Di tulisan ini
saya mencoba menyajikan kondisi muslim di berbagai belahan dunia. Konsentrasi
saya di tulisan ini mencoba memperlihatkan realitas muslim yang sedang dalam
kondisi tidak baik. Ada yang mencoba mendirikan negara dan hingga saat ini
belum terealisasi, ada yang sementara bertempur dengan sesama muslim lainnya, dan
ada pula yang negaranya hancur akibat perang sektarian. Jika selama ini energi
umat islam banyak tertuju di wilayah Palestina sebagai daerah yang masih
dijajah oleh Rezim Zionis Israel atau yang terbaru ini kondisi muslim Uighur di
Xinjiang China, ternyata di belahan bumi lainnya ada banyak kondisi tidak baik
yang dialami oleh umat islam.
Tapi sebelum
saya lanjutkan, pengetahuan geopolitik internasional sangat menunjang untuk
memahami tulisan ini. Ada kalanya di suatu daerah beberapa masyarakat muslim melakukan
kejahatan sehingga ia mendapat tekanan dari pemerintah setempat. Artinya kita
harus jujur kadang-kadang ada juga muslim yang jahat sehingga kita tidak boleh
melakukan generalisasi. Saya mulai dari desas desus penindasan muslim Uighur di
China. Apakah benar seperti yang dituduhkan bahwa pemerintah China melakukan
penindasan. Banyak foto yang beredar disinyalir adalah penindasan terhadap muslim
Uighur, tetapi realitasnya banyak dari foto tersebut merupakan hoax atau berita
palsu.
Melihat
persoalan Uighur tidak serta merta hanya melihat dari kabar burung yang beredar
di dunia maya. Sejarah mencatat jika daerah Xinjiang yang menjadi tempat muslim
Uighur bermukim sudah menjadi daerah pemerintahan China sejak Dinasti Han (206
SM - 220 M) hingga Dinasti Qing (1644 – 1911). Di era Dinasti Han, etnis Uighur
sudah seringkali melakukan pemberontakan sehingga banyak mendapat tindakan
tegas dari pemerintahan saat itu. Di Xinjiang sendiri selain Uighur ada 12 suku
asli lainnya diantaranya Han, Kazakh, Hui, Uzbek, Kirgiz, Mongol, Tajik, Xibe,
Manchu, Rusia, Daur, dan Tartar. Sejarah agama disana dimulai dari agama budha,
baru kemudian belakangan muncul agama islam. Artinya ada heterogenitas agama
dan suku disana sehingga akan sangat muncul pertanyaan mengapa hanya Uighur
yang sepertinya memiliki masalah dengan pemerintah China.
Sejarah
pemberontakan etnis Uighur yang terjadi sejak Dinasti Han memang hingga saat
ini belum bisa padam. Itu yang ditindak oleh pemerintah China dengan mendirikan
pusat konsentrasi deradikalisasi dan separatisme. Kita mungkin masih ingat bagaimana
di Poso, Sulawesi Tengah ditemukan orang Uighur yang menjadi teroris dan
akhirnya tertangkap. Itu belum termasuk dengan beberapa anggota ISIS yang
berasal dari etnis Uighur.
Sebenarnya
gerakan separatis Uighur tidak bisa dilepaskan dari ide Pan-Turkisme dan
nasionalisme Uighur itu sendiri. Anda bisa lihat sendiri bendera separatis
Uighur yang memiliki kemiripan dengan bendera dengan Turki, yang membedakan
hanya warna latar. Bahkan sejak tahun 1998 – 2013 terjadi ratusan kali serangan
teror di China yang dilakukan oleh Turkistan Islamic Party (TIP). TIP ini
tumbuh subur di Xinjiang, sehingga apakah salah ketika pemerintah China
melakukan perlawanan terhadap gerakan teror dan separatis yang dilakukan oleh
sebagian warga Uighur.
