Dalam sejarah suku Makassar
terkhusus yang berda di daerah Galesong yang kini menjadi bagian administrasi dari
Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan, sudah ada sejak dahulu nilai-nilai
yang menjadi patokan dalam sebuah kepemimpinan. Dahulu seperti yang kita
ketahui, di daerah ini berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Galesong.
Istilah Galesong sangat terkenal tentu tidak bisa dilepaskan bagaimana kerajaan
ini menjadi salah satu kerajaan yang begitu menentang penjajahan VOC di tanah
Sulawesi terutama di tanah Makassar. Bahkan ketenaran Galesong hingga ke tanah Jawa
termasuk dalam pembicaraan Nusantara ketika Karaeng Galesong ikut membantu
Trunajaya dalam melawan Susuhan Mataram Amangkurat I dikarenakan bersekutu
dengan VOC.
Dalam tradisi kepemimpinan lokal
di Galesong, seorang pemimpin dimaknai sebegai seorang panutan. Ia merupakan simbol
dari adat yang semua sisi dari kehidupannya adalah pencerminan dari panggadakkang.
Disatu sisi karaeng sebagai suatu sosok tunipinawang (panutan) sedangkan rakyat
sebagai sosok tumminawang (pengikut). Sumber lokal menjelaskan bahwa seorang
pemimpin ideal apabila memiliki empat syarat kepemimpinan yaitu Kacaraddekang atau dalam bahasa Makassar berarti kepintaran.
Lambusu yang berarti kejujuran, kabaraniang yang berarti keberanian, dan Kakalumanyangang yang berarti kekayaan.
Penjelasan dari keempat nilai ini
saya mulai dari syarat kepemimpinan tentang kepintaran. Seorang pemimpin yang pintar,
cerdas, dan cendikia memiliki empat unsur. Yang pertama adalah pemimpin ini cinta
pada perbuatan yang bermanfaat. Diartikan bahwa jiwa kepemimpinan harus selalu
beroreintasi pada kebijakan yang bermanfaat dan menghindari sifat pemborosan.
Kemudian pemimpin suka kepada kelakuan yang menimbulkan kemaslahatan. Yang
berarti kebijakan yang dihasilkannya itu tidak hanya bermanfaat dirinya
sendiri. Tetapi bermanfaat untuk masyaraakt yang ia pimpin. Kemudian pemimpin
juga jika menemukan persoalan selalu berusaha mengatasinya. Artinya pemimpin
itu harus solutif dan tidak selalu mencari kambing hitam saja. Dan yang
terakhir pemimpin jika melaksanakan segala sesuatu dengan penuh kehati-hatian. Tidak
mengeluarkan kebijakan yang hanya asal keluar tanpa memperhatikan berbagai
aspek untuk kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.
Selanjutnya adalah sifat lambusu
atau jujur yang merupakan antitesa dari sifat jekkong (curang). Filosofi lambusu
mengandung empat hal utama yaitu tutui atau dalam bahasa Makassar yang berarti
berbuat cermat. Kemudian baji bicara yang berarti berbicara yang benar,
selanjutnya anggau baji yang berarti melakukan perbuatan yang bermanfaat. Serta
yang terkahir adalah kuntu tojeng atau yang berarti bekerja dengan penuh
kesungguhan dan bertanggung jawab. Dijelaskan juga bahwa seorang pemimpin yang
jujur harus mencerminkan pribadi yang pemaaf. Yang dalam artian jika orang
berbuat salah padanya, dia lantas memberi maaf. Jika diberikan amanat maka dia
tidak khianat dan jika bukan haknya maka ia tidak akan mengambilnya. Ia juga bekerja
untuk kebaikan masyarakat, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Sifat kemudian adalah kabaraniang
atau sifat pemberani yang pada hakekatnya mengandung empat unsur. Yang pertama
adalah tammallakki nipariolo yang berarti tidak takut menjadi pelopor. Tentu
yang dimaksud adalah pelopor kebaikan. Selanjutnya adalah unsur tammallakki
nipariboko yang berarti tidak takut berdiri dibelakang dalam artian memberi
kesempatan kepada orang lain yang lebih potensial (bersikap demokratis). Kemudian
unsur tammallaki allangngere kabara yang berarti tak gentar mendengar kabar
baik maupun buruk, bersedia menerima kritik dan saran dari orang lain, berjiwa
besar serta mempunyai sifat ingin tahu yang besar. Selanjutnya adalah
tammallakai accini bali yang menjelaskan bahwa ia tidak boleh gentar menghadapi
lawan, baik dalam berunding maupun berperang, tegas dan yang paling penting
harus konsisten.
