PERGINYA SANG PEJUANG KEMANUSIAAN


Jose Rizal, seorang dokter sekaligus aktivis yang banyak membantu masyarakat korban perang meninggalkan dunia ini selamanya pada hari Senin tanggal 20 Januari 2020. Berbagai ucapan belasungkawa tidak hanya berdatangan dari berbagai masyarakat di tanah air. Di wilayah Timur Tengah khususnya di wilayah Palestina, ucapan belasungkawa juga turut hadir mengiringi kepergiannya. 

Lelaki kelahiran Padang 11 Mei 1963 ini adalah seorang dokter spesialis bedah orthopedi dan traumatologi serta merupakan pendiri dan dewan Pembina Medical Emergency Rescue Committee atau yang biasa disingkat MER-C. Jose Rizal merupakan putra dari Jurnalis Kamil, seorang akademisi yang pernah menjadi Rektor di Unversitas Andalas Padang periode 1984-1993. Ibunya yaitu Zahara Idris juga merupakan seorang akademisi. Istri Jose Rizal bernama Dian Susilawati serta memiliki tiga orang anak yakni Aisya, Nabila, dan Saladin. Ia mengenyam pendidikan perguruan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1988. Setelah lulus, ia pun melanjutkan pendidikan spesialis bedah orthopedi dan traumatologi di almamater yang sama dan diselesaikannya pada tahun 1999. Aktivitas Jose Rizal sebagai seorang dokter sekaigus aktivis masyarakat korban perang ia jalani di berbagai daerah. Selain di Palestina daerah yang ia bangunkan rumah sakit untuk masyarakat disana, Jose Rizal pernah juga terjun di Maluku, Afghanistan, Irak dan Mindanao. Lewat MER-C Ia bahkan memolopori dan bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk membangun rumah sakit di daerah Rakhine di Myanmar yang ditujukan untuk masyarakat disana seperti yang ia lakukan di Palestina.

Pengalaman Jose Rizal di berbagai daerah yang dilanda peperangan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya. Suatu ketika Jose Rizal mengendarai bus ke kota Gaza hingga perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil ambulans. Di tengah perjalanan, tiba-tiba mobil ambulans berhenti dan si sopir berteriak “Nobody move. Don’t open the door. Keep your head out of the window.” (Jangan ada yang bergerak. Jangan buka pintunya. Jauhkan kepalamu dari jendela). Ternyata pada saat itu, mereka melewati sebuah daerah perang sehingga membuat mobil ambulans tersebut harus berputar untuk mencari jalan lain. Bahkan di daerah tersebut sepanjang kanan kiri jalan, tank-tank Israel tengah berjajar. Pengalaman yang mengancam nyawa seperti itu tidak menyurutkan langkah Jose Rizal untuk mendedikasikan dirinya pada nilai kemanusiaan.

Kepedulian dan pengalaman langsungnya berada di Palestina, menjadi faktor utama mengapa ia dalam konflik Suriah yang meletus 2011 tidak membuatnya ikut serta dan latah menghakimi Presiden Assad sebagai penjahat bagi masyarakatnya. Ia menolak narasi yang dikembangkan oleh kawan-kawannya di front pembelaan Palestina bahwa perang Suriah adalah perang sektarian sunni syiah. Jose Rizal lebih rasional dan fokus pada perjuangan bangsa Palestina dalam menghadapi kekejaman rezim Zionis Israel. Ia jelas melihat bahwa para pemberontak yang datang ke Suriah untuk melawan Presiden Assad justru akan melemahkan kubu pro Palestina.

Seperti yang kita ketahui, Suriah adalah negara yang pernah berperang langsung dengan Israel dan hingga saat ini tetap menjadikan Israel sebagai musuhnya dikarenakan Dataran Tinggi Golan yang sebenarnya merupakan teritori Suriah dan diakui secara internasional masih dicaplok oleh rezim ilegal itu. Peperangan Suriah dan Israel terjadi di masa Hafeez Assad yang tidak lain adalah bapak dari Presiden Suriah sekarang. Bahkan sebelum beberapa pentolan Hamas pro terhadap pemerontak Suriah, negara ini di bawah kepemimpinan Assad menyediakan kantor perwakilan Hamas di Damaskus, ibu kota Suriah ketika negara Arab lain tidak ada yang mau menampungnya. Bahkan di daerah Yarmouk, pemerintah Suriah menyediakan lahan yang sangat luas untuk digunakan sebagai daerah pengungsian warga Palestina.

Faktor inilah yang dilihat oleh Jose rizal, bahwa ketika ada usaha untuk menggulingkan Assad, maka itu sama saja dengan melemahkan perjuangan rakyat Palestina. Akibat dari sikap Jose Rizal ini, ia dituduh oleh beberapa temannya sebagai seorang syiah dikarenakan propaganda yang dibangun bahwa Assad merupakan syiah yang melakukan kekejaman terhadap takyatnya sehingga siapa yang mendukungnya berarti ia sealiran dengan Assad. Tetapi sikapnya terhadap konflik Suriah tidak berubah walapun di dalam negeri ketika terjadi kontestasi politik di 2014 dan 2019 ia menjadi bagian dari calon presiden yang banyak didukung oleh mereka yang membenci syiah dan Assad.

Bagi saya, apapun pilihan politik seorang Jose Rizal tidak mengurangi rasa hormat dan kekaguman saya terhadapnya. Ia tidak hanya mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Tetapi pengalamnnya terjun langsung ke wilayah konflik memberikan kita pelajaran bahwa untuk melihat sebuah konflik, ada banyak faktor yang harus dilihat untuk menghukumi apakah pendapat kita sudah benar atau tidak. Peperangan dan konflik tidak hanya dilihat kepada mereka yang secara langsung berkonflik. Tetapi banya faktor yang yang menjadi acuan. Bisa dilihat siapa sekutu dari masing-masing pihak yang berkonflik. Bisa juga dilihat sumbangsih apa yang telah dilakukan oleh mereka yang berkonflik. Jangan sampai kita malah menjadi sekutu pihak yang justru melemahkan semangat perjuangan dalam membela kemanusiaan seperti dalam hal ini perjuangan bangsa Palestina. Pelajaran ini yang seharusnya bisa kita ambil darinya terutama dalam melihat konflik di Timur Tengah yang sangat kompleks.

Selamat jalan dokter Jose Rizal, jasamu untuk nilai-nilai kemanusiaan akan terus dikenang selamanya.



Comments