TRADISI ROYONG DALAM SASTRA LISAN SUKU MAKASSAR

 

Berdasar sejarah masyarakat suku Makassar, adalah salah satu etnik yang memiliki tradisi tulis yang sangat tua. Masyarakat Makassar menuangkan perasaan mereka, pikiran mereka, harapan mereka, cita cita mereka, dan pengetahuan mereka melalui tulisan. Namun demikian tidak berarti orang Makassar tidak memiliki tradisi lisan dalam tradisinya. Inilah yang membuktikan bahwa kebudayaan Suku Makassar sangat luas dan tentu sangat istimewa apalagi jika berbicara persoalan bahasa termasuk sastra lisan. Jauh sebelum kedatangan islam di nusantara sebuah tradisi sastra lisan telah tumbuh subur di tengah masyarakat Makassar yang disebut dengan istilah royong. Nyanyian royong atau royong adalah senandung magis yang mengiringi hampir semua aspek ritual kehidupan orang Makassar. Dalam sejarahnya, royong dinyanyikan dan dilantunkan oleh perempuan paruh baya untuk anak kecil yang masih berumur 40 hari. Nyanyian ini dlantunkan tanpa diiringi musik ketika hendak menidurkan bayi atau ketika si bayi dalam keadaan gelisah dan menangis terus menerus. Dalam perkembangannya, ritual ini juga berkembang dan dimasukkan dalam berbagai kegiatan adat lainnya seperti accera kalompoang yaitu pencucian benda pusaka kerajaan, pakbuntingang atau acara perkawinan, passunnakkang atau acara sunatan, akkattang atau cara sunatan bagi anak anak perempuan, nipasori baju bodo yaitu acara akil balig bagi perempuan dengan ditandai memakai baju bodo, attompolok atau akikahan, dan acara tukkusiang atau acara penyembuhan penyakit cacar.

 

Royong dalam prakteknya hingga generasi sekarang tidak terlalu banyak mengalami perubahan, baik dari segi penyajian nyanyian masih menggunakan gaya orisinal dengan mulut di tutup tangan yang dikepal, sehingga setiap aksen katanya tidak jelas bila dilihat dari ritual upacara pernikahan dan justru disitulah letak sisi magis dan sakralnya. Berbeda ketika hendak menidurkan anak, aksen katanya lebih jelas sehingga sisi magis terkadang hilang tetapi eksistensi maknanya tetap terjaga. Namun semenjak masuknya islam dan menjadi pedoman raja-raja di tanah Makassar seperti di Kerajaan Gowa, royong yang dahulu dalam setiap siklus hidup menjadi sesuatu yang sakral, kini mengalami transisi menjadi pengiring tari dan kegiatan lainnya. Di sebuah daerah di tanah Makassar tepatnya di Kelurahan Salaka Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan sebagian masyarakat yang bisa dikatakan lebih modern sering memanggil jasa penutur royong bukan dikarenakan faktor sakral atau magis dari royong tersebut, tetapi lebih kepada faktor tingkatan sosial. Sedangkan bagi masyarakat yang masih percaya akan kesakralan dan kekuatan magis royong berkeyakinan bahwa syair dalam royong mampu mendatangkan kebahagian atau keselamatan. Dan yang paling unik adalah ritual ini dilakukan demi menghormati leluhur mereka. Konon jika tidak melaksanakan kegiatan royong ini, maka leluhur mereka akan datang dalam bentuk bermacam-macam.

 

Kepercayaan lain tentang kesakralan royong yaitu dijadikannya perantara dalam berdoa kepada sang pencipta. Mirip seperti doa tawassul yang dilakukan oleh beberapa kelompok islam. Jika doa tawassul identik dengan menjadikan Nabi Muhammad SAW dan para keturunanya sebagai perantara dikabulkannya permohonan doa, maka keyakinan royong terletak pada lirik lirik royong yang dianggap magis dan memiliki kekuatan supranatural. Berdoa adalah persoalan waktu dan redaksi sehingga dengan kata lain, ini adalah persoalan hubungan atau interaksi manusia dengan Sang Pencipta melalui kata-kata. Mistisisme dibalik royong juga diperlihatkan dalam bentuk larangan-larangan seperti terlebih dahulu harus menyiapkan jajakang, harus diiringi tunrung pakballe, dinyanyikan oleh wanita tua, harus diwariskan kepada keluarga dekat. Jika dilanggar maka pa’royong akan mendapat musibah.

