JANGAN SURIAHKAN INDONESIA

 

Tensi politik di tanah air yang memanas dengan memasukkan bumbu bumbu agama kian kencang bahkan sudah lebih kencang lagi sejak era polarisasi lewat momentum Pilpres 2014, Pilgub DKI 2017 hingga Pilpres 2019. Saya melihat ada gelagat tersembunyi dari para mafia politik yang mencoba mengacaukan negara ini dengan menggunakan pendekatan Konflik Suriah. Gelagatnya memang seperti itu yang coba mereka lakukan. Dalam sebuah wawancara, M. Najih Arromadoni atau yang biasa disebut Gus Najih dan merupakan Alumni dari Universitas Damaskus menjelaskan keadaan suriah sebelum terjadinya konflik yang telah menghancurkan negara yang dahulu dikenal dengan sebutan Syam tersebut.

Jika kita lihat kondisi Suriah sebelum terjadinya konflik maka Suriah adalah negara aman, damai, bahkan merupakan salah satu dari 10 negara paling aman di dunia. Mobil diparkir di pinggir jalan dan bahkan menurutnya ia tidak pernah menjumpai kriminalitas selama hampir 10 tahun bermukim disana. Dari segi kesejahteraan pun rakyat sejahterah dengan sistem negara sosialis. Seperti yang kita ketahui banyak negara sosialis yang menggratiskan pendidikan dan kesehatan termasuk Suriah di bawah kepemimpinan Bashar Al Assad. Pengalamannya selama kuliah disana yang menggunakan beasiswa dari pemerintah Indonesia, masyarakat disana sangatlah dermawan. Bahkan para pelajar disana sering diberikan makanan ataupun sesuatu yang berharga oleh masyarakat. Jika shalat dan habis itu mengaji serta kemudian duduk sambil menyandarkan diri di tembok masjid, tiba tiba saja ada yang mengisi kantong kita dengan uang. Dan puncak sedekah terjadi di bulan puasa ketika orang orang Suriah banyak sekali yang memberikan bantuan tak terkecuali kepada pelajar asing seperti Indonesia. Dan tercatat juga sebelum perang, Suriah adalah negara pengekspor sayur mayur untuk negara negara tetangganya.

Satu mungkin yang berbeda dari kebanyakan negara sosialis, masyarakat Suriah adalah salah satu masyarakat yang paling relijius. Banyak ulama yang mereka hasilkan bahkan karya ulama ulama mereka banyak dikutip oleh masyarakat islam tak terkecuali masyarakat islam di nusantara terutama di pesantren-pesantren. Sebenarnya kesalahan pemerintah Suriah adalah main set mereka yang menilai ancaman itu hanyalah ancaman senjata. Padahal bukan hanya itu, ada ancaman yang lebih berbahaya lagi dan lebih soft penyebarannya yang harus diwaspadai yaitu ancaman ideologi dan propaganda. Dahulu juga disana sebelum terjadinya konflik, kelompok radikal dan intoleran seperti wahabi sudah masuk dengan membangun masjid. Mereka bukan hanya membangun infrastruktur seperti masjid tetapi juga memasukkan ideolog radikal dan intoleran mereka. Di Suriah ketika itu, pelaksanaan kegiatan maulid bahkan sudah dilempari oleh para kelompok intoleran dan radikal. Ulama disana sebenarnya sudah mengingatkan kepada pemerintah. Tetapi Assad beranggapan selama mereka belum mengangkat senjata maka itu tidak dikategorikan sebagai ancaman.

