DAENG PATOMPO, ALI SADIKIN DARI TIMUR

Berbicara tentang pesatnya pembangunan Kota Makassar sebagai kota terbesar di Indonesia Timur, maka tidak lengkap rasanya jika kita kita menyebutkan sosok Haji Muhammad Daeng Patompo atau yang lebih dikenal dengan nama Daeng Patompo atau Patompo. Pria yang pernah menjabat sebagai walikota Makassar dari tahun 1965  hingga 1978 ini bahkan mendapat julukan Ali Sadikin dari Timur. Patompo memiliki kemiripan dengan Ali Sadikin dalam "memanfaatkan" penyakit masyarakat yang dicap maksiat seperti melegalkan judi lotto, dalam membangun kotanya. Patompo merupakan anak kedua dari pasangan Puang Bakkidu dan Andi Besse Mappa. Bapaknya merupakan seorang pedagang besar serta memiliki darah bangsawan dan pemuka agama, sedangkan ibunya adalah keturunan raja di Kerajaan Binuang yang saat ini berada di Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat. Nenek Daeng Patompo yaitu Andi Paenrongi pada saat itu adalah raja atau selfbestuur. Masa kecilnya hampir seluruhnya dihabiskan di kampung halamannya dan Makassar adalah tempat menuntut ilmu hingga akhir masa pendidikannya.

 

Patompo dilantik pada tanggal 8 Mei 1965 hadapan Sidang Pleno DPRD. Patompo dapat dikatakan adalah salah satu Walikota fenomenal dalam sejarah Kota Makassar. Di era Patompo, Kota Makassar yang sejak awal memang sudah menjadi daerah yang sangat ramai dan pernah menjadi ibukota Negara Indonesia Timur (NIT) ini terus dibenahinya. Pria yang pernah mengikut pendidikan militer ini juga dikenal sebagai Wali Kota yang suka turun ke bawah atau dalam istilah sekarang dikenal dengan nama blusukan. Ia bersama-sama dengan warga melakukan gotong royong. Ia pun tidak segan memegangi alat kebersihan tanpa rasa malu. Sejak ia dilantik pada tahun 1965 dan ketika itu Kota Makassar masih bernama Ujung Pandang, Patompo langsung bekerja dengan nyata dan sungguh-sungguh dengan membuat program awal yang dikenal dengan istilah 3 K. Program ini bertujuan untuk memberantas kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan. Seiring dengan kebijakan Orde Baru yang diprakarsai oleh Soeharto, program 3 K ini pun ditambahkan dan meliputi 6 hal yaitu cukup lapangan kerja, cukup perumahan, cukup air minum/listrik, cukup pendidikan/kesehatan, cukup perhubungan dan cukup hiburan/olahraga. Adapun sasaran dari program ini adalah menjadikan Makassar sebagai kota dengan lima dimensi. Dimensi yang dimaksud adalah sebagai kota dagang, kota budaya, kota industri, kota akademi dan kota pariwisata yang tentu keluaran dari lima dimensi ini adalah menjadikan Kota Makassar sebagai kota metropolitan.

 

Untuk mewujudkan itu semua dapat dikatakan Makassar sudah memiliki modal. Seperti yang kita ketahui sejak zaman Sultan Hasanuddin, Makassar telah menjadi kota dagang. Selain itu Kota Makassar secara demografi sangatlah ramai karena banyak didiami oleh etnis dari luar daerah Makassar. Selain etnis Makassar sebagai penduduk lokal kota ini, ada banyak etnis lain yang mendiami kota yang dijuluki Kota Daeng ini. Ada etnis Bugis sebagai etnis yang paling dekat kekerabatannya  dengan etnis Makassar, ada juga etnis lain dari Sulawesi Selatan seperti etnis Toraja, Mandar, Luwu, dan Masenrempulu. Etnis luar Sulawesi Selatan pun banyak seperti Jawa, Melayu, Maluku dan bahkan beberapa etnis keturunan seperti Tionghoa pun ada banyak disini. Kota ini termasuk yang paling cepat berkembang di Indonesia Timur.

