonesia selama hampir 32 tahun, dari semula kedekatan Indonesia dengan
negara-negara non blok maupun negara-negara sosialis menjadi kedekatan dengan
negara-negara Barat maupun negara-negara kapitalis.
Berikut
beberapa kontroversi yang berkaitan dengan surat sakti tersebut. Yang pertama
adalah tentang keotentikan Supersemar itu sendiri. Menurut sejarawan Asvi Warman
bahwa naskah otentik Supersemar hingga kini masih dipertanyakan. Walaupun Lembaga
Arsip Negara Republik Indonesia menyimpan 3 versi naskah Supersemar, namun ketiganya
bukanlah naskah otentik. Hal inipun memantik perdebatan panjang di mana
sesungguhnya Supersemar itu berada. Padahal seperti yang kita ketahui,
Supersemar lah yang menjadi acuan Soeharto dan MPRS ketika itu untuk melucuti
kekuasaan Bung Karno hingga menggulingkannya pada 7 Maret 1967.
Selanjutnya
yang kedua adalah bahwa Bung Karno yang ketika itu menjabat sebagai Presiden Republik
Indonesia menanadatangi Supersemar di bawah tekanan. Menurut ajudan Bung Karno yang
bernama Soekardjo Wilardjito, beliau menerima Supersemar dalam keadaan ditodong
pistol FN 46 oleh seorang petinggi dari TNI Angkatan Darat yang bernama Jenderal Maraden Panggabean.
Pada saat itu keadaan sempat memanas dan hampir mengakibatkan terjadinya tembak
menembak antara Soekardjo dengan Maraden. Tetapi berkat jiwa kenegarawanan Bung
Karno, beliau memilih untuk mengalah dan menandatangani surat itu demi mencegah
pertumpahan darah yang berlarut-larut. Tetapi dengan catatan jika keadaan
keamanan dan ketertiban telah terkendali, maka surat tersebut harus
dikembalikan kepadanya. Walaupun setelahnya hal itu tidak pernah dilakukan oleh
Soeharto selaku penerima mandat Supersemar.
Yang
ketiga adalah Supersemar seperti jebakan yang dibuat untuk tujuan penggulingan Bung
Karno dari tampuk kekuasaannya. Seperti yang kita ketahui jika sebuah naskah
ditandatangani oleh presiden harus memakai lambang garuda pancasila di naskah
tersebut sehingga menandakan bahwa itu adalah diktum kepresidenan. Tetapi
supersemar ini memiliki cerita yang berbeda. Supersemar yang ditandatangani
oleh presiden ini tidak memiliki lambang garuda pancasila seperti pada umumnya melainkan
memiliki kop Mabes TNI Angkatan Darat yang menandakan jika naskah ini diktum
militer. Kejanggalan seperti ini membuat muncul berbagai persepsi.
Kontroversi
selanjutnya adalah puncak dari tujuan ditekannya Bung Karno untuk
menandatangani sehingga dikeluarkannya Supersemar ini. Ternyata bahwa
Supersemar ini diperuntukan sudah tidak sesuai dengan isi suratnya sehingga ada
penyalahgunaan wewenang. Bagi Bung Karno, Supersemar adalah perintah
pengendalian keamaman dan ketertiban, termasuk keamanan presiden, keluarga, dan
ajaranyya. Bung Karno juga menekankan bahwa surat ini bukanlah transfer of
authority atau pengalihan kekuasaan. Sedangkan
Soeharto menggunakan Supersemar ini untuk melakukan tindakan-tindakan yang
dianggapnya perlu dalam rangka menjaga kemanan dan ketertiban seperti membubarkan
PKI, menangkapai 15 menteri kabinet Dwikora, memulangkan anggota pengawal
presiden yaitu pasukan Tjakrabirawa, dan mengontrol media massa di bawah puspen
TNI.
Beberapa
tindakan ini memang memperlihatkan adanya tindakan yang tidak terkontrol dan
melampaui wewenang dari Soeharto. Mulai dari pembubaran politik yang merupakan
wewenang presiden ketika itu padahal ia bukanlah seorang presiden, menangkapi
15 menteri kabinet Dwikora bentukan presiden dengan semena-mena hanya
dikarenakn para menteri itu adalah loyalis Bung Karno, memulangkan pasukan
Tjakrabirawa yang merupakan pasukan pengawal presiden padahal ia tidak memilik
wewenang itu, hingga menjadikan puspen TNI sebagai corong pengendalian media
massa padahal sekali lagi jabatannya hanyalah penerima mandat untuk memulihkan
keamanan dan ketertiban. Dan berselang setahun kemudian, Soeharto lewat dalih
Supersemar ini berhasil melakukan “kudeta merangkak” dengan menjungkalkan
kekuasaan Bung Karno dari posisi sebagai presiden.
