Banyak
yang menyebutkan bahwa konflik Suriah yang dimulai pada tahun 2011 bermula dari
adanya demonstrasi damai yang dilakukan oleh sekelompok warga Suriah yang menuntut
reformasi kebijakan pemerintahan tetapi ditanggapi dengan kekerasan. Hal inilah
yang menjadi pemicu awal perlawanan bersenjata kepada Bashar Al Assad. Apalagi
ditambah dengan gelombang Arab Spring pada saat itu yang telah berhasil
menggulingkan Hosni Mubarak di Mesir dan Ben Ali di Tunisia. Tetapi sebenarnya
ada hal lain yang menjadi pemicu konflik yang berkepanjangan ini. Logika
sederhananya seperti ini. Jika mengambil patokan dari Arab Spring yang terjadi
di Mesir dan Tunisia, maka seharusnya Assad telah tumbang tanpa harus mengimpor
para jihadis dari berbagai negara jika memang Assad tidak dicintai rakyatnya.
Padahal konflik yang telah memasuki tahun ke 8 ini sama sekali tidak
menggoyahkan kepemimpinan Assad. Bahkan di tengah konflik yang terjadi, assad
memenangkan pemilu presiden dengan suara di atas 70%.
Jadi
sebenarnya bukan tentang kebijakan Assad yang tidak pro terhadap rakyat Suriah
sehingga menimbulkan demonstrasi yang berujung pada pemberontakan. Bahkan Assad
sesungguhnya di dalam menghadapi tuntutan para demonstran telah melakukan
berbagai perubahan kebijakan seperti adanya batasan masa jabatan presiden hanya
maksimal 2 periode, seorang presiden boleh berasal dari luar partai baath, dan
terkahir mencabut beberapa undang-undang yang dinilai melanggar HAM. Dan
kenyataannya konflik ini terjadi akibat adanya penolakan Assad terhadap
keinginan Turki dan Qatar terkait pembuatan pipa gas dari Qatar menuju Turki
dan melewati Suriah. Dan untuk lebih jelasnya silakan lihat bagaimana letak
geografis antara Suriah, Turki, dan Qatar.
Pada
tahun 2011 setelah Bashar Al Assad menolak proposal Turki untuk membangun pipa
minyak dan gas alam, sehingga Turki beserta sekutunya menjadi “arsitek utama
dari konflik Suriah”. Jika proposal pipa gas itu jika diwujudkan maka akan
memangkas pasokan gas dari Rusia ke Eropa yang selama ini didominasi oleh
perusahaan gas Rusia Gazprom. Sementara sebagai jawaban atas keinginan Qatar
dan Tukri, Suriah bersama Iran dan Irak justru membahas pembangunan jalur pipa
migas yang rencananya akan dimulai antara 2014 dan 2016 dari ladang minyak Iran
di South Pars melalui Irak lalu ke Suriah. Jika itu terwujud maka jalur pipa
migas itu akan dengan mudah diperpanjang ke Libanon dan dengan demikian
mencapai Eropa, sebagai target pasar.
Penghancuran
Suriah pun akhirnya dimulai. Pada 2011 para pemimpin oposisi yang mempelopori
gerakan demosntrasi ini membantuk Syrian National Council (SNC). Dan pada 2012,
negara-negara yang memang pada awalnya menginginkan pergantian rezim di Suriah
seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Qatar dan Arab Saudi bersama Turki
mulai membentuk, mempersenjatai, dan memfasilitasi para pemberontak yang
umumnya dari tentara yang membelot ini maupun jihadis-jihadis asing untuk
membentuk Free Syrian Army (FSA). Hubungan antara SNC dan FSA bersifat saling
menguntungkan. SNC merupakan lembaga yang bekerja untuk mencari dana bagi
kegiatan dari FSA. Selain FSA, kelompok pemberontak lainnya adalah Jabhat Al
Nusra yang berafiliasi dengan gerakan Hizbut Tahrir. Kelompok ini banyak
mendatangkan jihadis dari berbagai negara dan bahkan pada November 2012, Jabhat
Al Nusra mendeklarasikan Khilafah di Suriah. Seiring berjalanya waktu, kelompok
Jabhat Al Nusra pecah dengan sebagian dari mereka mendirikan ISIS.
