Tercatat Presiden Jokowi telah melakukan pertemuan dengan beberapa Kepala Negara baik itu yang berkunjung ke Indonesia, maupun yang pertemuannya dilakukan di forum internasional. Dalam beberapa pertemuan dengan pemimpin dari berbagai negara, ada beberapa pertemuan dengan kepala negara yang cukup menyita perhatian jika melihat sepak terjang kepala negara tersebut. Dan tentunya hal tersebut tidak boleh dilupakan oleh sang Presiden.
1. Raja Salman dari Arab Saudi
Beberapa waktu lalu, Raja Salman berkunjung ke Indonesia dengan membawa segudang janji untuk investasi. Sambutan yang diterimanya pun sangat luar biasa karena dianggap sebagai penjaga 2 kota suci umat islam. Tidak seperti biasanya para oposan dan pembenci Presiden Jokowi, kunjungan Raja Salman ke Indonesia tidak dibumbuhi dengan tuduhan wahabi kepada Presiden Jokowi karena menerima tamu dari negara sumber ajaran wahabi. Padahal sebelumnya, Presiden Jokowi sering dituduh komunis, Cina, dan antek asing. Raja Salman yang berencana untuk berinvestasi (walaupun investasinya di Indonesia masih kalah dengan investasinya di Cina) bahkan tidak pernah dituduh mau melakukan arabisasi oleh para pembenci Presiden Jokowi, padahal kedekatan Raja Salman dengan Presiden Jokowi sangat akrab ketika berkunjung ke Indonesia. Sepertinya terjadi anomali diantara para oposan dan pembenci Jokowi yang notabene banyak berasal dari pemuja Arab Saudi. Selain itu tahukah anda bahwa Raja Salman adalah raja yang telah melakukan pembantaian rakyat Yaman yang hingga kini telah membunuh puluhan ribu rakyat Yaman dan mengancam kehidupan sepertiga rakyat Yaman karena blokade yang telah dilakukan. Pun juga melakukan politisasi haji dengan melarang calon jamaah haji dari Suriah, Iran, dan Yaman untuk melakukan haji dengan alasan yang sangat politis. Raja Salman juga baru-baru ini memimpin demonstrasi pengucilan Qatar dari negara-negara teluk dan Arab padahal mereka serumpun dan seagama. Selain itu Raja Salman memasukkan kelompok perlawanan Hamas di Palestina dan Hizbullah di Lebanon sebagai kelompok teroris padahal kedua kelompok ini adalah kelompok resistensi melawan rezim zionis Israel. Dan masih banyak lagi dosa-dosa Raja Salman terhadap kemanusiaan.
2. Barack Obama Mantan Presiden AS
Semasa menjadi presiden AS, Barack Obama banyak melakukan penghancuran dan kerusuhan terhadap negara-negara yang kontra dengan kebijakan luar negeri AS. Hingga saat ini, kampanye pergantian rezim yang dipimpinnya di Libya berakhir tragis dan justru membawa rakyat Libya ke jurang penderitaan yang tidak berkesudahan. Selain itu menurut pengakuan Hillary Clinton yang notabene adalah Menteri Luar Negeri di era Obama, mengakui jika organisasi teroris transnasional ISIS adalah buatan CIA. Kebijakan Obama yang seperti ini tidak ubahnya dengan kebijakan pendahulunya yang menciptakan Taliban dan kelompok "mujahidin" lainnya dalam membendung pengaruh komunis di era perang dingin. Obama juga menjadikan AS sebagai arsitek dalam destabilisasi Suriah. Perang yang telah memasuki tahun ke 6 itu, menjadi catatan kelam sejarah campur tangan politik AS di sebuah negara. AS juga di bawah Obama berperan dalam tumbangnya mantan presiden Ukraina yaitu Victor Yanukovich yang pro Rusia lewat kudeta tidak berdarah. Dampak dari kudeta itu, daerah Donbast (daerah timur Ukraina) yang didominasi warga keturunan Rusia dan berbatasan langsung dengan Rusia menjadi tidak stabil. Rezim boneka yang diciptakan oleh AS di Ukraina adalah rezim fasis yang sangat anti Rusia. Selain itu, Obama juga bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan di Palestina dan Yaman. Dukungan militer kepada sekutunya baik Israel maupun Arab Saudi adalah pemicu tragedi di dua tempat tersebut. Walaupun Obama pernah bersekolah di Menteng, Jakarta, tetapi dia tetaplah warga negara AS yang telah dikuasasi oleh kepentingan AS dan zionis dalam menguasai dunia. Dan seharusnya Presiden Jokowi dapat mempertimbangkan ini semua ketika bertemu dengan dia.
