Pernah suatu ketika
saya diberikan pertanyaan seperti ini. Jika Bunda Teresa meninggal apakah ia
akan masuk surga atau neraka. Bagiku ini adalah pertanyaan yang sangat sulit
untuk dijawab. Pertanyaan yang akan melahirkan jawaban yang dilematis bak buah
simalakama. Ketika kita beranggapan bahwa Bunda Teresa akan masuk surga karena kebaikannya,
maka hal itu akan berbanding terbalik dengan agama yang ia anut karena bagi
sebagian kalangan menganggapnya kafir. Sedangkan jika saya berkeyakinan Bunda
Teresa akan masuk ke dalam neraka, maka sungguh tidak adillah Tuhan karena
telah memasukkan seseorang yang telah mewakafkan hidupnya untuk kemanusiaan.
Mari kita lihat bersama
secuil pembahasan perjalanan hidup seorang Bunda Teresa apakah ia akan masuk ke
surga atau neraka ataukah ia akan tetap bersemayam di hati para pejuang
kemanusiaan. Bunda Teresa memiliki nama asli yaitu Agnes Gonxha Bojaxhiu. Ia
lahir di Uskub, sebuah daerah yang berada di bawah kekuasaan Turki Ustmani pada
tanggal 26 Agustus 1910 dan meninggal di Kalkuta, India pada tanggal 5
September 1997. Ia juga merupakan anak dari seorang biarawati katolik Roma
keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang bernama Nikolle dan ayahnya
bernama Drana Bojaxhiu seorang politikus di Albania. Ayah Agnes (nama kecil
Bunda Teresa) meninggal ketika ia berusia delapan tahun dan setelah kejadian
itu maka ibunya membesarkannya sebagai seorang katolik Roma.
Setelah terpesona oleh
cerita-cerita dari kehidupan misionaris di Benggala, maka pada tahun 1928 Agnes
meninggalkan rumah dan bergabung dengan Kesusteraan Loreto di Rathfarnham,
Irlandia sebagai seorang misionaris dan di sana ia belajar bahasa Inggris. Ia
tiba di India pada tahun 1929 dan memulai novisiat (pelatihan) di Darjeeling,
daerah sekitar pegunungan Himalaya tempat ia mengajar di sekolah St. Teresa. Ia
menjadi seorang biarawati pada tanggal 24 Mei 1931 dengan nama Therese de
Lisieux. Panggilan Teresa (dengan pengejaan Spanyol) pun melekat pada dirinya
sejak ia sejak ia disumpah menjadi seorang biarawati.
Pada tanggal 14 Mei
1937 ia sampai di sekolah biara Loreto di Entally, sebelah timur Kalkuta. Sejak
menjadi pengajar di Entally, kemiskinan yang terjadi di sekitar wilayah
tersebut yang membawa penderitaan sehingga menimbulkan gesekan antara Hindu dan
Muslim membuat pikiran Teresa muda terganggu. Bukan terganggu dalam artian para
penduduk miskin itu mengganggu aktivitas mengajarnya, melainkan kemiskinan yang
terjadi membuat rasa empati Teresa muda tergugah. Baginya kenyamanan yang
didapatkan selama ia mengajar akan menjadi sia-sia ketika ia tidak membantu
penderitaan sesama manusia.
Pada tanggal 10
September 1946 dimulailah perjalanan kemanusiaan Bunda Teresa. Ia melakukan
perjalanan ke Kalkuta dan ia berkata, “Saya meninggalkan biara dan membantu
orang miskin sewaktu tinggal bersama mereka. Ini adalah sebuah perintah.
Kegagalan akan mematahkan iman”. Bunda Teresa mengadopsi kewarganegaraan India
pada tahun 1948. Ia menghabiskan beberapa bulan di Patna untuk mengikuti
pelatihan dasar medis dan kemudian memberanikan diri untuk memasuki daerah
kumuh. Atas usahanya dalam membantu masyarakat miskin India, maka ia mendapat
apresiasi dari Perdana Menteri India.
Pada tanggal 07 Oktober
1950, Bunda Teresa mendaptkan izin dari Vatikan untuk memulai kongregasi
keuskupan yang kemudian menjadi Misionaris Cinta Kasih. Misinya adalah untuk
merawat mereka yang lapar, telanjang, tunawisma, cacat, buta, kusta, semua
orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan seluruh masyarakat,
orang yang telah menjadi beban bagi masyarakat, dan dihindari oleh semua orang.
Kongregasi ini pun telah memiliki 4.000 suster yang menjalankan panti asuhan,
rumah bagi penderita AIDS, pusat amal seluruh dunia, serta merawat para
pengungsi, pecandu alkohol, orang buta, cacat, tua, miskin, tunawisma, korban
banjir, dan korban wabah kelaparan.
Pada tahun 1952, Bunda
Teresa membuka Home for the Dying yang diperuntukkan sebagai rumah kesehatan
dan kebaikan bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama. Jika di
tempat tersebut ada yang meninggal, maka mereka akan diperlakukan sesuai dengan
keyakinannya. Muslim akan dibacakan Al Quran, Hindu akan menerima air dari
sungai Gangga, dan Katolik akan menerima ritus terakhir. Ia juga mendirikan Shanti
Nagar (Kota Kedamaian) bagi penderita kusta. Serta membuka Nirmala Shisu Bhavan
pada tahun 1955 yang diperuntukkan untuk perlindungan bagi yatim piatu dan
remaja tunawisma.
