JANGAN MEMAKI SESEMBAHAN KELOMPOK LAIN


Saya adalah orang yang paling risih ketika ada seseorang atau suatu kelompok yang berlatar belakang agama islam melakukan penghinaan terhadap apa yang diyakini oleh kelompok agama lain. Padahal di dalam Al Quran sudah sangat jelas jika yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang salah. Mari kita lihat di Surah Al An’am ayat 108:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”

Pertama adalah larangan untuk tidak memaki, mengecam, dan menghina sesembahan kelompok agama lain dengan kata-kata yang buruk. Yang paling sering saya lihat banyak juga yang melakukan misalnya ketika kita mengatakan kok Tuhan kamu di tempat peribadatan itu tergantung dan tidak pakai baju. Apakah di ruangan ber AC seperti ini dia tidak kedinginan. Walaupun itu nadanya seperti bercanda, tetapi Allah SWT sudah berfirman di dalam Al Quran supaya kita tidak menghina sesembahan kelompok agama lain. Dan juga ketika kita menghina sesembahan mereka maka menurut Al Quran nanti mereka akan membalas menghina Allah SWT dengan melampaui batas di luar pengetahuan mereka. Dan artinya dosanya menghina Allah SWT tersebut itu dinisbahkan kepada kita karena mereka tersinggung dengan ucapan kita yang berkata tidak baik kepada sesembahan mereka. Mereka berbuat seperti itu diakibatkan oleh perilaku kita yang tidak menghormati sesembahan-sesembahan mereka.

Bahkan di tengah penggalan Surah Al Baqarah ayat 83, ada kata "wa quulu linnasi husna" yang berarti “bertutur katalah yang baik kepada manusia”. Jadi kita diharuskan untuk bertutur kata yang baik kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Dan patut digaris bawahi bahwa perintah bertutur kata yang baik ini bersifat universal dan bukan hanya ditujukan kepada sesama muslim.

Mengecam sesembahan yang lain itu tidak dibenarkan di dalam islam. Jika seruan ini dijadikan pedoman dalam berkehidupan dengan pemeluk agama lain, maka saya yakin tidak akan ada lagi berbagai lapor melapor yang diakibatkan oleh penghinaan dan penistaan terhadap suatu agama. Yang ini melapor karena menyinggung dan begitupun sebaliknya. Kita mungkin masih ingat bagaimana seorang penceramah yang sangat kondang dan memiliki puluhan ribu Jemaah pernah berkata seperti ini, “jika Tuhan punya anak maka siapa bidannya”. Contoh yang buruk seperti perkataan ini entah disengaja atau tidak disengaja karena saya yakin yang bersangkutan adalah orang yang sudah banyak tahu persoalan agama. Dan setelah itu kelompok yang tidak terima dengan pernyataan si penceramah tadi melaporkan ke penegak hukum. Dan mungkin nanti begitu juga sebaliknya. Padahal larangan untuk menghina dan memaki sesembahan kelompok lain sudah disebutkan di dalam Al Quran. Dan tentu dampak dari penghinaan ini nanti mereka juga akan memaki Allah SWT tanpa ilmu bahkan dengan rasa permusuhan. Kita tentu bisa melihat sekarang begitu banyak di media sosial penghinaan balasan yang harus jujur kita akui bahwa hal ini terjadi dikarenakan beberapa dari umat islam terlebih dahulu memulai penghinaan terhadap sesembahan agama lain.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah kaidah hadis di kitab Biharul Anwar Jus 31 bersabda:

“Muliakan yang dimuliakan setiap kaum. Hormati yang dihormati setiap kaum.”

Dan di dalam kitab itupun dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menyebut kelompok tertentu yang dimuliakan tetapi tertuju untuk seluruh kaum. Hal ini menunjukkan bahwa beliau SAW itu sangat pluralis. Sebenarnya ajaran islam itu indah dan rahmat bagi seluruh alam jika tidak dirusak oleh oknum penceramah-penceramah brutal yang tidak mematuhi perintah Allah SWT dan hadist Nabi Muhammad SAW. Bahkan dahulu seperti dicontohkan oleh keluarga Nabi Muhammad SAW (Ahlul Bait) yang mulia ketika mereka pada suatu hari singgah di suatu tempat. Dan ternyata di tempat itu sudah ada imam untuk shalat. Lalu datanglah imam masjid itu untuk mempersilakan Ahlul Bait yang memimpin shalat. Tetapi  Ahlul Bait itu berkata jika engkau sudah terbiasa memimpin shalat disini, maka kami yang akan bermakmum. Jika ada yang dimuliakan oleh sutau kaum maka kita wajib untuk menghormatinya juga. Tidak boleh menghina dan mengecam apa yang dihormati oleh kaum tersebut.

Menjaga lisan ini memang tidak mudah, menjaga lisan itu berkaitan dengan isi dan tinggi rendahnya suara kita. Juga berkaitan dengan jika misalnya menyampaikan sindiran maka luar biasa beratnya terutama jika kita itu memendam kekesalan. Sehingga berakumulasi dengan kata-kata yang tidak pantas terhadap orang-orang yang punya masalah dengan kita dan orang-orang yang tidak sepaham dengan kita walapun itu dalam bentuk nada sindiran. Mari kita menjaga lisan dengan menghormati apa yang dimuliakan oleh kelompok agama lain. Sehingga apa yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al Quran bahwa islam adalah agama yang menjadi rahmat untuk seluruh alam itu terbukti. Sampaikanlah islam dengan ramah dan bukannya dengan marah.

Makassar, 15 Juni 2020



Comments