Alexis Carrel (1873 M - 1944 M) merupakan
seorang filsuf dan ilmuan dari Prancis yang mendapatkan nobel di bidang
kedokteran. Ia pernah berkata bahwa dirinya percaya akan pentingnya sebuah doa.
Sekadar diketahui bahwa ada begitu banyak filsuf, pemikir, atau kaum agamawan
yang berdoaa. Tetapi ketika seorang dokter yang nota bane adalah seorang saintis
yang ahli saraf berbicara tentang manfaat dari doa seperti Alexis Carrel maka
tentu ceritanya akan berbeda. Di sebuah karyanya ia berkata bahwa, “Pengabaian
doa dan tata caranya adalah pertanda kehancuran suatu bangsa. Masyarakat yang
mengabaikan ibadah adalah masyarakat yang berada di ambang kemunduran dan
kehancuran. Roma adalah bangsa yang agung, namun secepat mereka meninggalkan
ibadah berdoa maka secepat itu pula kehinaan dan kelemahan dating menimpa
mereka”. Kemudian ia menambahkan, “Doa adalah pusaka yang selalu menyertai
pendoa. Pendoa akan terimbas cahaya doa dari ibadah di saat-saat diam dan
bergeraknya, serta pada tatapan wajahnya. Pendoa akan selalu bersama pusaka itu
dimanapun dia berada”.
Sebuah data statistik menunjukkan
bahwa para pelaku kriminal umumnya adalah mereka yang sama sekali tidak pernah
ataupun jarang berdoa. Sebaliknya mereka yang sering berdoa terhindar dari
perbuatan kriminal walaupaun kondisi finansial dan sosialnya merangsang mereka
untuk melakukan tindakan tersebut. Paling tidak mereka yang sering berdoa tidak
pernah menjadikan tindakan kriminal sebagai profesi. Carrel menambahkan bahwa
melalui data statistik pula seperti yang dipublikasan oleh Yayasan Lourdes
setiap tahunnya memuat beberapa orang yang sembuh berkat doa walaupun kemudian
ia mengakui akan adanya penurunan jumlah itu. Selanjutnya Carrel menjelaskan bagaimana
cara kerja dan pengaruh doa. Ia berujar bahwa, “Doa harusnya berakar dari
kekuatan, kesinambungan, dan keikhlasan. Demikain pula ia harus berasal dari
kata hati yang spontan dan bergairah. Memang spontanitas yang bergairah itu
indah sekali”. Begitu banyak teks doa islam seperti yang disebutkan oleh Carrel
bernada menganjurkan kita untuk selalu bermunajat seperti layaknya bayi cerewet
kepada ibunya.
Doa juga hendaknya memiliki
kekhusyukan sehingga dia tidak seperti halnya untaian kalimat yang “mempermainkan”
Tuhan. Kebanyakan yang terjadi itu melantunkan doa di lidah tetapi melupakannya
di kalbu. Sementara orang menipu diri dengan berkhayal mendapat dua pahala.
Mereka juga biasa hadir di majelis pengaderan sambil memanjatkan doa atau
melantunkan ayat-ayat Al Quran. Dan konyolnya lagi sebagian dari mereka bahkan
ada yang bermimpi mendapat tiga pahala sekaligus. Dengan asumsi telinga mereka
mendengarkan ceramah satu pahala, mata mereka membaca Al Quran dua pahala, dan lidah
mereka menggumamkan zikir mendapat tiga pahala. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa
itu sama saja dengan mengomersialisasi doa kepada Tuhan atau dalam bahasa
kasarnya “mempermainkan” Tuhan. Saya teringat dengan “doa keterlaluan” dalam masa
pilpres kemarin dari seorang artis yang dikatakan “berhijrah” yang mana di
dalam doanya hendak memosisikan dirinya adalah orang yang bisa “mengatur” Tuhan
dengan mengancamnya. Produk kebodohan ini bahkan dikemas dengan sedemikian rupa
sehingga terlihat sangat islami walaupaun sejatinya itu adalah “pengerdilan” akan
kekuasaan Tuhan. Dan lebih sialnya lagi karena doa yang “mengancam” Tuhan itu diikuti
oleh banyak orang bahkan mengangguk dan mengaminkan.
Mungkin banyak diantara kita yang
sebelum ini telah mendengar anjuran seperti yang saya jelaskan di atas. Akan
tetapi selanjutnya Carrel menambahkan penjelasan yang bisa jadi belum kita
tahu. Ia berujar, “Mereka berdoa dengan teriakan-teriakan yang membuat orang
yang mendengarnya menyumbat telinga mereka dari pagi sampai separuh siang
layaknya binatang-binatang buas. Bertingkah seperti itu dalam berdoa tidak akan
memengaruhi batin mereka sama sekali”. Artinya doa mereka tercemar oleh
bisingnya teriakan. Mereka berteriak dengan sekeras-kerasnya hingga menulikan
hati dan jiwa mereka. Kemudian juga mereka berteriak layaknya seperti berkicaunya
burung beo dengan kerasnya. Kalimat takbir yang merupakan salah satu bentuk doa
dan pujian kepada Allah, sekarang dengan mudahnya diteriakkan bukan ditujukan
untuk pujian kepada Allah melainkan kalimat yang ditujukan untuk mengintimidasi
dan memersekusi pihak lain yang dianggap salah. Nilai perbuatan mereka tidak
ubahnya seperti suara binatang-binatang saja yang keluar dengan kasar dan tidak
memiliki makna apa-apa. Bahkan bisa dikatakan doa mereka di pagi hari
terluapakn di siang hari.
Pertanyaan mendasar perihal doa
ini adalah, kapan sebenarnya seseorang dikatakan “berdoa”. Kapan pula dikatakan
bahwa dia “terikat dengan doa”. Jawabannya adalah ketika pendoa mendapat
pengaruh dan manfaat dari doanya dalam segenap keadaan dan hubungannya, baik
dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Artinya doa “seharusnya” memberikan
pengaruh yang luas dan dalam. Lazimnya seseorang yang berdoa mengharapkan
doanya tiba-tiba saja diterima. Dia mengharapkan doanya manjur. Dalam suatu
persitiwa Nabi Isa AS melewati sebuah jalan. Di ujung jalan duduk seorang buta.
pada saat Nabi Isa AS mendekat ke arahnya dan si buta itu mengetahuinya, segera
dia melompat dan memohon dengan marah dan kasar dari beliau agar penglihatannya
dikembalikan. Sebelum dia menyelesaikan rengekannya itu, Nabi Isa AS berkata
kepada, “Semoga Allah lebih dahulu mengembalikan imanmu”. Sudah sewajrnya kita
paham bahwa hakikat doa dalam perspektif islam itu sangat dalam dan jauh dari
kata kasar dan kurang ajar.
Makassar, 08 Juli 2020

Comments
Post a Comment