BERHALA PSIKOLOGIS DALAM PERANG AGAMA MELAWAN “AGAMA”

Dalam sejarahnya telah dibuktikan bahwa agama telah berjuang melawan “agama” dan bukan non agama seperti yang banyak dipropagandakan oleh pihak yang kontra dengan agama. Bahwa monoteisme yaitu agama yang percaya bahwa Tuhan itu satu, dan merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim yang disebut Din Al-Hanif atau agama yang benar, terus menerus sepanjang sejarah berjuang melawan agama yang menolak bahwa Tuhan itu satu. Atau dengan kata lain yang dilawan adalah pihak yang percaya bahwa tidak ada Tuhan (kufr, tidak percaya, ateisme) atau juga melawan agama yang percaya pada Tuhan yang banyak (syirik, politeisme, multiteisme) dimana isitilah yang terakhir ini telah menjadi cabang dari penyembahan berhala.

 

Inilah permulaan yang menjadi rintangan bagi pemahaman yang benar terhadap agama dan suatu perbedaan yang justru diabaikan oleh intelektual Eropa seperti Karl Marx. Ia bersama dengan intelektual Kristen Eropa melakukan kritik terhadap agama, tidak memahami pentingnya perbedaan ini. Para intelektual Kristen Eropa ini hanya memandang agama seperti yang dipraktikkan. Atau yang disebut sosiologi agama sebagai “fungsi kependetaan” dari pemujaan status quo. Yang berarti apapun yang terjadi tidak akan mempersoalkan hakikatnya baik benar atau salah. Selain itu sepanjang sejarah juga agama memiliki fungsi lain yang jauh lebih penting. Fungsi ini dibawa oleh Nabi pilihan Tuhan, yaitu menyeru kepada umat manusia atau kaum yang menjadi sasarannya untuk menyembah kepada Tuhan yang satu dan berbuat kebaikan. Fungsi kenabian dari agama ini juga berfungsi sebagai alat protes melawan nilai-nilai dan kebijakan-kebijakan penguasa yang zalim.

 

Arti penting fungsi inilah yang diabaikan pada masa renaissans, reformasi, dan abad pencerahan di Eropa. Ketika itu mereka bereaksi terhadap penyalahgunaan agama oleh kaum pendeta yang beranggapan bahwa agama harus mengontrol pemikiran masyarakat, dengan menguasai kekuasaan dan kekayaan. Dengan demikian mereka dapat mengeksploitasi dan menindas atas nama Tuhan yang hingga sekarang contohnya banyak terjadi termasuk di Indonesia. Fungsi kenabian ini juga merupakan konfrontasi dua dimensi. Ia mengkofrontasikan diri dan berhala-berhala psikologis yang berada di dalamnya dan atau menghadapkan diri dengan berhala-berhala sosio politik dari luar. Konfrontasi dalam kedua kasus tersebut muncul lewat bangktinya kesadaran ganda tentang diri dan masyarakat.

 

Kita harus membangun kesadaran khas ini yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk kemampuan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Itulah sebenarnya kekuatan yang menyerupai kenabian seperti yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW. Dan pembelajaran tentang metode yang mereka gunakan, telah mengajarkan kemampuan ini. Seseorang yang mempunyai kemampuan ini disebut dalam terminolog islam sebagai penghancur berhala. Pada tingkatan psikologis, seseorang harus memulainya dengan pada kesadaran diri yang berarti menjadi sadar tentang berhala-berhala yang ada di dalam dirinya sebelum ia mempunyai kemampuan menyadari berhala-berhala tersebut di dunia luar dan dalam jubah sosio politiknya. Berhala-berhala psikologis ini jelasnya bukan seperti patung yang dimaksud. Bahwa yang dimaksud berhala psikologis menurut Ali Syariati (Hajj : Reflection on its Rituals) adalah sesuatu yang mesti dihancurkan di dalam diri kita karena hal itulah yang menghalangi ketertarikan penuh seseorang kepada Tuhan.

