Sebelum berpanjang lebar, saya
ucapkan selamat tahun baru 2020 untuk seluruh saudaraku sebangsa dan setanah
air serta untuk seluruh penghuni alam semesta ini. Saya awali tulisan pembuka
di tahun 2020 ini mengenai sosok Gus Dur. Saya memilih tulisan tentang beliau
karena saya menganggap sosok beliau masih sangat layak dikenang sebagai panutan
ulama yang tidak gila kekuasaan dan selalu mengedepankan kepentingan bangsa
serta negaranya. Selain itu seperti yang kita ketahui, di bulan Desember adalah
bulan wafatnya Gus Dur sehingga pembicaraan tentangnya masih hangat dibicarakan
karena peringatan haul beliau belum berlalu satu minggu.
Dalam 1 dekade haul Gus Dur yang
diperingati di Ciganjur Jakarta, Gus Mus menjelaskan sosok seorang Gus Dur. Ada
hal menarik yang ia sampaikan perihal mengapa orang seperti Gus Dur haulnya
mungkin akan selalu diperingati setiap tahunnya. Berbeda dengan Nabi Isa AS dan
Nabi Muhammad SAW yang lebih familiar diperingati adalah hari kelahirannya.
Jika Nabi Isa AS diperingati dengan istilah natal maka Nabi Muhammad SAW
diperingati dengan istilah maulid. Gus Mus menjelaskan bahwasanya Nabi Isa AS dan
Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang masum artinya beliau berdua sudah terbebas
dari dosa sejak dilahirkan sehingga sudah terjamin sejak lahir sampai ke liang
lahat.
Hal berbeda jika dibandingkan
dengan para ulama seperti Gus Dur yang lebih familiar diperingati hari
wafatnya. Bukan berarti para anaknya ataupun teman Gus Dur tidak ada yang tahu
pasti kapan beliau lahir, tetapi menurut Gus Mus mengapa yang diperingati
adalah hari wafanya karena para ulama itu hanyalah manusia biasa, beda dengan
para nabi yang masum. Sehingga proses perjalanan ulama itu dari lahir hingga
maut menjemputlah yang menjadi acuannya. Mungkin saja ada seseorang yang
dahulunya adalah ulama tetapi menjelang akhir kematiannya banyak melakukan
kesalahan. Dan bahkan ironis banyak yang mengucapkan Alhamdulillah (segala puji
bagi Allah) perihal kematian mantan ulama tersebut karena semasa hidupnya
menjadi beban bagi manusia lainnya. Dan kematinnya adalah pembebasan terhadap
belenggu beban sehingga ada beberapa yang justru bahagia perihal kematinnya
tersebut.
Hal yang luar biasa justru
terjadi pada Gus Dur. Kita bisa lihat beliau begitu banyak yang menziarahinya
bahkan dari lintas keimanan. Itu tidak terjadi hanya di peringatan haulnya,
tetapi hampir setiap hari di makam Gus Dur. Gus Mus menjelaskan mengapa hal ini
bisa terjadi pada Gus Dur, dikarenakan beliau adalah sosok yang konsisten. Dimana
pun seorang Gus Dur berada maka ia konsisten untuk menjalankan perjuangannya
menegakkan nilai-nilai kemanusiaan baik saat berada di dalam lingkaran
kekuasaan maupun setelah di luar.
Pendapat serupa disampaikan oleh Dorce
Gamalama. Dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisa swasta ia
berujar bagaimana Gus Dur yang menasehati dirinya tanpa menggurui. Ia tidak
mempersoalkan staus Dorce sebagai seorang transgender. Bagi Gus Dur, urusan itu
diserahkan kepada Allah SWT dan manusia tidak berhak melakukan diskriminasi
berdasarkan jenis kelamin seseorang bahkan terhadap transgender sekalipun.
Tidak ada yang menginginkan dilahirkan sebagai makhluk jadi-jadian, begitu kata
Dorce Gamalama sehingga pembelaan Gus Dur terhadap dirinya dan kaum tertindas lainnya
membuat ia begitu kagum. Di masjid yang ia buat bahkan nama bedugnya ia namakan
Gus Dur.
