Sastra Makassar yang diabadikan di dalam lontara adalah
cerminan dan tingkah laku dan pola pikir masyarakat suku Makassar berabad-abad
lampau. Sastra ini adalah warisan budaya yang diajarkan secara turun temurun
dan terkandung nilai-nilai budaya yang sangat tinggi. Sastra juga secara umum
mampu memberikan gambaran tentang cara berpikir, tingkah laku, dan segala aspek
dalam ruang lingkup budaya tersebut dalam hal ini budaya suku Makassar. Contoh
kearifan lokal dalam sastra Makassar ini dapat dibaca dalam berbagai lontara
seperti rapang, pappasang, ulu kana, dan kelong. Menurut Koentjaraningrat
(1984:41) nilai budaya merupakan konsep hidup di dalam alam pikiran sebagian
besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus dianggap sangat bernilai di
dalam kehidupan. Oleh karena itu suatu sistem nilai budaya berfungsi sebagai
pedoman aturan tertinggi bagi kelakuan manusia, seperti aturan di dalam hukum
masyarakat. Nilai budaya itu biasanya mendorong suatu pembangunan spiritual seperti
keagamaan, kepemimpinan, kepahlawanan, keteguhan, kejujuran, toleransi, dan
gotong royong. Pendapat ini diungkapkan oleh Djamaris (1990:3) perihal
pendapatnya mengenai budaya.
Lontara dalam budaya suku Makassar adalah sumber
nilai budaya Makassar yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke
generasi selanjutnya. Petuah yang terdapat di dalam lontara disebut sebagai Rapang.
Rapang ini berisi berupa Pangngajak atau nasehat, Pappasang atau wasiat, dan Ulu
Kana atau perjanjian. Penjelasan lebih detailnya adalah bahwa Pangngajak merupakan
sesuatu yang dinasehatkan, kadang juga merupakan ungkapan berupa kata-kata
hikmah, dan kadang juga melalui cerita yang dituturkan dalam bentuk
pengibaratan. Pappasang berarti wasiat yang dipertaruhkan. Pappasang berisikan
keharusan dan pantangan. Orang yang memelihara pappasang akan selalu terpandang
di masyarakat. sedangkan Ulu Kana berisi perjanjian yang umumnya melibatkan
antar Negara baik itu berupa hubungan untuk menyatukan beberapa negeri maupun
perjanjian untuk mengakhiri masa perang.
Pada kesempatan kali ini saya akan lebih banyak
membahas contoh dari Pappasang, dan berikut contohnya:
“Anne pappasang karaeng matoaya nikanayya Sultan
Abdullah ri Karaengta Tumenanga ri Bontobiraeng. Nakana, ala appa la kupiturungiangko,
iyamo anne kanayya lima rupanna punna nualleanja. Sekremi rupanna, punna
nugaukang ciniki appakna gauka. Maka ruanna, teako malarroi ri tumalambusuka.
Maka tallunna, namallakko ri tumalambusuka. Maka appakna, teako mappilangngeri
kabara, ia pilangngeri kana tojenga. Maka limanna, iapi nisisakla makukuppako.
Sekre pole pappasanna, iapi na naratang taua mangngerangi niapi ri ia annanga
rupanna. Sekre rupanna somberekki, maka ruanna mataupi, maka tallunna baranipi,
maka appakna mallakkampi lanri matutuna, maka limanna nassempi matu-matua, maka
annanga nassempi nituaia. Sekre pole pappasanna, teako ampangaluppangi taua ulu
kananna. Punna mangngaluppai ulu kana, niattako makbundu. Teako angngonoki
janjinnu, tamangngalleako asasseng, teako sibaku, teako tamapporok, teako
mappare bawangi ri parenta tau, nu nisuro todong tau.”
“Karaeng Matoaya Sultan Abdullah berpesan kepada
Karaeng Tumenanga ri Bontobiraeng. Apa kiranya yang akan kuwariskan kepadamu,
mungkin memadai dengan lima perkara perkataan ini saja. Jika engkau indakan,
maka inilah sumber perbuatan baik. Pertama, jika ada yang henda engkau
kerjakan, maka perhatikan akibat dari perbuatan itu. Kedua, jangan marah jika
engkau diperingati sama orang jujur. Ketiga, takutilah orang yang jujur. Keempat,
jangan dengarkan kabar angin, tetapi dengarkan apa yang benar. Kelima, barulah
engkau berpisah apabila engkau dalam keadaan terjepit. Sebuah lagi pesan
beliau, barulah orang berbuat patut dalam pergaulan jikalau ia melakukan enam
perkara ini. Pertama ramah tamah, kedua manusiawi, ketiga berani, keempat tahu
yang bermanfaat, kelima tahu adat, keenam mengetahui penghinaan atas dirinya.
Ditambah pula jangan lupakan ulu kana (perjanjian), sebab jika engkau melupakan
perjanjian maka engkau akan diperangi. Jangan engkau ingkari janjimu, jangan
pula engkau mengambil yang bukan hakmu, jangan bakhil, jangan engkau tidak
memafkan, jangan engkau berbuat sewenang-wenang kepada sesama manusia.
Berikanlah maafmu supaya engkau pun dimaafkan, dan perlakukan manusialah orang
yang kamu suruh supaya engkaupun dimanusiakan.”
Contoh lain dari pappasang adalh sebagai berikut:
“Pilangngeri ngasengi keknang, situlung-tulung
laloko ri sekrea jama-jamang na nuassamaturuk kana siagang panggaukang ka
tenamontu ansauruki jama-jamang nipassamaturukia. Inai-inai tau antulungi
paranna tau simata natulugi tongi antu ri Allah Taala. Na inai-inaimo tau
angkapallaki paranna tau nikapallaki tongi ri Karaenga.”
“Dengarlah kalian, tolong menolonglah kalian dalam
suatu pekerjaan lalu seia sekatalah dalam setiap tindakan karena tidak ada lagi
dapat mengalahkan pekerjaan yang disepakati. Barang siapa yang menolong
sesamanya Allah akan menolongnya pula. Dan barang siapa yang tidak
memperdulikan lagi sesamnya, maka Allah pun tidak akan memperdulikannya.”
Sebenarnya masih banyak contoh dari Pappasang,
tetapi untuk artikel kali ini saya hanya mencantumkan dua contoh saja. Contoh
dari Pappasang ini hendaknya dijadikan oleh masyarakat Makassar sebagai tata
cara kehidupan mereka sehari-hari termasuk para pemangku kepentingan dalam hal
ini Walikota Makassar beserta jajarannya maupun Gubernur Sulawesi Selatan
berserta jajarannya. Bahwa ada hal-hal yang harus mereka patuhi agar
kesinambungan hubungan antara alam, manusia, dan Tuhan dapat terjaga. Sehingga
banjir, kebakaran, hingga wabah covid-19 dapat kita hadapi dan lalui bersama.
Panasakkang Maros, 12 Juli 2020

Comments
Post a Comment