3. Racip Tayyip Erdogan dari Turki
Kunjungan Presiden Jokowi ke Turki tidak serta merta menjadikan dirinya dilabeli simpatisan Ikhwanul Muslimin selaku afiliasi partai AKP (partai keadilan dan pembangunan) yang merupakan kendaraan politik Erdogan di Turki. Sepertinya para pemuja Erdogan tidak sadar jika Presiden pujaan mereka bisa begitu akrab dengan presiden yang dituduh komunis, antek asing dan Cina ini. Bayangkan saja dengan komen yang akan muncul jika Presiden Jokowi bertemu dengan Presiden Iran yaitu Hassan Rouhani selaku negara mayoritas syiah, atau bertemu dengan Vladimir Putin selaku Presiden Rusia yang merupakan pewaris dari Uni Sovyet sebagai bekas patron komunis di dunia, atau juga ketika Presiden Jokowi bertemu dengan Presiden Cina, maka label Syiah, antek asing, dan komunis akan menghiasi komentar-komentar mereka. Jika mau adil (Tuhan menyuruh kita berbuat adil walaupun kita membencinya) maka seharusnya Presiden Jokowi pun disebut antek Ikhwanul Muslimin dan antek Wahabi (karena bertemu juga dengan Raja Salman sekaligus Raja Arab Saudi). Saya juga akan menyoroti sepak terjang Erdogan dalam perannya mendestabilisasi negara lain. Erdogan adalah presiden yang kebijakannya tidak berbeda dengan presiden terdahulu maupun pendiri Republik Turki modern yaitu Mustafa Kemal Ataturk yang begitu represif terhadap lawan politik dan gerakan Kurdistan Turki. Pasca kudeta gagal beberapa waktu lalu, Erdogan seperti memiliki senjata untuk memberangus lawan politiknya melalui tuduhan terlibat kudeta tersebut. Erdogan juga bertindak sangat represif terhadap etnis minoritas Kurdi di Tenggara Kurdi padahal banyak yang mengelu-elukan jika Erdogan adalah pemimpin kaum muslimin. Erdogan juga adalah tetangga buruk bagi negara jirannya Suriah. Dengan motif ekonomi yang bermula dari proses negosiasi gas yang batal, maka dimulailah proyek destabilisasi Suriah dengan mempersenjatai kelompok teroris macam Free Syrian Army (FSA) yang berisi tentara pembelot dan para "mujahidin" dari berbagai negara. Cukup aneh jika ada yang menjadikan Erdogan sebagai sosok pemimpin umat muslim yang didambakan oleh sebagian warga muslim Indonesia, jika melihat sikap rasis, sektarian, dan oportunis dari seorang Erdogan. Dan seharusnya, Presiden Jokowi menjadikan ini juga sebagai bahan pertimbangan.
4. Donald Trump dari AS
Sikap kebencian Trump terhadap umat muslim sudah tidak diragukan lagi. Keputusan-keputusan kontroversi yang dia buat bahkan memicu banyak protes dari kalangan warga AS sendiri. Seperti pelarangan masuk imigran dari beberapa negara mayoritas muslim, komentar-komentar kebenciannya terhadap warga muslim, hingga "Trump Effect" yang berhasil menjadikan sesama negara Arab saling membenci. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Presiden Jokowi ketika bertemu dengan Presiden Trump di pertemuan G20, tetapi yang pasti bahwa Presiden Jokowi harus berhati-hati dengan "idiot" yang satu ini.
Saya paham bahwa pertemuan Presiden Jokowi dengan beberapa pemimpin dunia dilakukan sebagai bentuk politik luar negeri kita yang bebas aktif. Tetapi perlu diingat, sepak terjang dari mereka yang merajut kerjasama dengan negara kita harus selektif dilakukan. Raja Salman sudah terkenal piawai dalam memainkan isu kuota hajinya, Erdogan yang bisa menjadi benalu bahkan terhadap tetangganya sendiri seperti Suriah yang tidak tertutup kemungkinan terjadi juga untuk Indonesia (ingat, IM punya banyak massa di Indonesia), atau si Trump yang sudah terkenal dengan sifat labil dan ketidakkonsistenannya.
Dahulu Presiden Soekarno adalah pemimpin yang keras menentang hegemoni imprealisme dan kapitalisme AS, dan lebih condong ke blok timur. Saya tidak tahu apakah Presiden Jokowi akan melakukan langkah seperti ini dengan konsekuensi operasi mata-mata CIA seperti tragedi 1965, ataukah Presiden Jokowi masih harus memainkan perannya dengan tetap menjalin ke induk kapitalisme dan radikalisme.
Comments
Post a Comment