Budi Wijaya juga seorang penganut
kong hu cu dalam satu kesempatan menuturkan bagaimana perjuangan Gus Dur yang
membela dirinya perihal gugatannya di PTUN. Gugatan ini bermula dari kasus
penolakan kantor catatan sipil di Surabaya tahun 1995 yang menolak untuk menerbitkan
kutipan akta pernikahan karena ia dan istrinya penganut agama kong hu cu. Kasus
inipun ia gugat ke PTUN Surabaya dan di persidangan tersebut ia dibela oleh Gus
Dur. Baginya, tidak ada alasan untuk menolak pembuatan kutipan akta pernikahan
mereka. Apalagi mereka beragama sama yakni kong hu cu sehingga penolakan ini
adalah bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Gus Dur ketika itu menjaba
sebagai ketua PBNU dan ia tidak takut untuk mengambil pilihan yang bisa saja
membuatnya dihujat. Persidangan ini berlanjut hingga ke tingkat PTTUN dan hasil
dari gugatan tersebut ditolak. Ketika Gus Dur naik menjadi presiden, maka pada
tahun 2000 ia mengambil keputusan berani dengan mengeluarkan pengakuan negara
terhadap agama kong hu cu dan peringatan hari imlek sebagai hari libur
nasional. Ini yang membuat Budi Wijaya tidak bisa melupakan jasa Gus Dur
sebagai pembela hak kaum tertindas.
Gus Dur juga menjadi sosok yang
begitu dihormati oleh rakyat Papua. Setelah ia naik menjadi presiden banyak
kebijakan pro masyarakat Papua yang ia buat sehingga menjadikannya presiden
yang sangat dicintai warga Papua. Ia melakukan pendekatan hati ke rakyat Papua
sehingga ada keterikatan emosional yang terbangun. Ia bahkan mempersilahkan
dikibarkannya bendera bintang kejora yang oleh pemerintah sebelumnya dilarang
karena dianggap bendera separatais. Bagi Gus Dur, bendera bintang kejora tidak
ada bedannya dengan bendera parpol sehingga tidak ada alasan untuk melarangnya
selama bendera merah putih tetap berada di atas bendera lain. Selain itu gus
dur adalah presiden yang mengembalikan nama Papua menjadi nama provinsi yang
sebelumnya bernama provinsi Irian Jaya. Baginya nama Papua adalah nama budaya
rakyat disana sehingga dengan mengembalikan nama Papua berarti mengembalikan
budaya dan ciri khas rakyat disana.
Sebenarnya masih banyak hal lain
yang ia lakukan untuk kemanusiaan dan persamaan hak bahkan setelah beliau turun
dari kursi kepresidenan. Seorang putri Gus Dur pernah berujar bahwa pancasila
harus berjalan beriringan secara keseluruhan. Kita tidak mungkin berkata
“Ketuhanan Yang Maha Esa” ketika di tempat lain tidak terlaksana “Kemanusiaan
Yang Adil dan Beradab”. Maka baginya akan sangat mengherankan jika seseorang
atau sekelompok orang berkata ini adalah ajaran agama tetapi di saat yang lain
ia menindas. Kita bisa lihat bagaimana pengusiran warga Ahmadiyah yang
dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai kaum beragama dengan meneriakkan
takbir, tetapi di sisi lain melakukan penindasan, pengusiran, dan pengrusakan.
Bagaimana sila pertama bisa terimplementasi dengan baik ketika tidak adanya
kemanusiaan yang adil dan beradab. Kaum Ahmadiyah juga manusia sehingga ia
berhak diperlakukan selayaknya manusia.
Bagi saya Gus Dur adalah pahlawan
kemanusiaan Indonesia. Darinya banyak belajar bagaimana memperlakukan seseorang
sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang agama, suku, ras, dan
golongannya. Yenny Wahid sebagai putri kedua Gus Dur pernah menjelaskan jika
yang dibela Gus Dur bukanlah kaum minoritas, tetapi yang dibela adalah kaum
yang tertindas atau dalam bahasa Al Qurannya adalah kaum Musthadafin. Yang
dibela memang mereka yang membutuhkan, bukan berdasar minoritas ataupun mayoritas.
Dan Gus Dur adalah yang terdepan dalam membela hak-hak kemanusiaan di
Indonesia.

Comments
Post a Comment