ORISINALITAS KEBUDAYAAN NUSANTARA


Tulisan ini masih berkaitan dengan doktrin dari sebagian kalangan yang mengatakan bahwa pakaian impor semisal jilbab akan merusak dan dengan bahasa ekstrimnya dikatakan menjajah pakaian adat nusantara. Saya mengambil contoh kebaya yang dikatakan sebagai pakaian adat terutama di kalangan orang Jawa dan Bali. Saya tidak bisa memungkiri bahwa mereka yang alergi dengan akulturasi budaya memang banyak dilakukan oleh para penggiat kebaya. Bagi mereka jika ingin berkebaya, hendaknya menanggalkan jilbab. Penggunaan kebaya yang dipadukan dengan jilbab adalah bentuk penjajahan terhadap budaya nusantara. Bahasa kasarnya adalah, mereka ini para penggiat kebaya adalah tuan rumah sedangkan budaya jilbab dan semacamnya itu adalah tamu. Sehingga tamu harusnya bisa menghargai tuan rumah dengan tidak mencoba melakukan penjajahan budaya dalam hal ini yang dipahami adalah ketika kebaya dipadukan dengan jilbab.

Agar lebih jelas, kita akan membedah seberapa orisinalnya kebaya dan bagimana sejarah kebaya dalam kebudayaan nusantara. Apakah memang murni berangkat dari kebudayaan nusantara ataukah sejarahnya sama saja dengan jilbab yang merupakan budaya impor. Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya 2, kebaya muncul sebagai busana penduduk Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16. Sebelum mengenal kebaya, perempuan Jawa hanya mengenal kain lipat (selubung) sebagai pakaian yang digunakan untuk berkegiatan sehari-hari. Pendapat ini diperkuat oleh Inda Citradina Noerhadi dalam buku Busana Jawa Kuna yang mengungkapkan contoh pakaian yang tergambar dalam dalam relief karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan khususnya perempuan tidak menutupi bagian payudara. Pakaian perempuan paling sederhana hanya selembar kain yang panjangnya sebatas lutut. Sementara untuk pakaian pria, yang paling sederhana hanya nemakai kain serupa dengan cawat atau celana pendek.

Sejarah kebaya sendiri kembali saya mengutip perkataan Denys Lombard berasal bahasa Arab yaitu kaba yang berarti pakaian. Kata tersebut kemudian diperkenalkan melalui bahasa Portugis yaitu cabaya. Ia menjelaskan kemudian bahwa hadirnya kebaya dipengaruih oleh budaya islam. Hal yang hampir sama diungkapkan oleh Ria Pentasari dalam Chic in Kebaya, bahwa masyarakat Jawa lebih sering menggunakan kembem, tenun, ikat,, dan kain panjang sebelum abad ke-15. Usai penyebaran agama islam, kebaya menjadi busana yang populer. Artinya bahwa ada keterkaitan hadirnya kebaya dengan penyebaran islam.

Dari penjelasan di atas ada beberapa hal yang dapat kita tarik kesimpulannya. Yang pertama adalah fakta bahwa sebelum adanya kebaya, pakaian perempuan secara umum masyarakat Jawa adalah selembar kain yang tidak menutupi bagian payudara. Sehingga seharunya mereka yang selalu mengklaim dirinya sebagai pecinta budaya jika ingin kembali ke masa lampau sesuai dengan pakaian adat nusantara, maka yang digunakan adalah selembar kain saja tanpa menutupi payudara. Bukankah jika ingin konsisten, maka memang seperti itulah berpakaian yang seharusnya. Akan saya apresiasi dan berikan pengakuan jika memang mereka akan memakai pakaian itu. Tetapi jika tidak, maka semua bualan tentang itu saya sebut hanyalah omong kosong saja.

Fakta selanjutnya adalah bahwa kebaya dan penyebarannya tidak bisa dilepaskan dari peranan islam. Jika islam yang diidentikkan dengan Arab, dan Arab yang diidentikkan dengan jilbab itu ditolak, maka seharusnya kebaya pun ditolak karena budaya ini bukanlah budaya yang orisinal dari nusantara. Kebaya dalam sejarahnya adalah produk impor yang terakulturasi dengan budaya lokal. Saya menduga selama ini mereka yang menolak untuk memadukan kebaya dan jilbab bahkan tidak mengetahui dengan pas sejarah kebaya. Bahwa kebaya adalah budaya yang sama halnya dengan jilbab. Sama-sama adalah budaya impor yang masuk ke nusantara. Sehingga adalah wajar ketika ada yang mencoba mempropagandakan penolakan kebaya yang dipadukan dengan jilbab dianggap tidak lebih dari sikap kontra terhadap agama tertentu. Ada gerakan secara terstruktur dan masiv untuk membenturkan agama dan budaya di Indonesia walaupun sama-sama kita ketahui bahwa dua komponen ini tidak bersinggungan dan diwadahi dalam rumah besar yang bernama pancasila.

Patut kita ketahui bahwa dalam sejarah nusantara, ada banyak pakaian adat yang terakulturasi dengan budaya impor, jadi serangan terhadap jilbab adalah tindakan yang memang mengarah sikap tendensius terhadap agama tertentu. Karena sejujurnya, orisinalitas budaya dalam hal ini berpakaian adalah sesuatu yang akan sangat sulit kita dapatkan. Jika orisinalitas dipahami adalah kemurnian, maka hampir semua pakaian adat di nusantara sudah terakulturasi yang berarti sudah tidak murni. Entah pengaruhnya itu dari Arab, Barat (Eropa), China, India, Persia, maupun tempat lainnya.

Panasakkang Maros, 11 Juni 2020


Comments