I Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape
Muhammad Baqir atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin adalah
sosok pahlawan yang begitu ditakuti oleh VOC Belanda sehingga memberikannya
julukan Ayam Jantan dari Timur. Beliau adalah simbol keberanian yang
menjadikannya bukan hanya pahlawan bagi orang Makassar, tetapi bagi bangsa
Indonesia. Semangatnya menjadi spirit perjuangan dalam melawan invasi bangsa
asing sehingga tidak salah jika beliau mendapat gelar sebagai pahlawan
nasional. Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 atau tepat 350
tahun yang lalu dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Gowa di Katangka,
Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Setelah meninggal beliau bergelar Tu Menanga
Ri Balla Pangkana.
Selain dikenal sebagai sosok pemberani, ada sisi
lain Sultan Hasanuddin yang jarang disampaikan secara luas. Seperti yang kita
ketahui Perang Makassar yang melibatkan Kerajaan Gowa berserta sekutunya melawan
VOC yang merupakan kongsi dagang Belanda pada saat itu beserta sekutunya berakhir
dengan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Perjanjian damai
yang sebenarnya lebih banyak merugikan posisi Kerajaan Gowa ini, terpaksa
ditandatangani. Salah satu alasan Sultan Hasanuddin menyetujui untuk membuat
perjanjian tersebut adalah pertimbangan untuk menekan jumlah korban masyarakat
biasa yang lebih banyak lagi. Posisi VOC dan sekutunya yang pada saat itu sudah
semakin kuat, dikhawatirkan oleh beliau jika perang dilanjutkan akan memakan lebih
banyak lagi korban. Walaupun beberapa sekutu dekatnya seperti dari pihak Kerajaan
Bugis Wajo sudah siap memberikan tambahan armada pasukan untuk kelanjutan
perang, beliau lebih memilih jalan berdamai demi rakyat yang dicintainya.
Apa yang dilakukan oleh Sultan Hasanuddin pada saat
itu mencerminkan sosok kenegarawanan beliau. Dalam pandangannya, keselamatan
dan keberlangsungan masyarakat pada saat itu jauh lebih penting daripada hanya
sekadar memenangkan peperangan. Beliau tidak memaksakan kehendak untuk terus berperang
yang tentunya akan mengorbankan putra-putri terbaik Makassar. Sosok pemimpin
seperti ini memang sudah sangat sulit dijumpai sekarang. Dimana seorang
pemimpin lebih mengedepankan keselamatan warganya ketimbang terus menerus
berperang untuk sebuah kekuasaan.
Kita bisa lihat di bagian bumi yang lainnya bagaimana
seorang Adolf Hitler di Jerman terus menerus melakukan propaganda dan menyuruh
warga Jerman untuk mendukungnya dalam peperangan melawan sekutu baik dari arah Barat
yang dikoordinir oleh Inggris dan Prancis maupun dari Timur yang dilakukan oleh
Uni Soviet. Sudah berapa banyak warga Jerman yang harus tewas dalam memenuhi
ambisi gila Adolf Hitler. Atau bisa juga kita lihat contoh sekutu Jerman di Selatan
yaitu Italia ketika dipimpim oleh Benito Mussolini. Di bawah kepemimpinannya, Italia
menjadi negara fasis militeristik. Ia juga adalah seseorang maniak perang
seperti sahabatnya Adolf Hitler sehingga menyedot angkatan muda Italia pada
saat itu untuk memenuhi ambisi perangnya. Belum lagi contoh pemimpin negara-negara
di Timur Tengah yang terus berkuasa sangat lama walaupun sebagian besar
rakyatnya sudah tidak mau lagi menjadikannya pemimpin.
Sultan Hasanuddin sendiri menjadi Raja Gowa dari
tahun 1653 s/d 1669 atau hanya sekitar 16 tahun. Masa ini bahkan terkesan
singkat untuk ukuran pempimpin di abad ke-17 hingga menjelang akhir abad ke-20.
Beliau paham bahwa seorang pemimpin harus menjadikan rakyatnya sebagai
prioritas utama, dan bukan malahan periode kekuasaan yang dipertahankan lama.
Perjuangan yang dilakukan oleh Sultan Hasanuddin akan terus dikenang oleh para
putra-putri Makassar dan bangsa Indonesia. Bahwa di tanah Makassar pernah lahir
seorang pria pemberani yang melawan invasi bangsa asing. Selain pemberani,
sosok pria itu memimpin dengan jiwa kenegarawanan. Ia menjadikan rakyat yang
dipimpinnya sebagai prioritas utama dan bukan periode nafsu kekuasaan. Al Fatihah
untuk Sombayya I Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Muhammad Baqir Sultan
Hasanuddin Tu Menanga Ri Balla Pangkana.
Panasakkang Maros, 12 Juni 2020

Comments
Post a Comment