Pasca
digulingkannya Bung Karno lewat drama Supersemar ini, Soeharto terus melakukan
pembalasan politik terhadap proklamator bangsa Indonesia ini. Soeharto seperti
lupa sumbangsih Bung Karno untuk republik ini sehingga memperlakukannya seperti
tahanan politik yang berbahaya. Dimulai dari menjadikan Putra Sang Fajar ini sebagai
tahanan rumah di Wisma Yasoo yang dulunya merupakan kediaman salah satu istrinya
yang bernama Ratna Sari Dewi. Di tempat ini beliau dilarang untuk menemui tamu.
Selain itu beliau juga dilarang untuk bertemu dengan keluarga dekat dan teman
dekatnya. Bahkan yang lebih parah beliau dilarang untuk membaca koran dan
mendengarkan radio. Sehingga memuncul persepsi jika pemerintahan orde baru
seperti menyembunyikan Bung Karno dari dunia luar atau dengan kata lain
melakukan tindakan isolasi.
Kemudian
pemerintah orde baru tidak pernah peduli dengan kondisi kesehatan Bung Karno. Selama
menjalani tahanan rumah, Bung Karno mengalami sakit ginjal dan rematik yang
diakibatkan rendahnya pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh orde baru
terhadap pendiri bangsa Indonesia ini. Bung Karno yang seharusnya mendapatkan
pemeriksaan oleh tim dokter kepresidenan, tidak dipenuhi oleh pemerintahan orde
baru. Apakah begitu jahatnya seseorang yang bernama Soekarno itu di mata
penguasa orde baru. Bung Karno yang hampir seluruh hidupnya digunakan untuk
membangun bangsa ini justru mengalami tindakan semena-mena dari rezim orde baru
di akhir hayatnya. Padahal jika rezim diktator ini tidak sanggup merawat Bung
Karno, maka harusnya ia dikembalikan kepada keluarganya sehingga mendapatkan
perawatan yang layak demi menyembuhkan penyakit yang ia derita. Tetapi rezim
orde baru tidak bergeming padahal mengembalikan Bung Karno kepada pihak
keluarga bukanlah perkara yang sulit untuk dilakukan kecuali ada ketakutan dari
rezim orde baru akan perihal wibawa Bung Karno ketika bersama dengan rakyatnya.
Bukan hanya pada saat meninggal, kebencian orde baru
terhadap Bung Karno masih dipelihara pasca beliau meninggal. Orde baru menolak Bung
Karno dimakamkan di kawasan Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat sebagaimana pesan
beliau sebelum meninggal. Dan justru oleh orde baru beliau dimakamkan di Blitar,
Jawa Timur dengan alasan Bung Karno sangat dekat dengan ibunya pada saat dahulu
tinggal di Blitar. Padahal alasan sesungghunya dari orde baru yang menolak
memakamkan Bung Karno di Bogor tidak lain karena persoalan kedakatan
geografisnya dengan Jakarta. Sehingga ditakutkan karena lokasi yang sangat
dekat dengan Ibu Kota Negara, makan Bung Karno nantinya apabila sering
dikunjungi oleh peziarah maka akan memantik kembali jiwa-jiwa revolusi para
soekarnois dan pendukungnya. Dan itu alarm berbahaya bagi kekuasaan orde baru
apalagi Bogor adalah wilayah yang sangat dekat dengan Jakarta.
Orde baru juga tidak hanya memperlakukan Bung Karno
seperti itu, bahkan para soekarnois pun terkena imbasnya. Orde baru memandang
para soekarnois itu sangat berbahaya, seperti berbahanya dengan PKI. Walaupun
hal ini bukanlah alasan utama karena alasan sesungguhnya adalah kebangkitan
soekarnois yang ditakutkan dapat menggoyang kekuasaan rezim orde baru. Orde
baru banyak melakukan pembunuhan terhadap para soekarnois yang umumnya dikenal
dengan istilah penembak misterius (petrus).
Setelah melihat perjalanan Supersemar dan perjalanan
setelahnya, maka mari menjadikannya sebagai pengetahuan sejarah yang
menjelaskan bahwa lewat surat itulah awal dari peralihan rezim dari orde lama
ke orde baru yang menjadi awal malapetaka bangsa ini. Rezim yang didirikan
dengan tipuan dan di atas darah sesama anak bangsa ini banyak melakukan
tindakan semena-mena demi melanggengkan kekuasaan. Sehingga imbasnya selama 32
tahun rezim ini banyak melakukan pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan
tanpa ada kekuatan yang bisa melawannya. Dan jadikanlah ini sebagai
pembelajaran politik sehingga tipu-tipuan dan pembantaian sesama anak bangsa
tidak lagi dilakukan.

Comments
Post a Comment