Pada tahun 1965,
menjadi awal Bunda Teresa mendirikan ordo di luar negeri yaitu di Venezuela
dengan 5 suster. Selanjutnya di Italia, Austria, dan Tanzania pada tahun 1968.
Pada tahun 1970 ordo ini pun telah menyebar hampir di seluruh penjuru bumi
termasuk di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Bunda Teresa juga “terlibat” pada
invasi Israel terhadap Lebanon tahun 1982 saat terjadi pengepungan Beirut.
Bersama dengan Palang Merah Internasioanl, ia menyelamatkan 37 anak yang
terjebak di garis depan rumah sakit dan berhasil keluar setelah diadakan
gencatan senjata. Di dekade itu pula, Bunda Teresa melakukan misi kemanusiaan
dengan membantu dan melayani penderita kelaparan di Ethiopia, korban radiasi di
Chernobyl, dan korban gempa di Armenia. Total setelah ia kembali ke India pada
tahun 1991, Bunda Teresa telah melakukan 500 misi kemanusiaan di lebih dari
seratus negara dengan 450 tempat pelayanan Misionaris Cinta Kasih di seluruh
dunia.
Di tengah aktivitas
kemanusiaannya, Bunda Teresa hanyalah manusia biasa sama seperti kita yang akan
rentan terkena penyakit. Ia pun diketahui menderita serangan jantung pada tahun
1983 saat ia mengunjungi Yohanes Paulus II di Vatikan. Setelah serangan jantung
kedua pada tahun 1989, ia menerima alat pacu jantung buatan. Pada tahun 1991,
setelah berjuang melawan pneumonia di Meksiko ia menderita penyakit jantung lebih
lanjut. Pada tahun 1996, Bunda Teresa jatuh dan mematahkan tulang selangkanya.
Kemudian pada bulan Agustus ia menderita gagal jantung di vertikal kiri dan
malaria. Ia meletakkan jabatannya sebagai kepala Misionaris Cinta Kasih pada
tanggal 13 Maret 1997. Pada pada tahun itu juga tepatnya 05 September, Bunda
Teresa menghembuskan nafas terakhirnya.
Pada saat kematiannya,
Misionaris Cinta Kasih telah berhasil memiliki 4.000 suster dan persaudaraan
dengan 300 anggota yang telah menjalankan 610 misi di 123 negara. Ini termasuk
penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, kusta dan TBC. Organisasi ini
juga memiliki dapur umum, program konseling anak-anak dan keluarga, pembantu
pribadi, panti asuhan, dan sekolah. Misionaris Cinta Kasih juga dibantu oleh wakil
pekerja yang berjumlah lebih dari 1.000.000 orang.
Bunda Teresa
dibaringkan dalam ketenangan di gereja St. Thomas, Kalkuta. Ia diberi pemakaman
kenegaraan oleh pemerintah India sebagai apresiasi atas usaha dan perjuangan
Bunda Teresa di bidang kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama.
Kepergiannya juga ditangisi oleh jutaan warga India baik yang sekuler maupun
relijius. Beberapa tokoh dunia pun ikut menyampaikan belasungkawa atas
kepergian seorang pejuang kemanusiaan ini. Nawaz Sharif yang saat itu menjabat
sebagai Perdana Menteri Pakistan mengatakan Bunda Teresa adalah “Seorang
individu langka dan unik yang tinggal lama untuk tujuan lebih tinggi.
Pengabdian seumur hidupnya untuk merawat orang miskin, orang sakit, dan kurang
beruntung merupakan salah satu contoh pelayanan tertinggi untuk umat manusia”. Sedangkan
mantan Sekretaris Jenderal PBB yaitu Javier Perez de Cuellar mengatakan, “Ia
adalah pemersatu bangsa. Ia adalah perdamaian dunia ini”.
Melihat perjalanan
hidup seorang Bunda Teresa yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk
kemanusiaan, memunculkan beberapa pertanyaan sekaitan dengan konsep
keberagamaan yang selama ini kita anut. Ada beberapa teks di dalam kitab baik
itu di Al Quran maupun Bible yang jika dilihat secara sepintas sangat ekslusif.
Ayat yang populer di Al Quran bahwa “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah
agama islam” akan bertabrakan dengan pemahaman kaum kristiani yang beranggapan
bahwa “tidak ada keselamatan di luar gereja”. Jika itu dipahami sempit, maka
pertanyaan yang muncul mengapa Nabi Muhammad SAW tidak memaksakan saja seluruh
umat manusia ini beragama islam dan malah membantu mereka yang berbeda
keyakinan. Ini pula yang dipraktekkan oleh Bunda Teresa yang meninggalkan
kemapanan sebagai pengajar di gereja demi turun membantu mereka yang miskin dan
kelaparan tanpa memandang latar belakang agama.

kisah teladan
ReplyDelete