 

Beberapa contoh royong berdasarkan klasifikasinya :

 

Royong Pajappa Daeng (dilantunkan pada saat upacara perkawinan)

 

lyole-yole pajjapa Daeng Tau numaloang sassang pa Daeng Baji pa Daeng Tekne pa Daeng Bukakkarrang bawanu cinna pa daeng. Anrong antemintu lamina kamaloloko sisappe ero rua pangngainnu. Bobboki rinring rijuluknu, numanasing risallonu namanai maberua. Nasipoke-poke genre, sitabba rappo lolo turukianna cinna nikacinnayya. Kontu memamng maloloa turukianna cinna nikacinnayya. Barakka laiilaha illallah

 

Ha si cantik yang manis orang yang lalu (lewat) memandangmu wahai kelamnya wahai kebaikan wahai manismu kata-katanya menyenangkan wahai cintamu. Tetapi bagaimana dengan orang tua muda-mudi yang saling berduaan keinginan akan berdampingan. Bukalah tirai hatimu, lupakan masa lalumu membentuk kehidupan baru. Saling menukar siri, saling memberi pinang muda mengikuti perasaan cinta mencintai. Memang demikianlah semasa muda mengikuti perasaan cinta rnencintai. Semoga diberkati Yang Maha Kuasa.

 

Royong Cui Nilakboro (dilantunkan pada saat malam Korongtigi)

 

Cui la ilau'mene manri'ba' sikayu-kayu mene, situntung-tuntungang ri passimbangenna Makka, ri alla'na Arapa, ri butta nisingarriamangaggaang ri sapa, namalo ri Marawa, ada menei makkio', ala kenna mappasengka, tulusu'mami mantama, attawapa' ri ka'bayya, ha'ji ribaetullayya.

 

Ninio'mi ri sehea, nitayomi ri pakkihia, kurru mae sumanga'nu, anak battu rite'nea, kutimbangiko doing, kurappoiko barakka', napappokoki, pakballe iballe nakkilolonna, ilena gulu'battanna, nasikuntumo numera, teamako ma'je'ne' mate-namate'nemo pa'mai'.

 

“Datanglah Cuwi, terbang sendirian, melayang tak hinggap-hinggap, di perbatasan Makka, di antara Arafah di tanah yang diterangi, lalu di Safa, juga di Merawah, mana dia yang memanggil, mana yang menyinggahkan, maka teruslah masuk, bertawaf di Kabbah haji Baitullah.

 

“Dipanggiilah oleh syekh, dijemput oleh fakih, bangkitkan sengatmu, anak datang dari bahagia. Kuhadiahi engkau doa, kujanjikan untukmu berkat, yang jadi sumber obat-obat penghias remaja, penawar isi perutnya. Maka semuanya menginginkan tak mau lagi berair mata dan bahagialah”.

 

Royong telah menjadi simbol untuk menyampaikan pesan maupun dianggap sebagai doa kepada Yang Maha Kuasa. Simbol ini begitu kuat karena melalui simbol ini maka keterbatasan manusia untuk mengungkapkan pengharapannya dapat diantarkan melalui simbol nyanyian dalam royong. Karena melalui simbol seperti royong, yang susah dan rumit dapat disimplifikasi dan disederhanakan dengan tepat oleh penggungahnya. Terakhir yang ingin saya sampaikan, di era sekarang masyarakat telah mengalami perubahan dari sisi tradisi maupun penggunaan bahasa yang mengakibatkan tradisi seperti royong dan penggunaan bahasa daerah seperti bahasa Makassar dengan ragam dialeknya terancam punah.

Penggunaan bahasa Indonesia yang begitu luas dari Sabang sampai Merauke harusnya tidak berimplikasi negatif terhadap eksistensi bahasa daerah seperti bahasa Makassar. Sebaiknya bahasa Indonesia hanya digunakan dalam pergaulan antar etnis maupun dalam urusan akademik. Sedangkan untuk penggunaan bahasa dan komunikasi dengan etnis yang sama, mari menggunakan bahasa daerah. Khusus tanah Makassar, penggunaan bahasa Makassar harusnya lebih masif digunakan baik di tanah Makassar itu sendiri dengan ragam dialeknya maupun mereka yang berdiaspora. Sama halnya juga dengan budaya seperti budaya royong, globalisasi yang mengakibatkan ekspansi budaya luar telah mengakibatkan beberapa budaya terpinggirkan dan terancam punah seperti royong ini. Mari galakkan lagi budaya budaya daerah dengan berbagai pertunjukan. Karena tanggung jawab budaya berada di pundak para pewaris budaya, dan itulah kita semua. Kita bukan Eropa, kita bukan Arab, kita bukan China, kita bukan Korea, kita adalah masyarakat nusantara yang punya peradaban dan budaya yang tinggi bahkan sejak zaman dahulu.

 

Makassar, 27 November 2020




Comments