Sastra lisan merupakan jenis sastra yang tersimpan
dalam bentuk hafalan dan tutur secara turun temurun. Beberapa jenis sastra
lisan berikut ini yang masih tercatat dalam budaya masyarakat Makassar, yaitu:
Kelong : Nyanyian
Paruntu Kana : Peribahasa
Parumama : Dongeng
Boto-Botoeng : Teka-Teki
Pangngissengang : Ungkapan Bertuah
Untuk artikel kali ini, saya akan mencoba
memberikan beberapa contoh sastra lisan Makassar dalam bentuk kelong. Sastra
lisan kelong sendiri terbagi atas tiga jenis yaitu Kelong Biasa yang berisi
nyanyian yang umumnya dituturkan pada waktu senggang dan tidak tersangkut paut
dalam sebuah kegiatan/ peristiwa. Kemudian ada yang disebut sebagai Kelong Pappasang
atau nyanyian yang berisi petuah-petuah kebajikan dalam menjalani kehidupan.
Serta yang terakhir adalah Kelong Turungka yang bersinggungan dengan nyanyian
pemuda yang sedang dimabuk asmara. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat contoh
dari beberapa jenis Kelong ini. Saya awali dari bentuk Kelong Biasa, berikut
contohnya:
Sakribattangaji tojeng/ Saudara yang sebenarnya
adalah saudara sekandung
Iyaji kalli majarre/ Merekalah yang pantas menjadi
pelindung
Pindu cikali/ Sepupu satu kali ataupun sepupu dua
kali
Naempoi ranggasela/ Masih diragukan kesetiaannya
Ikau lampassikola / Kau pergi bersekolah
Inakke makkalawaki/ Saya pergi mengembala
Ikau tamma/ Kau tamatkan sekolahmu
Inakke makrenreng tedong/ Saya menuntun kerbau
Apayya kau nupasang/ Kepada siapa kau akan berpesan
Punna nakku ri ammaknu/ Jika rindu pada ibumu
Inakke iyya/ Adapun saya
Anginga punna lammiri/ Berpesan kepada angin yang
bertiup
Contoh berikutnya adalah Kelong Pappasang, yaitu
sebagai berikut:
Lompobattangmonjo cini/ Lihatlah gunung
Lompobattang
Tikrinna Bawakaraeng/ Tingginya menyamai gunung
Bawakaraeng
Itea gio/ Tapi dia tidak banyak gerak
Itena taklenggang-lenggang/ Juga tidak
melenggak-lenggok
Manna kere-kere mae/ Kemana pun kita pergi
Punna sipak lasarenta/ Jika ajal datang menjemput
Manna tamparang/ Bahkan lautan pun
Bombang pakkuburang tonji/ Dapat dijadikan kuburan
Intang tauwwa kananna/ Perkatannya laksana intan
Jamarro panggaukanna/ Perbuatannya bagaikan emas
Baji ri lino/ Beruntunglah ia di dunia
Kanangi bone suruga/ Sungguh cocok jadi penghuni
surga
Contoh yang terakhir adalah Kelong Turungka sebagai
salah satu jenis Kelong yang merupakan kekayaan sastra lisan kebudayaan
Makassar. Adapun contoh dari Kelong Turungka adalah sebagai berikut:
Nampa memangki kucini/ Sejak kau ku lihat
Na kukana memang tommo/ Ku langsung berkata
Anjoreng minjo/ Pasti inilah tempatnya
Makaraeng pakrisikku/ Cinta kasihku akan berlabuh
Tasalasa ku kellai/ Saya tidak berharap kehancuran
Tasaju ku minasai/ Tidak pula berharap kesengsaraan
Erokku tonji/ Saya hanya berharap
Ripakmai tamamminra/ Hati yang selalu setia
Sitali-tai doekku/ Uangku hanya sedikit
Kupoto ri saputangang/ Ku ikat dalam saputangan
Keremo sunrang/ Manalah uang panaik
Keremo taja paknikka/ Manalah yang jadi mahar
Jenis sastra lisan termasuk Kelong ini adalah
sebuah karya dalam kebudayaan Makassar yang tidak kalah indah dan menarik baik
secara lirik maupun iringan musik dari jenis nyanyian budaya lain dan tentu harus
dijaga kelestariannya. Ada baiknya jika memiliki waktu senggang kita dapat
sekali-kali bernyanyi dengan mengutip beberapa contoh Kelong di atas sebagai
praktik langsung menjaga kelestarian budaya leluhur. Bahkan bisa kita lihat
sekarang, mungkin sudah akan sangat sulit kita melihat generasi muda
menyanyikan jenis Kelong ini. Mereka rata-rata lebih fasih dan familiar dengan
lagu modern berbahasa Indonesia bahkan banyak juga yang tertarik dengan lagu
berbahasa asing. Untuk itulah hal ini menjadi tugas kita masing-masing kembali
memasyarakatkan Kelong-Kelong ini sebagai warisan leluhur yang harus dijaga
sehingga tidak menjadi tamu di negeri sendiri.
Panasakkang Maros, 07 Juli 2020

Comments
Post a Comment