Para
negara yang mensponsori pemberontakan di Suriah ini memang memiliki kepentingan
yang besar untuk penggulingan Assad. Amerika Serikat (AS) memiliki kepentingan
penggulingan Assad demi kepentingan Israel. Sebagai kakak yang baik tentu
melindungi adiknya. Begitulah yang harus dilakukan oleh AS terhadap kepentingan
Israel di Timur Tengah. Seperti yang kita ketahui, Suriah menjadi satu-satunya
negara arab yang berperang langsung dengan Israel dan hingga saat ini belum
menandatangani perjanjian damai. Walaupun dengan konsekuensi daerahnya yaitu Dataran
Tinggi Golan hingga saat ini masih dicaplok oleh israel. Selain itu sebagai
negara pendukung gerakan perlawanan baik itu Hizbullah di Lebanon maupun Hamas
di Palestina, Assad begitu penting untuk dilengserkan demi keamanan dan rencana
besar Israel di Timur Tengah. Apalagi dengan jatuhnya Irak ke dalam pengaruh Iran,
maka poros perlawanan telah terbentuk. Mulai dari Iran, ke arah barat di Irak,
terus ke Suriah, kemudian ke Lebanon Selatan, dan berakhir di Palestina. Hal
inilah yang sangat dikhwatirkan oleh Israel.
Selain
kepentingan Israel, sepak terjang AS di dalam rangka mendestabilisasi Suriah
menggandeng pihak Kurdi. Seperti yang ketahui, Kurdi sebagai sebuah bangsa yang
besar dan tercerai berai di beberapa negara sangat mendambakan sebuah negara
yang independen. Sentimen inilah yang dimanfaatkan oleh AS untuk membujuk Kurdi
melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan pusat di Damaskus. Kurdi pun
menyanggupi dengan memerangi pemerintahan pusat hingga sebagian daerah utara Suriah
berada di bawah kontrolnya. Rencana ini awalnya berhasil bahkan ditandai dengan
berhasilnya tentara Kurdi yang tergabung di Syrian Defence Force (SDF)
menguasai sebagian utara Suriah yang didiami mayoritas Kurdi. Kemudian langkah
keberhasilan berikutnya adalah berhasil mengalahkan ISIS. Tetapi kemudian karena
perbedaan pandangan antara AS dan Turki mengenai Kurdi, maka AS pun perlahan
mengambil sikap aman terhadap sekutu NATO nya ini dan mulai mengambil jarak
dengan Kurdi. Walaupun sebenarnya menurut laporan intelijen Rusia di tahun 2016
bahwa dalang percobaan kudeta terhadap Presiden Erdogan pada bulan Juli 2016
adalah AS sendiri sekaitan dengan masalah Kurdi dengan pemerintahan Turki.
Qatar
dan Turki juga berkepentingan terhadap pergantian rezim guna pembuatan pipa gas
yang sbelumnya ditolak oleh Assad. Sehingga terjadinya pergantian rezim
diharapkan menjadi titik awal pembangunan pipa gas ini. Apalagi bagi Turki
sendiri sebagai tetangga Suriah, penggulingan rezim Assad sangat bisa dilakukan
dengan melihat faktor geografis. Halaman belakang Turki yang banyak berbatasan
dengan Suriah memungkinkan untuk berbagai jihadis dari berbagai negara masuk ke
Suriah lewat jalur Turki. Terbutki hingga kini, FSA yang merupakan didikan
langsung Turki banyak menguasai daerah utara Suriah yang berbatasan langsung
dengan Suriah dan bahkan digandeng oleh Turki di dalam menginvasi wilayah Afrin
di Utara Suriah yang mayoritas Kurdi walaupun daerah itu masih menjadi teritori
negara Suriah. FSA dan afiliasinya jugalah yang banyak melakukan propaganda ke
seluruh dunia untuk meminta dukungan dana maupun persenjataan. Baik itu
berkedok donasi untuk bantuan rakyat Suriah yang ternyata digunakan oleh
pemberontak FSA dan afiliasinya, maupun lewat demo-demo yang diharapkan mampu
membentuk opini masyarakat bahwa Assad itu kejam.
Dan
bagaimana dengan Arab Saudi sendiri. Kepentingan Arab Saudi di dalam konflik Suriah
lebih dilihat dari perang pengaruh dengan Iran sebagai rival di kawasan. Arab
Saudi melihat bahwa pengaruh Iran yang membentang dari Irak, Suriah, Lebanon, Palestina,
Bahrain, hingga Yaman adalah alarm yang sangat berbahaya. Hampir semua daerah
yang menjadi sekutu Iran menjadi lawan bagi sekutu Saudi. Kita lihat bagaimana Iran
di Yaman yang mendukung gerakan Ansharullah berbanding terbalik dengan Arab Saudi
yang mendukung presiden yang telah mengundurkan diri Mansour Hadi. Hal yang
sama terjadi dengan rezim al khalifah di Bahrain yang didukung oleh Saudi
bertolak belakang dengan dukungan Iran terhadap pemrotes damai di Bahrain.
Begitupun dengan di Lebanon dan Palestina. Walaupun sebenarnya ketakutan Saudi ini
sangat tidak berdasar dan terkesan mengada-ada.
