PUISI MAKASSAR


Mungkin bagi kita yang pernah mengenyam minimal pendidikan sekolah dasar, maka istilah puisi bukanlah istilah asing untuk kita. Dalam kajian sastra Makassar, puisi banyak ragamnya yang terdiri atas doangang, aru, ondo, pakkiok bunting, dan kelong. Setiap jenis puisi ini memiliki fungsi  tersendiri dalam kehidupan masyarakat suku Makassar. Untuk pembahasan kali ini, saya akan bahas terlebih dahulu puisi jenis doangang.

Doangang ialah semacam puisi yang bentuknya dapat disamakan dengan mantra. Bentuk dari jenis puisi ini memiliki jumlah baris yang tidak menentu, bisa lima baris, bisa enam baris, bahkan ada yang sampai lebih dari sepuluh baris. Doangang biasa diucapkan oleh seseorang apabila ia hendak melakukan sesuatu atau jika ia hendak melakukan perjalanan. Isinya pun bermacam-macam, seperti untuk menangkal penyakit, roh jahat, ada yang memakai untuk menambah kecantikan, hingga digunakan untuk usaha berjualan dan menambah rezeki. Saya akan berikan satu contoh doangang yang isinya untuk menambah kecantikan yang dibacakan pada saat bercermin:

ACCARAMMENG
Lamantotongi badangku
Pakkaleang alusukku
Namakbokdong ri rupangku
Accaya ri bukkulengku
Naimo ana
Takugesarak empona
Naimo jari
Tatakkalasara atenna
Paddongkokannami anne lioliona
Tallasa tena mateya
Barakka la ilaha illallah

Artinya

BERCERMIN
Akan tersingkap ragaku
Perawakanku nan mulus
Wajahku nan bundar
Bercahaya pada kulitku
Anak siapakah gerangan
Yang tak tergerak hatinya
Anak turunan siapa gerangan
Yang tak terguncang hatinya
Yang tak berdebar jantungnya
Inilah tumpuan hidupnya
Hidup yang berpantang mati
Berkah lillahi taala

Ada juga doangang yang berisi untuk memudahkan rejeki

PAPPALAMMOROK DALLEK
Nibacai ri bangngina jumaka
Tuju pulo sekre giokanna
Punna erok nigaukang ri bangngi jumaka
Appuasamaki ri allonna kammisika
Nigau kammi sambayang hakjak ruang rakaa
Ri bangngina jumaka
Sallina
Usalli sunatal hajati rakaataeni Allahu Akbar
Punna lebbak maki assambayang
Nibacami fatihah Nabbita pintallung
Nabbi Musa pintallung
Nabbi Hillerek pintallung
Nampa nisarakkang
Kalenta ilalannaki singarakna
Nurung Muhammad
Bacami doangang dalleka

Mananamalihama mamilata mu lihama
Punna gannakmo nibacami doangang
Allahumma yaganiu basiti pintallung
Punna erokmo nibaca doanganna
Niniakkammi lalang nyawa
Nabbi Muhammad kusarakkang
Appalakkangki dalletta ri Allah ta ala

Tarimai Karaeng

Artinya

Memurahkan rezeki
Dibaca pada malam jumat
Sebanyak tujuh puluh satu kali
Jika mau dilakukan pada malam Jumat
Kita berpuasa pada hari Kamis
Dan bersembahyang hajat dua rakaat
Pada malam Jumat
Niatnya
Usalli sunatal hajati rakaataeni Allahu akbar
Sesudah sembahyang
Dibacakanlah fatihah untuk Nabi kita tiga kali
Nabi Musa tiga kali
Nabi Hidir tiga kali
Kemudian diibaratkan
Diri kita di dalam cahaya
Nur Muhammad
Lalu dibaca doanya

Mananamalihama mamilata mu lihama
Sesudah selesai dibacalah doanya
Allahumma yaganiu basiti tiga kali
Sesudah dibaca doanya
Niatkanlah di dalam hati bahwa
Nabi Muhammad yang kusyaratkan (bertawassul)
Meminta rezekiku kepada Allah ta ala

Terimalah ya Tuhan

Inilah beberapa contoh bacaan doangang yang sebagian besar sangat terpengaruh oleh ajaran islam. Doangang seperti contoh di atas banyak memuat permintaan dan doa kepada Allah SWT. Seperti memohon kecantikan dan kemurahan rezeki. Bahkan dalam doangang pappalammorok dalle atau memurahkan rezeki, kita disuruh untuk menitip doa (bertawassul) kepada Nabi Muhammad SAW yang sebagian besar masih dijalankan oleh masyarakat NU dan beberapa kelompok islam di kampung. Ini membuktikan bahwa ajaran islam yang terlebih dahulu datang adalah ajaran islam yang tidak membidahkan praktek tawassul dan mengambil berkah terhadap orang suci seperti Nabi. Hal ini memang berbeda oleh kelompok islam yang datang belakangan yang umumnya menyalahkan ibadah-ibadah yang tidak sesuai dengan versi mereka (kaum ekstrimis). Mungkin sebagian besar belum paham bahwa beberapa ajaran orang tua kita dahulu sangat erat kaitannya dengan penyebaran islam yang ramah dan damai sehingga islam diterima dan menjadi agama mayoritas di negeri ini.

Selain doangang menjadi bukti bantahan kaum ektrimis agama yang sering membenturkan agama dan budaya, doangang juga menjadi jawaban atas keyakinan kaum fasis budaya yang menolak mentah-mentah akulturasi budaya. Bahwa kami suku Makassar tidak menolak akulturasi budaya dan bahkan bisa memadukan agama dan budaya. Sehingga budaya dan agama dalam konteks masyarakat Makassar dapat lestari hingga saat ini. Insya Allah di tulisan berikutnya akan saya jelaskan puisi Makassar jenis lainnya. Mari kita lestarikan budaya daerah kita baik itu berupa pakaian, senjata perang, rumah, hingga bentuk-bentuk warisan sastra seperti ini. Jika bukan kita yang mau menjaganya, siapa lagi…




Comments