 

Apakah yang dimaksud berhala psikologis itu. Apakah jabatan, nama baik, posisi, profesi, kekayaan, tempat tinggal, mobil, ketampanan, ataukah yang lain. Jawabannya adalah kita sendiri yang mengetahuinya. Ali Syariati menjelaskan bahwa tanda-tanda yang dimaksud sebagai berhala psikologis  yaitu hal apa saja yang memperlemah diri kita di atas jalan keimanan. Apa saja yang mengajak anda berhenti untuk berbuat. Apa saja membawa keraguan terhadap tanggung jawab anda. Apa saja yang melekat pada anda dan menarik anda kepada kemunduran. Apa saja yang membuat anda lari pada kebenaran. Apa saja yang membawa anda kepada justifikasi, legitimasi, yang menyebabkan anda berbuat kejahatan. Dan segala sesuatu yang membuat anda tidak melakukan hal positif yang tentu muaranya adalah tindakan negatif.

 

Keadaan menjadi lebih kompleks pada tingkatan sosio politik. Manakala kekuatan seperti kekuasaan, prestise, jabatan keagamaan, dalam jubah yang melegitimasi kepercayaan terhadap Tuhan mereka yang mana konfrontasi itu langsung dan terbuka. Ada monoteisme melawan ateisme atau kufur, ada monoteisme melawan multiteisme atau syirik, ada monoteisme melawan penguasa tiran atau thogut dan ada monoteisme melawan penyembah berhala. Kekuatan yang sulit dideteksi adalah ketika kekuatan-kekuatan yang melawan monotiesme ini terletak di bawah selubung para penganut monoteisme dan berpura-pura atau dalam bahasa lain mereka berkamuflase. Secara lahiriah mereka menyatakan percaya pada Tuhan yang satu dan mendukung kepercayaan tersebut, tetapi sebenarnya mereka adalah antitesa dari kepercayaan monoteisme itu sendiri. Mereka kufr, mereka syirik, mereka thogut dan mereka penyembah berhala yang menggunakan topeng monoteisme.

 

Ada contoh menarik yang terjadi di zaman ketika kaum rohaniawan di Barat masih berkuasa dan sangat kontekstual dengan apa yang terjadi sekarang ini. Mereka menyatakan “Wahadi saudaraku, tinggalkanlah dunia bagi mereka yang mencintainya. Biarlah lapar menjadi modal bagi ampunan teradap dosa-dosamu. Terimalah neraka kehidupan demi pahala surga di hari kemudian nanti. Seandainya kau tahu pahala orang-orang yang menerima penindasan dan kemiskinan di dunia ini. Tahanlah perutmu dari makanan wahai saudaraku supaya kau dapat melihat cahaya hikmah”. Ungkapan yang disebutkan oleh mereka yang mengaku sebagai penyembah Tuhan yang satu atau monoteisme, tetapi sebenarnya yang mereka lakukan hanyalah mendompleng dan menjadikan agama sebagai tameng. Dan itupun yang banyak terjadi sekarang dengan pendomplengan terhadap agama.

 

Ada yang menggunakan agama sebagai senjata untuk meraih kekuasaan. Ia kadang mempolitisasi mayat dan ayat suci dalam mencapai tujuannya. Mengancam pihak lain bahwa jenazahnya tidak akan diurus selayaknya dalam tata cara beragama jika berbeda pilihan. Padahal hal ini sama saja pada tingkatan sosio politik masih menyembah berhala yaitu berhala kekuasaan. Belum lagi yang baru-baru ini menggunakan tameng agama dalam isu masjid yang awalnya adalah sebuah gereja untuk meraih simpati dalam konteks pemilihan yang sifatnya duniawi. Sejarah penyembahan berhala ini dalam bentuk topeng agama monotiesme akan terus berulang ketika nafsu kekuasaan tidak hilang dari dalam diri manusia. Dan mungkin saja itu akan berlangsung hingga akhir zaman.

 

Panasakkang Maros, 16 Juli 2020




Comments