DOA PARA PENDOA

Siapa sebenarnya yang harus berdoa? Menurut Ali Syariati doa adalah memohon apa yang telah ditindaklanjuti dengan usaha, pekerjaan, dan pemikiran. Doa bukanlah cara memaksa untuk meminta godot atau sesuatu yang mustahil. Doa merupakan rentangan antara kehendak dan hasrat, pemantapan tiang-tiang agama, pelestarian kehendak dan akidah-akidah suci manusia. Jika tidak dilandasi dengan hal yang seperti itu, maka jiwa akan tetap tersimpuh dalam kubangan materi yang nista dan hina. Doa dapat juga dipahami sebagai perbuatan memohon keperluan hidup yang seharusnya ada pada diri kita dan bukan suatu keperluan yang berlebih-lebihan, mengada-ada atau diada-adakan.

 

Siapakah orang yang berdoa tersebut? Dia adalah orang yang dengan segenap potensi, keguncangan, kelembutan, cinta dan dirinya mengharapkan sesuatu. Dialah orang yang membuka tabir betapa jauh jarak antara modus being dan becoming yang harus ditempuh. Termonologi being dan becoming ini adalah temuan Erich Fromm dengan penjelasan bahwa pada intinya manusia di dunia ini selalu dilingkupi dua corak atau dua modus ontologis (hakikat hidup) yaitu being yang berarti keadaan yang telah dimiliki manusia baik secara spiritual, kognitif, mental, psikologi, maupun material. Sedangkan  becoming berarti proses manusia meningkatkan dirinya kepada yang semestinya.

 

Pendoa yang membuka tabir jarak being dan becoming ini adalah merka yang guncang dan bergetar karena selalu menginginkan sesuatu. Dia adalah orang yang selama-lamanya merindukan, membutuhkan, kehausan, dan merintih. Adapaun orang yang jarak antara being dan becoming nya tidak jauh maka dia hanya akan melakukan perjalanan yang pendek dan mudah. Orang jenis seperti ini hanya akan memikirkan kepentingan materialnya semata. Ia berdoa supaya perusahaannya tambah sukses, disehatkan jasmaninya, dan dihilangkan sifat kemalasan dari dalam dirinya. Sementara itu doa sebuah jiwa yang kehausan dan kasmaran adalah mi’raj keabadian, pendakian ke puncak yang mutlak, dan perjalanan memanjat dinding keluar dari batas alam fisik (mundus sensibilis).

 

Dalam islam sendiri sebagai agama yang menekankan pentingnya melakukan ritual ini, penekanannya bahwa doa bukan sesuatu yang ala kadarnya. Yang dimaksud doa bukan sesuatu yang ala kadarnya adalah teks-teks pelajaran filsafat dan akidah yang tersusun dalam bentuk dialog dengan Tuhan. Ia adalah sejenis buku penegtahuan kosmologi (asal usul alam semesta), theologi, dan antropologi dengan menggunakan gaya ungkap yang dalam, lembut, dan indah. Karakteristik doa dalam islam terbagi tiga. Yang pertama adalah doa merupakan percakapan dan dialog dengan Allah SWT. Di dalamnya terdapat sifat-sifat, kedudukan, dan dzat Tuhan serta hubungannya dengan makhluk terutama manusia, sengaja diutarakan. Jika redaksi percakapan itu dihapuskan, maka akan tampak seperti text book theologi dan sama sekai tidak serupa dengan doa lazim lainnya. Ia tidak lagi menggambarkan seseorang yang memohon sesuatu dari Allah SWT.

 

Kedua adalah iradat yang berarti kehendak ilahi yang meluap di dalamnya. Iradat ini bukanlah berasal dari hasrat dan kebutuhan material yang kita saksikan dan kenali. Akan tetapi, ia adalah sesuatu yang berasal dari perangai-perangai yang terpuji dan keutamaan-keutamaan yang mulia. Dalam doa-doa islam, kita seringkali menemukan permintaan seperti agar dianugerahi kebajikan, kebahagiaan, dan keadilan. Selain itu lantunan doa juga seringkali memohon untuk dijauhkan dari keadaan yang buruk seperti kehinaan dan kerendahan. Yang ketiga adalah doa harus memiliki saripati ideologis. Doa yang baik adalah doa yang tidak hanya memuat permintaan tetapi doa yang baik adalah doa yang juga mengandung dan mendiskusikan tema-tema theologis, manusia, etika, masyarakat, dan hubungan interpersonal. Selain itu doa yang sarat dengan saripati ideologis memuat tema pembahasan menghadapi petaka sosial, individual ataupun moral.

 

Dan apakah doa yang kita panjatkan selama ini memuat hal-hal seperti yang dijelaskan di atas. Ataukah doa yang kita panjatkan hanyalah berisi tentang kepentingan material kita, berisi tentang pemenuhan hafa nafsu diri kita, tanpa pernah sedikit pun merefleksikan doa sebagai senjata untuk mewujudkan keadaan masyarakat yang adil. Teringat pesan dari salah seorang revolusioner di tanah Amerika Latin. Beliau berkata seperti ini:

 

“Jika kau merasakan sakit dirimu maka kau hidup dan jika kau merasakan sakit orang lain maka kau manusia”

 

Doa harus juga memuat kepekaan-kepekaan sosial, bahwa tidak semua manusia seberuntung diri kita. Mungkin saja kita kesulitan ekonomi tetapi kita masih bisa makan. Dibanding dengan mereka yang sangat susah untuk makan walauapun hanya sekali dalam sehari. Mari kita panjatkan doa bukan dalam konteks pemenuhan kebutuhan material kita saja, tetapi panjatkanlah doa untuk kepentingan sesama manusia dan alam semesta.

 

Panasakkang Maros, 22 Juli 2020




Comments