Selanjutnya
adalah etnis muslim Rohingya. Berbeda dengan Uighur yang tetap diakui sebagai
warga negara oleh pemerintah China, Rohingya justru tidak diberikan
kewarganergaraan oleh pemerintah Myanmar. Etnisnya yang ditengarai lebih dekat
dengan orang Bangla di Bangladesh menjadi alasan yang sangat tidak masuk akal
untuk tidak memberikan status kewarganegaraan. Etnis Rohingya yang menempati
daerah Rakhine sudah seharusnya diberikan haknya oleh pemerintah Myanmar
sebagai warga negara. Mereka merupakan penduduk asli di wilayah Rakhine. Mereka
berbeda dari Uighur yang memiliki grand issue untuk meminta kemerdekaan dari
pemerintah China, Rohingya hanya meminta untuk diakui sebagai warga negara. Dan
tentu dalam persoalan ini sesama bangsa ASEAN, Indonesia harus berperan aktif
dalam menyelesaikan persoalan etnis muslim Rohingya kepada pemerintah Myanmar.
Kemudian adalah
bangsa Arab Yaman. Negara yang berada di selatan Arab Saudi ini menjadi sasaran
kekejaman pemerintah kerajaan Arab Saudi dan sekutunya. Penderitannya akibat
serangan brutal Arab Saudi tidak terdengar begitu massif di Indonesia.
Walauapun beberapa media utama meliput beritanya, porsi yang diberikan tidak
sama dengan persoalan Palestina, Rohingya, maupun Uighur. Padahal bangsa Arab Yaman
juga adalah bagian integral dari umat islam. apakah karena yang menyerang sesama
muslim sehingga umat islam lainnya tidak memiliki niat untuk peduli.
Ada semacam
pilih kasih ketika mencoba memperlihatkan solidaritas sesama muslim. Sebenarnya
tidak usah peduli itu Arab Saudi, Mesir, maupun Uni Emirat Arab (UEA) yang
menyerang yaman, karena seharusnya kecaman dari dunia islam harus tetap ada. Ingat
bahwa Saudi, Mesir dan UEA bukanlah negara yang bersih dari dosa. Mereka juga negara
yang diciptakan oleh manusia sehingga kebiadaban yang dilakukan oleh mereka
apalagi sesama negara muslim harusnya dikecam. Bukan malah memilih-milih negara
mana yang harus dikecam dan negara mana yang diam saja. Ingat, penderitaan bangsa
Yaman sudah berlangsung sejak 2015 dan belum ada tanda-tanda Saudi dan
koalisinya akan mengakhiri keterlibatannya disana.
Berlanjut ke
etnis muslim Kurdi. Etnis ini menempati daerah tenggara Turki, utara Irak dan Suriah,
hingga barat daya negara Iran. Di empat negara ini, etnis Kurdi berpencar tanpa
memiliki satu pijakan negara sehingga tidak salah jika ada yang mengatakan
etnis besar di dunia ini yang hingga sekarang tidak memiliki sebuah negara
independen adalah Kurdi. Etnis Kurdi didominasi muslim dan diperkirakan
memiliki 25 juta warga etnis dengan segala sub etnisnya dengan mayoritas berada
di negara Turki. Di negara ini, etnis Kurdi seringkali menjadi sasaran
kekejaman pemerintahan Turki. Mereka banyak dianggap sebagai teroris dan
separatis yang hendak memecah belah persatuan Turki.
Nasib Kurdi
masih lebih baik di Irak dan Suriah. Di Irak sendiri, warga Kurdi sudah
diberikan wilayah otonom yang memungkinkan mereka untuk mengelola sumber daya
alam dan pemerintahan lokal sendiri. Bahkan aturan yang berlaku di Irak dengan
sistem pembagian kekuasaannya, seorang presiden sebagai simbol negara haruslah
dari orang Kurdi sehingga nasib mereka masih dikatakan lebih baik daripada
saudara mereka di Turki. Sedangkan di Suriah, nasib Kurdi masih belum jelas
apakah mereka berhak memiliki pemerintahan lokal sendiri seperti di Irak karena
perang saudara disana baru saja berakhir. Di Iran sendiri kaum Kurdi seperti
dingin saja tanpa ada desas desus pergolakan sehingga kita bisa memahami jika
mereka hidup tenteram dan damai disana.
Sebenarnya masih
banyak lagi kondisi muslim yang ingin saya bahas seperti di jazirah Balkan
yaitu di Kosovo dan Albania, di Kaukasus Utara yang meliputi Azerbaijan, daerah
otonom Rusia di Chechnya dan Dagestan, hingga ke anak benua di perbatasan India
dan Pakistan yaitu Kashmir. Saya akan mencoba menulisnya di lain kesempatan.

Comments
Post a Comment