Selain
mereka yang punya kepentingan untuk mendestabilisasi Suriah, beberapa pihak
juga sangat berkepentingan untuk kelangsungan pemerintahan Assad. Seperti Rusia
yang begitu gigih membela Assad. Jika dilihat lebih luas lagi, konflik di Suriah
juga memperlihatkan adanya perang proxy anatara Rusia sebagai sekutu Assad
melawan AS sebagai pendukung pemberontak. Rusia berkepentingan untuk tetap
menjadikan Assad sebagai sekutu guna kembali melebarkan pengaruh di Timur Tengah
pasca runtuhnya Uni Sovyet. Pengalaman tumbangnya rezim Khadafi di Libya juga telah
menjadi pelajaran yang serius bagi Moskow sehingga pemerintahan Assad akan
dipertahankan mati-matian oleh Rusia.
Iran
juga memiliki kepentingan untuk mempertahankan rezim Assad di Suriah sebagai
penjamin jalur gerakan perlawanan yang tidak terputus sehingga target utama
mereka yaitu Israel tetap dalam jangkauan. Posisi Suriah juga sangat
berpengaruh dalam suplai bantuan persenjataan kepada gerakan Hizbullah di Lebanon
Selatan yang merupakan lawan Israel di dua peperangan sebelumnya baik di tahun
2000 maupun di tahun 2006. Sedangkan Cina sebenarnya tidak terlalu peduli siapa
yang akan menjadi presiden di Suriah. Tetapi untuk saat ini guna menghadap
hegemoni AS di Timur Tengah seperti yang dilakukan Rusia, maka pilihan terbaik
adalah mempertahankan rezim. Karena ditakutkan jika rezim Assad tumbang, maka
mereka yang mengisi posisi pemerintahan selanjutnya adalah mereka yang pro AS
dan itu sangat tidak menguntungkan bagi Cina.
Jadi
sangat jelas bahwa konflik di Suriah ini sebenarnya tidak lebih dari sebuah
konflik politik dan ekonomi serta bukan konflik sektarian. Konflik kepentingan
antara pihak yang tidak sepakat dengan pemerintahan Bashar Al Assad dalam hal
ini pemberontak baik itu FSA, ISIS, SDF, maupun Jabhat Al Nusra melawan
pemerintahan sah Suriah. Konflik ini juga adalah konflik multinasional yang
melibatkan banyak kepentingan negara-negara asing. Iran, Rusia, Cina, dan Hizbullah
Lebanon di satu pihak sedangkan di pihak lainnya ada AS, Saudi, Turki dan
Qatar. Sehingga jika ada penceramah yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang
konflik Suriah kemudian membahas masalah Suriah bahkan hingga melaknat presiden
Assad, maka hal itu tidak lebih dari kesimpulan yang prematur dan terkesan
dipaksakan saja demi meraih simpati dan popularitas di tengah minimnya literasi
pengguna sosial media di negeri ini.
Sunni,
syiah, druze, yazidi, hingga kurdi sedari Assad menjabat sebagai presiden Suriah
pada tahun 2000 tidak mengalami kendala apa-apa. Bahkan demokrasi berjalan
dengan baik yang ditandai dengan adanya pemilihan umum, konsep negara yang
sekuler, hingga menjadi percontohan negara sosialis di tanah arab yang semuanya
itu tidak terdapat di Arab Saudi dan Qatar sebagai negara monarki yang mencoba
untuk memperkenalkan HAM kepada Suriah. Suriah pun mengajari Turki bagaimana
memperlakukan minoritas Kurdi yang oleh presiden Erdogan disebut sebagai
kelompok separatis. Selain itu presiden Erdogan harusnya belajar dari Suriah
bagiamana menjadi sahabat sejati Palestina. Mulai dari menjadi negara penampung
terbesar pengungsi Palestina, menjadi pendukung gerakan perlawan Hamas di saat
negara-neagara Arab tidak mau menerimnya, hingga keberanian Assad menyerukan
negara-neagra islam dan Arab untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.
Dan Erdogan tidak dapat melakuka satu hal pun yang telah dilakukan Assad untuk
Palestina. Sehingga jika ada yang mengatakan bahwa Erdogan adalah pemimpinnya
kaum muslim sedunia, maka itu tidak lain hanyalah fantasi belaka. Bagaimana
mungkin mau dijadikan pemimpin dunia islam ketika ia berteman dengan zionis Israel
pembunuh warga muslim Palestina.
Jadi
seharusnya, Turki dan Arab Saudi menyudahi petualngannya di suriah. Karena jika
hal ini terus dilakukan, maka musuh utama sebenarnya yaitu zionis dapat
bersantai-santai ria melihat sesama negara muslim saling membantai. Dan tanpa
disadari rezim zionis Israel terus mengambil tanah warga Palestina. Sudahi pula
propaganda-propaganda sesat yang banyak menyerang presiden Assad dan diganti saja
dengan memberikan dukungan kepada rakyat Palestina dalam melawan rezim zionis
karena itu tindakan yang lebih nyata ketimbang menhancurkan negara Suriah.

Comments
Post a Comment