PASSAPU SEBAGAI PENGIKAT KEPALA KHAS PRIA MAKASSAR

 

Jika anda biasa melihat penutup kepala yang digunakan oleh pria Makassar, maka itu adalah salah satu jenis budaya yang telah turun temurun digunakan. Penutup kepala ini juga anda bisa lihat di penutup kepala yang digunakan oleh pahlawan nasional dari suku Makassar yaitu Sultan Hasanuddin. Menurut H. Syarifuddin Daeng Tutu seorang maestro sinrilik dan keso keso, yang menuturkan tentang ikatan, bentuk, serta ujung dari passapu sebagai ikat kepala khas pria Makassar. Ia berujar jika ikatan passapu melawan arah maka dianggap sebagai petanda perang. Jika tegap menghadap ke atas langit maka menandakan siaga. Dan jika ditekuk mengikuti arah ikatan maka menuruti pangadakkang atau aturan adat istiadat dan tata krama. Secara umum, passapu terdiri dari dua jenis yang dibedakan dari bentuk, lipatan, dan letak ikatannya yang biasa disebut poto yaitu passapu pattinra/patonro. Jenis passapu ini adalah passapu yang berbentuk segitiga dan menjulang ke atas dengan lipatan melintang pada bagian bawahnya. Dahulu digunakan oleh para bangsawan kerajaan (Karaeng) dan ksatria kerajaan (tu barani). Umumnya warna kain yang digunakan berwarna merah, hitam, kuning, dan kain berornamen dengan kotak kosong berwarna putih di bagian tengah atau berornamen penuh menghiasi kain yang dilipat secara diagonal.

Kamudian passapu putara merupakan passapu yang terdiri dari tiga jenis yaitu putara padompe (terkulai) yang umumnya digunakan para hulubalang kerajaan, putara bereng bereng (capung) yang umumnya digunakan para anak anak bangsawan kerajaan kewilayahan serta digunakan oleh para anrong guru. Perbedaan diantara penggunaan dari passapu putara bereng bereng ini terletak pada poto (ikatannya). Jika letak ikatan di kanan maka yang menggunakan adalah keturunan bangsawan. Jika letak ikatan terletak di kiri maka yang menggunakan adalah para karaeng (raja/ bangsawan kedudukan tinggi). Dan jika terletak di belakang kepala maka yang menggunakannya adalah seorang anrong guru. Kemudian yang terakhir adalah jenis passapu putara paerang (pembawa) yang umumnya dipakai oleh para anrong guru pakarena.

Sebenarnya variasi simpul ikatan yang digunakan itu melambangkan simbol sehingga akan mudah kita melihat bahwa pemakainya dari jenis golongan apa. Seperti passapu bereng bereng putara karaeng yang diperuntukkan untuk para karaeng dan bangsawan tinggi lainnya. Letak simpul di sebelah kiri dengan ujung Passapu arah ke atas dan ke depan. Sementara bangsawan lainnya yang stratanya dibawah karaeng yaitu anak karaeng, bate/gallarang, satu arah ke atas dan satu arah ke belakang dengan letak simpul tetap di sebelah kanan. Untuk acara ritual, Karaeng dan bangsawan tinggi lainnya menggunakan lilitan di kepala sedangkan passapu patonro (palu) ini digunakan pada acara-acara besar seperti parade, pernyataan perang (angngaru), perang, hingga pesta pernikahan.

Sementara untuk panglima perang, para ksatrianya (tu barani) menggunakan passapu patinra (paku) bereng-bereng (capung) yang bidang segi tiganya tegak. Perbedaannya terletak pada letak simpul, yakni di sebelah kanan dan model simpulnya (teknik simpul dasi) dengan kedua ujung mengarah ke atas. Untuk kalangan penabuh gandang, teknik simpulnya diputar sekali hingga tiga kali lalu disimpul tambang dengan kedua ujung mengarah ke atas. Sedangkan untuk anrong guru, pinata, anrong roa (pemusik, letak simpulnya di belakang. Untuk para pemuka agama (anrong guru) menggunakan passapu pattinra paerang poto nabbi. dengan menempatkan bagian tegakan segi tiga di sebelah kiri dan ikatannya di sebelah kanan atau agak ke depan dan ikatannya ada di belakang telinga kanan. Sementara pendamping dan murid serta kalangan pengurus istana, prajurit-prajurit istana, pengurus lainnya ditandai dengan penempatan kedua simpulnya agak ke atas dahi dengan satu ke dalam dan satunya lagi diselipkan ke bawah dan bagian segi tiga pada bagian belakang. Dan yang terakhir adalah passapu rolle yang penggunaannya paling umum karena digunakan oleh semua kalangan. Mulai dari masyarakat biasa hingga para pemangku kerajaan di istana. Dahulu dikarenakan masih dikenal adanya ata (hamba sahaya atau budak), maka untuk kalangan ini penggunaan passapu bahkan jenis passapu rolle pun tidak boleh digunakan oleh mereka.

Untuk masa sekarang, passapu sudah sangat umum digunakan walaupun dalam tradisi adat ada beberapa hal yang tidak diperhatikan sesuai dengan jenis passapu itu sendiri. Pemakaian passapu masih sering digunakan dalam kegiatan kegiatan adat maupun acara formil di tingkat kedaerahan hingga digunakan dalam aktifitas keseharian. Saya bahkan sering melihat orang memakai passapu pada saat acara sepakbola seperti menonton pertandingan PSM di Stadion Mattoanging Makassar. Apakah pemakaian yang tidak memerhatikan simbol dari passapu itu harus dihentikan. Saya pikir kita harus bijak memaknai itu semua demi kelangsungan budaya Makassar. Betul bahwa penggunaan passapu ini kadang tidak sesuai dengan peruntukan dan simbolnya, tetapi demi pelestarian budaya saya pikir itu tidak masalah. Lebih baik membiarkan penggunaan passapu itu yang tidak sesuai dengan simbol agar masyarakat Makassar dari semua lapisan memahamai bahwa ini adalah bagian dari budaya suku Makassar. Ketimbang tetap pada penggunaan passapu yang harus sejalan dengan simbolnya yang kesannya sangat ekslusif.

Seperti juga tradisi angngaru yang dahulu dipentaskan pada prosesi jelang peperangan atau kegiatan di dalam kerajaan. Tetapi di masa sekarang, angngaru sangat umum dilakukan bukan saja untuk kegiatan kerajaan tetapi juga pada kegiatan masyarakat biasa seperti contoh kegiatan pernikahan yang banyak menggunakan tradisi angngaru terutama di Kabupaten Maros. Apakah tradisi yang dianggap tidak pada tempatnya ini harus dihentikan. Tentu tidak karena lebih baik seperti itu daripada tradisi ini hilang dan tidak lagi dilestarikan oleh masyarakat Makassar karena dinggap hanya milik golongan tertentu. Tentu masih banyak lagi budaya yang harus dilestarikan selain passapu dan angngaru dan itu menjadi tanggung jawab semua masyarakat suku Makassar.

Makassar, 12 Desember 2020




Comments