 

Seperti yang saya sebutkan dalam paragraph sebelumnya, Wali Kota yang dijuluki sebagai Ali Sadikin dari Timur ini membangun kota yang sebagian besar dananya berasal dari dana inkonvensional. Argumentasi yang tentu sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin di Jakarta walaupun ia mendapatkan kritikan keras dari para pemuka agama pada saat itu. Perkembangan Kota Makassar kala itu sangat mirip dengan perkembangan ibu kota Jakarta. Perekonomian yang maju dan berkembangnya kota berkorelasi positif dengan perkembangan dunia hiburan. Dan bahkan dapat dikatakan bahwa revolusi dunia hiburan metropolitan di kota Makassar tidak akan membutuhkan waktu lama untuk disejajarkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Hasil kerjanya yang hingga kini dirasakan dan dinilai sebagai karya monumental dan peletak ide dasar konsep megapolitan kawasan Mamminasata adalah perluasan dan pengembangan Makassar hingga meliputi dan mengambil beberapa wilayah dari Kabupaten Gowa seperti daerah Barombong, Karuwisi, Panaikang, Tello Baru, Antang, Tamangapa, Jongaya, Maccini Sombala dan Mangasa. Kemudian Kabupaten Maros ia mengambil daerah Bira, Daya, Tamalanrea, Bulurokeng dan Sudiang, dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan kebijakan Patompo mengambil daerah Pulau Kodingareng, Pulau Barang Lompo dan Pulau Barrang Caddi.

 

Selain itu, ia juga melakukan pembangunan sebuah tanggul yang kemudian diberi nama sesuai dengan namanya dan pengembangan konsep kota baru yang diberi nama Jungpandang Baru. Patompo juga memprakarsai pembukaan Jalan A.P. Pettarani yang diambil dari nama Andi Pangerang Petta Rani Karaeng Bontonompo Arung Macege Matinroe Ri Panaikang yang merupakan Gubernur Sulawesi di tahun 1956-1960 dan sekarang menjadi salah satu jalur terpadat di Makassar. Selain itu ia berhasil menjadikan Jalan Somba Opu menjadi jalur padat dan terkenal dengan pusat pertokoan emas dan alat-alat olahraga. Pada tahun 1970-an, Patompo berupaya mengejar semua mimpi-mimpinya mewujudkan kota modern. Patompo memiliki keinginan untuk menggeser pusat kota lama ke wilayah Panakukang. Di konsep Panakukang Plan, ia menetapkan Panakukang sebagai kawasan industri, kawasan pemerintahan, kawasan rekreasi, kawasan perdagangan, kawasan pariwisata dan kawasan perwismaan, yang menjadi kesatuan Garden City seluar 4.000 ha. Yang unik dari Patompo adalah walaupun Kota Makassar sebagian dana pembangunannya diambil dari dana maksiat berupa judi yang dilegalkan, ia adalah inisitator untuk melaksanakan Musabaqah Tilawatil Qur’ran di Makassar pada tahun 1968.

 

Dari beberapa hasil karyanya inilah walaupun mengambil jalan kontroversial seperti yang dilakukan oleh Ali Sadikin di Jakarta yang sebenarnya pada saat itu sesuai dengan kebijakan Rezim Orde Baru, tak heran jika Patompo menjadi wali kota yang paling dikenang oleh semua kalangan di kota Makassar mulai dari tukang becak yang dalam kacamata Bung Karno adalah kaum Marhaen hingga pengusaha besar yang sebagian menganggap mereka adalah borjuis. Hal terpenting dari seorang Patompo yang dapat kita petik adalah urusan kemaksiatan jika itu dikatakan adalah sebuah kesalahan maka harus dilihat sebagai urusan pribadi tetapi untuk urusan pemerintahan adalah urusan untuk menyejahterakan masyarakatnya. Jika ingin dikatakan sekuler, maka sekuler lah kebijakan ini. Tetapi tidak ada kemunafikan ketika menjadi seorang pemimpin termasuk kemunafikan yang dibalut dengan topeng agama.

 

Makassar 17 Juli 2020




Comments