Dalam sebuah pengantarnya, Mulla Sadra menceritakan
bahwa asal usul pencapaian filsafatnya yaitu:
“Aku bertaubat di hadapan Allah karena menghabiskan
bertahun-tahun dalam hidupku mengikuti pendapat Mutakallimin (baik Asy’ariah
maupun Mu’tazilah) dan mereka yang berpura-pura paham tentang filsafat.
Akhirnya dalam cahaya iman dan bantuan Tuhan, teranglah bagiku bahwa edukasi
mereka sangat absurd dan jalan yang ditempuh menyesatkan. Karena itu, aku
serahkan diriku di hadirat Tuhan dan tuntunan Rasul pemberi peringatan. Maka
aku yakin akan akidah mereka dan meneguhkannya. Aku tak pernah memberikan
pembenaran imajinatif atas kebenaran atau merumuskan metode yang dialektis. Aku
melangkah dalam jalan petunjuknya dan berusaha untuk menahan dari apa yang
dilarangnya. Aku lakukan itu untuk menunjukkan kepatuhanku pada firman Tuhan
yang agung. Akhirnya, Tuhan membuka mataku pada apa yang semestinya aku lihat
dan menghadiahi aku karena ketaatanku kepadaNya dengan kemenangan dan
kesetiaan.”
Sebagaimana Sadra telah mencapai pengetahuan
tentang kebenaran dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, ia juga
menyampaikan pemikirannya untuk membawa orang agar berjalan menuju Allah.
Ibrahim Kalin berujar filsafat Mulla Sadra sebagai “ontology metafisik”, karena
bagi Sadra telaah menganai wujud tidak hanya sebatas pada penelitian tentang
sifat-sifat sesuatu atau proposisi eksistensia. Pembahasan tentang wujud juga bukan
hanya sebuah sistem filsafat yang didasari pada pemikiran wujud yang abstrak
tetapi menjadi sebuah “doktrin keselamatan”, sebuah pencarian yang disebut
Rudolph Otto, mistikus barat, sebagai “saving actualities”. “Al Wujud, konsep
sentral Sadra merupakan wajah Tuhan yang diarahkan ke alam. Pembahasan wujud dapat
dipahami sebagai satu langkah untuk menyingkap aspek Yang Ilahi, yang menjadi
sumber segala wujud dan pengetahuan. Pengetahuan tentang wujud diperlukan agar mencapai
pengetahuan ketuhanan. Jika kita tidak menyadari hakikat wujudnya, ia tidak
akan bisa memperoleh pengetahuan lainnya.
Mulla Sadra menambahkan:
“Karena problem wujud adalah dasar prinsip
penilaian dan masalah ketuhanan, sekaligus pusat yang kokoh untuk berputarnya
keesaaan, kebangkitan, kehidupan kembali roh dan tubuh, dan sebagainya, orang
yang tidak memiliki pengetahuan tentang wujud akan kehilangan kesadaran tentang
banyak prinsip dan ajaran ilahi. Kejahilannya tentang masalah ini akan
menyebabkannya kehilangan aspek rahasia dari ilmu ketuhanan.:”
Dan tentunya bagi Sadra, seperti dalam pandangan Phitagoras
dahulu kala bahwa filsafat tidak hanya berbicara tentang sofos yang berarti
kearifan tetapi juga berbicara tentang philos yang berarti cinta. Cinta disini
berkaitan dengan kebajikan atau virtue. Para filsuf besar Yunani seperti Phitagoras,
Socrates, Plato, hingga Aristoteles itu berbicara tentang bagaimana cara meraih
kebahagiaan, eudomania, dengan melakukan kebajikan yang didapatkan dari
renungan falsafahnya. Di dunia Barat sekarang ini, diksi filos dan sofos ini telah
dipisahkan. Pada awal perkembangan filsafat islam sebenarnya, para filsuf islam
seperti Al Farabi dengan setia mengikuti guru-guru Yunaninya yang menggabungkan
pemikiran filsafat dengan kebajikan. Karena kesetiaan pada guru filsafat Yunani
itu, maka kebajikan yang ia pahami merupakan kebajikan Yunani. Pada hikmah Muta’aliyah,
Sadra menggabungkan metafisika dengan “praxis”. Maksud dari penggabungan ini yaitu
pemikiran dengan kebajikan dan kebajikannya adalah kebajikan islam.
Salah satu doktrin metafisik paling mendasar dari
Sadra adalah Harakat Jawhariah, yang merupakan gerakan transformasi
substansial. Artinya semua makhluk tidak hanya berubah pada aksidennya tetapi
juga pada substansinya. Ketika kulit muda saya berubah menjadi lebih keriput, maka
saya mengalami perubahan aksiden. Tetapi menurut Sadra, perubahan yang terjadi
lebih dari itu. Seluruh “aku” saya berubah juga sehingga saya sekarang bukanlah
saya yang dahulu. Ibnu Sina seorang filsafat islam lainnya menolak konsep versi
Sadra ini. Ia berkata jika memang seperti itu maka Ibnu Sina nanti berarti
bukan Ibnu Sina sekarang. Memang seperti itulah kata Sadra, semua “ada”
mengalami perubahan dalam intensitasnya, baik itu lebih kurang maupun lebih
banyak, ataukah lebih intensif maupun lebih deintensif.
Harakat Jawhariyah dimulai ketika Tuhan berfirman
“kun fayakun” yang berarti “maka jadilah”, dan semua makhluk merespon perintah
ini. Inilah yang disebut Al Hukm Al Takwini, yang berarti hukum yang “membuat
ada”. Tidak ada yang bisa berlepas dari hukum ini. Semua bergerak dan berubah
baik itu ke atas maupun ke bawah. Terkhusus untuk makhluk yang punya kebebasan
untuk berkehendak (free will) di dalam gerakan ini masih ada gerakan lain. Gerakan
ini dimulai dari perintah Tuhan dan inilah yang disebut sebagai Al Hukm Al Tadwini.
Gerakan pertamanya adalah keniscayaan dan gerakan kedua yaitu pilihan. Sadra juga
menyebutnya dengan ragam istilah yaitu Harakah Iradiyyah (gerakan dari
keinginan), Harakah Ikhtiyariah (gerakan karena pilihan), dan Harakah ‘Aradhiyyah
(gerakan aksidental). Dan kesimpulannya bagi Sadra bahwa filsafat tidak hanya semata-mata
latihan mental, tetapi juga merupakan peta perjalanan bagi jiwa dalam
menyempurnakan dirinya.
Panasakkang Maros, 06 Juli 2020

Comments
Post a Comment