Harus diketahui juga bahwa mereka menanamkan ideologi dibalut dengan propaganda. Bahkan propaganda mereka dibalut dengan hoax (berita bohong) karena gerakan radikalisme dan intoleransi ini menganggap berbohong dan memfitnah bagian dari strategi. Mereka mendistrorsi teks hadist sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Kita bisa mulai dengan dengan hoax yang mengatakan bahwa Bashar Al Assad adalah syiah yang membantai sunni. Jika kita pakai analisis sedikit saja, Assad yang sudah berkuasa sejak tahun 2000an, jika mau membantai seharusnya sudah sejak tahun itu terjadi bahkan bisa lebih lama lagi jika yang dihitung adalah kepemimpinan ayahnya Hafeez Al Assad. Kemudian yang seperti menggeletik nalar kita adalah jika ia membantai sunni mengapa kabianetnya diisi oleh mayoritas sunni. Mufti Suriah orang sunni, Menteri Wakaf orang sunni, bahkan jabatan sestrategis Menteri Pertahanan diisi oleh orang sunni.

Fitnah kemudian adalah memasang poster Assad di lantai kemudian difoto dengan orang sujud di dekatnya dan diberikan narasi bahwa Presiden Assad mengaku sebagai Tuhan. Seperti juga ketika ada fitnah yang mengatakan Assad mengganti Surah Al Ikhlas menjadi Surah Al Assad. Dan parahnya lagi yang menduuh Assad syiah dan membantai sunni adalah Yusuf Qaradawi. Ia merupakan orang yang dahulu mendukung Assad ketika berkunjung ke Damaskus yang merupakan ibukota Suriah pada tahun 2003. Ia berujar bahwa inilah pemimpin Arab yang paling luas wawasanya. Sikap Qaradawi berubah “seperti air di daun talas” pada tahun 2011 dengan mengeluarkan fatwa bahwa yang berdiri bersama pemerintah Assad baik itu ulama, tentara maupun sipil harus dibunuh. Ini sama kasusnya dengan apa yang terjadi di Indonesia. Ketika Presiden Jokowi bertarung di Solo, Jawa Tengah ia didukung oleh partai agama yang terkenal solid dan militan. Tetapi di tahun berikutnya di Pilkada DKI hingga Pemilihan Presiden, maka kader dan simpatisan partai agama ini jugalah yang memfitnah Presiden Jokowi sebagai keturunan partai terlarang. Jelas sekali pola Suriah coba mereka kembangkan di Indonesia.

Sebenarnya bukan hanya para radikalis dan inteloeran yang memainkan propaganda busuk ini, tetapi di belakang mereka ada mafia politik yang coba mengganggu stabilitas politik nasional dikarenakan “periuk nasi” mereka perlahan lahan disingkirkan. Ia tidak peduli stabilitas nasional akan goyah karena baginya stabilitas keuangan mereka lebih penting. Hal lain yang harus dipahami juga bahwa Suriah bukan hanya dihancurkan dari dalam, tetapi ada campur tangan asing yang bermain. Keengganan Assad untuk menjadikan negaranya sebagai jalur pipa gas dari Qatar menuju Eropa menjadi salah satu penyebab Assad digoyang negara luar. Ini sama juga dengan beberapa tindakan Presiden Jokowi yang coba digoyang oleh beberapa kekuatan dikarenakan sepak terjangnya yang mencoba memutus rantai mafia tersebut. Ingat bagaimana petral dibubarkan dan Freeport diamankan.

Pemerintahan Jokowi harusnya menjadikan kehancuran Suriah sebagai pelajaran untuk Indonesia. Gerakan radikal dan intoleran sudah seharusnya dilawan dengan tindakan tegas dan terukur. Tidak ada lagi pembiaran gerakan kebencian terhadap agama, suku, dan kelompok tertentu. Awasi kegiatan kegiatan radikal dan intoleran yang memakai topeng agama. Ceramah ceramah yang terus memprovokasi harusnya ditindaki oleh aparat. Di media sosial saja beberapa penceramah melenggang bebas dengan mengolok olok kepercayaan pihak lain. Ada juga yang mengumbar kata tidak pantas seperti penggal, bunuh, dan narasi mengerikan lainnya. Belum lagi ada ormas yang merasa berada di atas hukum. Jika pemerintah tidak tegas bukan tidak mungkin apa yang terjadi di Suriah merembet ke Indonesia. Semoga tidak terjadi dan Indonesia aman aman saja.

Makassar, 14 Desember 2020

 


 

Comments