MATI DALAM MEMBELA HABIB

 

Jika boleh dikatakan proses kematian yang paling diinginkan oleh  umat islam adalah kematian syahid. Kematian ini dianggap kematian yang mulia dikarenakan mati di jalan Allah SWT. Salah satu parameter mati di jalan Allah SWT adalah mati dalam membela keturunan Nabi Muhammad SAW. Ini adalah konsep yang benar jika yang dibela adalah keturunan beliau yang tidak zalim tetapi justru banyak yang tergelincir dalam pemahaman yang keliru karena menyamaratakan semua keturunan beliau adalah orang yang bersih dari dosa. Saya menganggap keliru dikarenakan tidak ada dalil secara tegas baik di dalam Al Quran maupun Hadist Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa keturunan beliau semuanya suci dari dosa. Bahkan jika keturunan dijadikan sandaran sebuah nasab yang mulia, maka tentu kisah Nabi Ibrahim AS menjadi catatan yang penting untuk kita pahami.

Di Surah Al Baqarah Ayat 124, Allah SWT berfirman:

“ Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “ Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “ (Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman,” JanjiKu (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”

Peristiwa yang didokumentasikan di dalam Al Quran mengenai Nabi Ibrahim AS perihal keturunannya seharusnya mengajarkan kita bahwa tidak semua keturunan Nabi itu baik dikarenakan Allah SWT yang menjelaskan sendiri bahwa nanti yang zalim tidak akan menjadi imam (pemimpin). Artinya Allah SWT sendiri sudah menjamin jika di kemudian hari akan ada diantara keturunan Nabi Ibrahim AS yang tentu sumber keturunan dari Nabi Muhammad SAW akan berbuat zalim. Apakah ada diantara kita yang akan menyangkal kebenaran dari firman Tuhan tersebut.

Jadi ketika kematian dikaitkan dalam membela keturunan Nabi Muhammad SAW dan disebut sebagai syahid, maka bagi saya tidak semudah itu definisi syahid disematkan kepada mereka. Apakah memang keturunan Nabi Muhammad SAW yang mengatai pemimpin dengan sebutan kodok, menteri agama sesat, qori itu iblis, istana negara adalah istana dajjal, ulama lain diejek dengan kekurangan fisiknya, hingga kepercayaan agama lain diolok, pantas dibela hingga mengorbankan nyawa. Saya tidak pada posisi akan memberikan kesimpulan akhir bagi yang mati baru baru ini dalam sebuah peristiwa di jalan toll Jakarta adalah mati sayhid atau tidak. Saya hanya mencoba mengantar kita untuk menggunakan akal dalam memahami kematian mereka.

Betul bahwa yang dikawal adalah seorang keturunan Nabi Muhammad SAW yang dalam istilah populernya di Indonesia disebut habib. Betul bahwa di dalam darahnya mengalir darah Nabi Muhammad SAW yang populer dengan islam rahmatan lil alamin seperti islam yang beliau bawa. Kita hormat pada garis keturunannya tetapi untuk perilakunya belum tentu akan kita benarkan. Sebutan kasarnya dalam mengolok olok pihak lain yang berseberangan dengannya adalah hujjah yang sudah sangat jelas untuk tidak mengikuti keturunan Nabi Muhammad SAW yang seperti itu. Sehingga agak konyol jika sebagian dari kita beranggapan mereka mati syahid hanya dikarenakan mengawal keturunan beliau yang bermulut kasar itu.

Kemudian yang ingin saya garis bawahi kadang beberapa diantara mereka menggunakan kepribadian ganda ketika berbicara tentang keturunan Nabi Muhammad SAW. Mereka akan menjaga mati-matian keturunan beliau yang sebenarnya memiliki rentang waktu sekitar 14 abad mulai dari ceramah hingga pernikahan putrinya, tetapi di kesempatan lain mereka membenci orang yang memperingati peristiwa kematian cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Husain bin Ali yang terjadi tanggal 10 Muharram. Apakah lebih utama memuliakan keturunan beliau yang berjarak hingga 14 abad daripada cucu beliau itu sendiri. Jika mengawal keturunan Nabi Muhammad SAW yang berjarak 14 abad dianggap adalah sebuah kemuliaan bahkan kematian dalam mengawalnya adalah syahid, mengapa memperingati kematian cucu Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang salah bahkan layak untuk dibubarkan.

Husain bin Ali adalah orang yang ketemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Beliau sering dipangku bahkan dicium oleh bibir suci baginda Nabi SAW. Tetapi mengapa mencintai beliau dengan mengingat hari kematiannya seperti perbuatan nista. Ini yang saya maksud kepribadian ganda dikarenakan kecintaan kepada cucu Nabi Muhammad SAW itu seeprti dipilih-pilih bahkan kesannya cucu langsung seperti Husain bin Ali tidak mendapatkan sisi kecintaan yang layak seperti kecintaan mereka kepada cucu beliau yang berjarak 14 abad. Hingga hari ini logika mencintai berlebihan bahkan terkesan taklid buta keturunan yang berjarak 14 abad bagi saya adalah logika yang tidak memiliki pijakan yang jelas. Dia adalah keturunan yang berjarak jauh dan tidak ada landasan yang menjelaskan kesucian dia dari dosa. Dan tentu ketika dia berbuat salah dengan membuat kegaduhan di dalam negeri, maka seharusnya pengawal ini menasehatinya agar mematuhi hukum yang berlaku. Bukan malahan membantunya untuk main kucing-kucingan dengan aparat keamanan.

Bukankah ia singa padang pasir yang tentu akan berani menghadapi apapun apalagi jika hanya berhadapan dengan penegak hukum. Jangan terus menerus hanya berani mengorbankan nyawa anak pengawalnya. Bukankah Husain bin Ali memberikan contoh ketika berhadapan dengan tentara laknat Yazid beliau tidak gentar sedikit pun hingga syahid di Padang Karbala yang sekarang masuk wilayah administrasi Irak. Ingat, dia yang merupakan cucu berjarak 14 abad dari Nabi Muhammad SAW ini bukanlah orang suci dan kematian dalam mengawalnya belum tentu disebut mati syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah SWT mengampuni dosa kita semua.

Makassar, 09 Desember 2020

 


Comments