KETIKA SEBAGIAN SOBAT RAHAYU IKUT MABUK


Ada beberapa sobat rahayu yang selalu mempermasalahkan ketika berkebaya dipadukan dengan memakai jilbab karena dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan nusantara. Bagi mereka hal ini adalah sebuah kesalahan dan tidaklah berdasar karena dianggap tidak sesuai dengan ketentuan pemakaian kebaya. Jilbab dalam kacamata mereka adalah budaya impor dari Arab karena diidentikkan dengan islam, dan ketika berkebaya juga menggunakan jilbab maka ini dianggap sebagai penjajahan terhadap kebudayaan nusantara. Apalagi sentimen yang sering terjadi adalah, busana jilbab adalah budaya tamu sedangkan budaya berkebaya adalah budaya tuan rumah di nusantara. Sebelum panjang lebar, terlebih dahulu mari kita pahami dulu dimana batasan sesuatu disebut sebagai budaya nusantara. Nusantara adalah sebuah gugusan pulau yang berada di kawasan asia tenggara dalam hal ini kita batasi pembahasan di wilayah Indonesia. Budaya di Indonesia terbentang luas dari provinsi Aceh di sebelah Barat, Papua di sebelah Timur, Sulawesi Utara di sebelah Utara, dan Nusa Tenggara Timur di sebelah Selatan. Ada puluhan ribu produk budaya bangsa Indonesia sehingga termasuk salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman budaya yang tinggi. Apakah kebaya masuk dalam budaya nusantara. Jawabannya adalah benar, tetapi ingat ada budaya lain selain kebaya yang merupakan budaya nusantara.

Di beberapa daerah pakaian sejenis jilbab atau penutup kepala bagi perempuan menjadi identitas budaya seperti di daerah Bima, Nusa Tenggara Barat. Apakah akan kita katakan daerah Bima bukan merupakan daerah nusantara. Apakah anda mau mengeluarkan Nusa Tenggara Barat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah budaya nusantara hanya ada di pulau Jawa dan Bali sehingga ada kesan akan dilakukan kebayaisasi. Apakah mereka ini yang berkedok sebagai pecinta budaya nusantara pernah melihat pakaian adat suku Makassar. Untuk lelaki mereka menggunakan jas tutup dipadukan dengan songkok guru. Sejarah songkok ini digunakan ketika kerajaan Makassar dalam hal ini kerajaan Gowa Tallo mengadakan pengislaman di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Identiknya identitas suku Makassar dengan agama islam tidak serta merta menghilangkan kebudayaan Makassar. Artinya akulturasi kebudayaan bukanlah hal baru jika ditelisik dari sejarah nusantara.

Untuk pakaian perempuan suku Makassar juga mengalami akulturasi. Jika dahulu baju bodo yang secara etimologi berarti baju berlengan pendek adalah baju transparan yang memungkinkan si perempuan kelihatan mahkota dadanya, maka sekarang baju bodo sudah disesuaikan sedemikian rupa tanpa menghilangkan corak khususnya. Baju bodo sekarang sudah agak tebal dan umumnya memakai dalaman. Selain itu ada juga yang menggunakan jilbab jika ia seorang muslimah. Apakah ada kalangan penggiat budaya Makassar yang protes. Hingga saat ini jawabannya adalah tidak ada. Proses penerimaan akulturasi adalah sebuah sikap moderat dalam berkebudayaan dikarenakan peradaban manusia akan terus menerus berkembang. Justru yang menolak akulturasi inilah yang masuk dalam kategori radikal dalam hal ini radikalis budaya dan lebih spesifik lagi radikalis kebaya. Bagi saya radikalis dalam bentuk apapun itu, entah agama, ras, maupun budaya adalah mereka yang sebenarnya dalam keadaan mabuk. Kita bisa lihat bagaimana jika seseorang sudah mabuk. Baginya tidak ada kebenaran selain daripada dirinya sendiri walauapun kadang-kadang ia juga tidak konsisten.
Radikalis kebaya ini menganggap jika pemahaman budaya yang benar hanyalah menurut mereka. Padahal jika mereka betul-betul mempelajari kebudayaan dengan sungguh-sungguh maka mereka akan dapatkan para pejuang kemerdekaan dari kaum perempuan itu menggunakan kebaya dan kadang dipadukan dengan selendang penutup kepala yang menyerupai jilbab dan pada saat itu tidak ada yang protes jika mereka sudah dijajah oleh budaya Arab karena menggunakan penutup kepala. Dari contoh ini akan muncul pertanyaan dimana dasar mereka mempertentangkan orang yang berkebaya dan juga berjilbab. Apakah mereka diciptakan dari tanah sengketa sehingga selalu mempersengketakan pilihan orang untuk berpakaian. Cara berpikir ini tidak jauh berbeda dengan para radikalis agama yang selalu ingin mengembalikan kehidupan mereka sesauai dengan keadaan Nabi di zaman dahulu sesuai versi mereka.

Kemudian anomali selanjutnya adalah sebagian dari sobat rahayu ini mengalami ketidakkonsistenan dengan apa yang mereka gaungkan. Di beberapa relief candi-candi di daerah Jawa, pakaian nusantara jaman dahulu hanya menggunakan secarik kain jarit dari pinggang, sedangkan bagian dada dibiarkan terbuka. Jika benar-benar ingin murni berpakaian seperti zaman dahulu, maka perempuan-perempuannya terutama yang berasal dari Jawa harusnya bertelanjang dada seperti gambaran yang ada di relief beberapa candi. Bukankah relief itu menjelaskan keadaan di masa lampau termasuk cara berpakaian. Ini yang saya tunggu dari mereka yang menamakan dirinya pecinta budaya nusantara. Bahwa sebelum budaya kebaya, sudah ada budaya bertelanjang dada di pulau Jawa.

Panasakkang Maros, 08 Juni 2020



Comments