YAMAN YANG TIDAK MENYERAH DI TENGAH SERANGAN AGRESOR ARAB SAUDI


Jika ada negara dengan mayoritas penduduknya muslim yang sedang diserang oleh bangsa lain dan diabaikan nasibnya baik itu dunia internasional maupun dunia islam maka jawabannya adalah Yaman. Negara yang berada di Selatan Arab Saudi ini, tidak seberuntung nasibnya seperti dukungan masyarakat internasional dan dunia islam terhadap Palestina di Timur Tengah dan komunitas Rohingnya di Myanmar hanya karena yang melakukan kejahatan terhadap mereka adalah sesama negara muslim dan Arab. Memang faktanya adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan beberapa negara Arab yang mayoritas penduduknya beragama islam ini melakukan penyerangan dan kejahatan terhadap kedaulatan negara Yaman. Seperti ada kesengajaan yang dilakukan, padahal kejahatan negara agresor tersebut terhadap Yaman sama sekali tidak main-main.

Dengan alasan ingin mengembalikan kekuasaan Presiden Yaman yang terguling yaitu Mansour Hadi, mereka menyerang Yaman tanpa mandat dari Liga Arab maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Target mereka adalah pejuang Ansarullah Houti walaupun pada kenyatannya yang mereka lakukan adalah pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak berdosa dan hingga kini puluhan ribu orang telah tewas akibat kejahatan tersebut. Belum lagi blokade yang terus menerus dilakukan oleh Saudi dan sekutunya yang mengakibatkan bencana kelaparan di negara termiskin di kawasan semenanjung Arab ini. Walauapun negara asal para habaib ini terus dizolomi oleh Saudi dan sekutunya, seperti tidak memantik sama sekali kepedulian kaum muslim dunia termasuk muslim Indonesia. Mereka seperti bukan bangsa Arab karena diserang sesama bangsa Arab padahal ada musuh nyata bangsa Arab yaitu Zionis Israel. Mereka juga seperti bukan negara mayoritas muslim karena ketidak pedulian masyarakat muslim pada umumnya, berbeda perlakukan yang diberikan kepada Palestina dan Rohingya.

Penyerangan terhadap Yaman yang dilakukan oleh Saudi justru menjadi tanda tanya besar, mengapa Saudi dan sekutunya begitu bergairah menyerang sesama negara muslim. Peralatan perang yang canggih yang didatangkan dari Inggris dan Amerika Serikat (AS) itu justru dipakai untuk membunuh sesama negara muslim. Jika alasannya ingin mengembalikan kekuasaan mantan Presiden Mansour Hadi, maka Saudi dan sekutunya paling tidak harusnya mendapat terlebih dahulu dari Liga Arab sebagai representasi perwakilan negara-negara Arab. Atau juga mandat dari PBB sebagai organisasi dunia. Tetapi yang terjadi adalah Saudi dan sekutunya mengulang kembali kisah teror yang dilakukan oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang memporak-porandakan Libya dan justru setelah serangan itu negara ini menjadi negara yang kacau balau karena hampir setiap hari terjadi perang saudara. Padahal sebelum Muammar Khadafi tumbang, Libya merupakan salah satu negara makmur di kawasan Afrika Utara. Janji kebebasan ala NATO dan janji khilafah islamiyah ala kaum pemberontak disana hanyalah bualan semata yang bisa dikatakan utopia saja. Alasan kebebasan dan khilafah islamiyah hanyalah kedok untuk menguras sumber daya alam Libya.

Itulah juga yang terjadi di Yaman di tengah gencarnya serangan Saudi dan sekutunya. Tanpa mandat dari Liga Arab dan PBB, justru yang terjadi adalah kesengsaraan rakyat Yaman karena dibunuh dan diblokade.  Padahal Yaman sama sekali tidak pernah menyerang kedaulatan Arab Saudi maupun negara-negara sekutunya. Bahkan yang dilakukan oleh Saudi dan sekutunya ini lebih parah daripada apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Jalur Gaza. Jika Israel beralasan mereka mendapat teror dari Jalur Gaza berupa roket (walaupun alasan ini sangat sulit untuk dipercayai) dan melakukan serangan balasan, justru Saudi menyerang Yaman tanpa ada serangan terlebih dahulu dari Yaman. Jika kita menganggap Israel adalah penjajah Palestina, maka hal yang sama seharusnya berlaku untuk Saudi dan sekutunya yang menyerang dan memporak-porandakan Yaman sebagai sebuah negara berdaulat. Dan kejamnya bukan hanya itu yang dilakukan, watak Saudi sudah seperti Zionis Israel yang memblokade jalur laut di Jalur Gaza. Saudi dan sekutunya memblokade makanan dan obat-obatan terhadap yaman. Apakah ini sudah sesuai dengan ajaran islam.

Walapun Yaman terus dibombardir dan diblokade oleh Saudi beserta sekutunya, tetapi alhamdulillah perjuangan Yaman untuk mengusir penjajah tidak pernah padam. Bahkan pejuang Ansarullah Houti berujar jika dahulu roket mereka hanya mampu menjangkau perbatasan Yaman Utara dan Saudi Selatan, maka target mereka selanjutnya adalah menembakkan rudal yang dapat menjangkau Riyadh hingga mencapai istana Raja-Raja Arab Saudi. Saya pikir apa yang ditargetkan oleh para gerakan muqawwamah (perlawanan) seperti Ansarullah Houti ini bukan hanya sebatas gertak sambal saja, tetapi ini sangat memungkinkan untuk terjadi sampai akhirnya Saudi dan sekutunya angkat kaki dari Yaman seperti angkat kakinya Zionis Israel dari Lebanon Selatan di tahun 2000 setelah kalah perang dari Hizbullah. Ini yang mendasari keyakinan saya bahwa suatu saat jika Saudi tidak angkat kaki dari Yaman, maka rudal mereka akan menghantam istana Raja-Raja Saudi di Riyadh seperti keberhasilan Hizbullah mengusir Israel. Ansarullah Houti dan Hizbullah adalah gerakan perlawanan rakyat yang sama-sama membela tanah air untuk mengusir penjajah dan agresor asing. Saya yakin itu akan terlaksana. Insya Allah.

Panasakkang Maros, 14 Juli 2020




Comments