Dalam cerita yang berkembang,
keberanian orang gelasong dapat juga dilihat dari sumpah I Mangngopangi Daeng
Ngutung di dihadapan Karaeng Galesong. Teks sumpah yang diucapkannya adalah
sebagai berikut:
Bajimakianne abbannang kebo
karaeng, naki bulomo sibatang, cera sitongka-tongka, nanipajappa nikanayya
kuntutojeng. Assorong bokoi erokna Balandayya. Aminasa dudutonga karaeng
Ampannepokangi pasorang maktangnga parang. Ampanumbangngangi balembeng makbangkeng
romang. Punna nia buranne karaeng rewanggang na inakke, sere lipa kuruai,
kusionjo tompo bangkeng, kusikekke kamma lame. Kukamma mamo kicini karaeng, tedong
aklagayya jarang sialle ganayya. Nampa kicinika I Mangopangi Daeng Ngutung
Campagana Bulukumpa.
Pada saatnya kita harus berikrar
bahwa kita harus bersatu padu seia-sekata. Kita katakana yang benar adalah
benar. Dan yang batil adalah batil. Kita hancurkan semua kehendak Belanda. Kuberharap
dan kuruntuhkan bagai gunung di tepi hutan. Jikalau ada lelaki yang lebih
jantan dari saya karaeng, satu sarung kami berdua saling berantam, saling menginjak
ujung kaki, saling menggali seperti ubi. Lihatlah karaeng seperti kerbau yang
berlaga dan kuda yang memperebutkan pasangannya. Kemudian lihatlah hamba I
Mangopangi Daeng Ngutung Campagana Bulukumpa.
Sesudah I Mangopangi lalu berdiri
I Pasanri Daeng Kancing bersumpah:
Manna ka kanying ilau, bangkeng
barakka kucini, tamminasayya towali ri turangangku. Eja tompiseng na doang
karaeng. Tumbang tompi na nicini nanisombali tangkana sikalia.
Walau awan berarak, badai musim hujan
yang kulihat, tak kuinginkan kembali ke kampung halaman. Nanti merah baru
dikatakan udang karaeng. Biarkan runtuh karena setelah itu layar akan
terkembang sekali lagi.
Setelah itu, disusul kemudian I
Yumara berikrar:
Bannang ejayya ri Bajeng, tassampea
ri Galesong, tappuki na tamkombeka. Anrai-raiki karaengku Inakke irayanganta. Kalakalaukki
karaengku Inakke ilaukanna. Karaengku jamming Ikambe lingka tongiseng ri anja.
pangkai jeraku karaeng, tinraki bate onjokku. Tena kuero karaeng lari ri parang
bali. Nakiciniki I Yumara Daeng Mapasang bannang ejana Bajeng, Panjarianna
tumanurunga ri Komara.
Benang merah dari Bajeng, yang
tersangkut di Galesong, putus tapi tak kendor Ke timurlah wahai karaeng dan saya
akan lebih ke timur lagi. Ke baratlah wahai karaeng dan saya akan lebih ke
barat lagi. Karaengku, ketika kami wafat dan menuju kehadiratNya, tandai kuburanku
wahai karaeng dengan patok bekas telapak kakiku. Tak kuingin lari dari medan
perang. Lihatlah I Yumara Daeng Mapasang benang merah dari Bajeng, Keturunan
tumanurunga ri Komara.
Yang terakhir adalah sifat
kekayaan yang harus memiliki empat unsur, yaitu tamakurangi ri nawa-nawa, yang
berarti tak kehabisan inisiatif dan penuh kreatifitas. Kemudian tamakkurangi ri
bali bicarayang berarti tak kekurangan jawaban serta kaya akan pengetahuan.
Selanjutnya adalah caraddeki ri sikamma gau yang berarti artinya mahir dan
terampil dalam setiap pekerjaan. Dan yang terakhir adalah tamakurangi ri
sikamma pattujuang yang berarti tak kekurangan usaha karena memiliki modal. Kemudian
agar terjadi harmonisasi antara pemimpin dan rakyat, maka dikenal pula
prinsip-prinsip perilaku kepemimpinan tradisional.
Saya awali dari prinsip mallakko
ri Karaeng Allah Taala yang berarti bertakwalah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Suatu Simbol kebersamaan antara pemimpin dan yang dipimpin. Kemudian atinna
tauwa nupaklamung-lamungi yang berarti tanamlah suatu kebaikan kepada orang
banyak (terutama orang yang dipimpin). Dalam artian memupuk rasa cinta dan
kebersamaan. Selanjutnya allei riwaya pelaki ruwaya yang berarti ingat setiap
perbuatan orang lain kepadamu dan kesalahanmu atau kekeliruanmu kepada orang
lain, serta lupakanlah perbuatan baikmu kepada orang lain dan perbuatan salah
orang lain kepadamu. Hal ini sangat penting untuk dalam hal integritas pemimpin
dan masyarakat. Kemudian adalah cakkoi assalanu yang berarti sembunyikan asal
keturunanmu dan biarkanlah orang lain yang menelusuri asal-usul kita dari pada
kita yang menjelaskannya. Hal ini penting untuk mempertahankan wibawa. Serta
yang terkahir adalah karaengi tauwa assalak nutowai. Maksudnya adalah hormatilah
orang yang diperintah (dipimpin) sehingga mereka dapat ikut secara aktif.
Makassar, 15 Desember 2020

Comments
Post a Comment