KETIKA KEYAKINAN DIDASARKAN PADA PAKAIAN DAN KEBIASAAN

Momen-momen menjelang natal dan tahun baru menjadi semacam waktu yang tepat untuk mendefinisikan ulang keyakinan seseorang. Dengan berbekal satu hadist yang populer :

“Barang siapa yang mengikuti suatu kaum maka ia termasuk kaum itu”

Maka seseorang dengan mudah akan melegitimasi perpindahan keyakinan seseorang. Mereka beralasan menggunakan hadist tersebut. Diberikan contoh seperti menggunakan atribut natal berarti mengikuti keyakinan kaum nasrani, meniup terompet mengikuti ajaran yahudi, dan menyalakan kembang api diserupakan mengikuti ajaran kaum majusi yang menyembah api. Apakah memang ketika kita melakukan sesuatu yang berasal dari pihak di luar islam otomatis akan menjadi bagian dari pihak itu. Mari coba kita telaah lebih dalam perihal contoh yang diberikan dan konsistensi dalam memahami suatu hadist.

Saya awali dengan klaim sebagian orang yang melarang untuk menggunakan atribut natal dengan alasan itu adalah aksesoris natal. Jika alasan yang digunakan bahwa topi natal atau topi sinterklas bukanlah ajaran yang berasal dari islam, itu memang betul. Tetapi jika ingin konsisten menolak semua budaya, kebiasaan atau aksesoris yang tidak berasal dari islam, maka sudah dipastikan beberapa pakaian yang kita gunakan seharusnya ditanggalkan. Contoh seperti pakaian dalam perempuan yaitu BH, apakah pakaian ini ditemukan oleh orang islam. Jika bukan, mengapa perempuan muslim tidak dilabeli sesat ketika menggunakan BH.

Itu belum termasuk penggunaan aksesoris lainnya yang tidak berasal dari islam. Anda pernah lihat kecocokan topi Egi Sudjana, Amien Rais, dan Haikal Hasan yang orang dulu menyebutnya topi tikus. Apakah topi tikus ditemukan oleh orang islam. Jika tidak, apakah ketiga orang yang saya sebutkan namanya di atas otomatis berpindah keyakinan karena menggunakan atribut di luar islam. Itu belum termasuk Hannan Attaki yang ketika berceramah gemar menggunakan topi kupluk. Apakah topi itu berasal ditemukan oleh orang islam. Terus jika tidak, apakah otomatis keyakinannya akan berpindah sesuai dengan keyakinan penemu topi kupluk tersebut.

Itu juga belum termasuk ketika para pejabat kita menggunakan pakaian jas lengkap dengan dasinya, Apakah otomatis mereka menjadi orang barat karena pakaian itu pertama kali diperkenalkan oleh bangsa barat yang datang ke nusantara. Apakah pakaian Abu Lahab yang tentu seorang Arab tulen akan menjaminnya masuk surga. Saya katakan tidak ada hubungan antara pakaian seseorang dengan kualitas imannya. Karena jika pakaian yang mengantarkan seseorang menjadi muslim atau tidak dengan mencontoh pakaian Arab supaya dikatakan orang Arab, maka Abu Lahab lah orang yang dijamin juga masuk surga karena pakainnya sama dengan pakaian orang Arab pada umumnya. Apakah iman dinilai hanya dari pakaian dan aksesoris seseorang.

Kemudian apakah ketika meniup terompet otomatis kita menjadi bagian dari yahudi kerena mengikuti kebiasaannya. Bukankah di akhir kisah berlangsunya kehidupan di muka bumi ini, malaikat yang bernama Israfil akan meniup sangkakala sebanyak dua kali sebagai tanda akhir dari kehidupan di bumi. Bukankah kebiasaan meniup terompet justru mengikuti apa yang akan dilakukan oleh malaikat Israfil karena sama-sama melakukan aktivitas meniup. Dan berarti akidah kita sebagai orang islam tidak berpindah karena kita justru mengikuti aktivitas malaikat Israfil sebagai peniup sangkalala yang diyakini oleh ajaran islam.

Selain itu kembali kepada konsistensi menolak budaya selain islam, seharusnya jika memang seperti itu maka jangan menggunakan aplikasi facebook. Bukankah aplikasi itu diciptakan oleh orang yahudi. Kasus ini sama saja meniup terompet yang dianggap kebiasaan orang yahudi. Sehingga jika meniup terompet ditolak karena kebiasaan orang yahudi, maka menggunakan facebook pun harusnya ditolak karena ditemukan oleh orang yahudi walaupun dengan alasan digunakan sebagai sarana dakwah. Bukankah jika memang konsisten, bunyi hadistnya secara literal tidak dikecualikan apakah digunakan dakwah atau tidak. Tetapi yang menjadi substansi adalah mengikuti kebiasaan kaum diluar islam. Jadi sangat tidak adil dalam menggunakan akal ketika menolak satu kebiasaan yahudi, sedangkan kebiasaan lainnya diterima. Jika memang menolak, maka menolaklah secara konsisten sehingga kita memahami bahwa penolakan itu didasari pada keadilan dan bukan pada kedunguan berpikir.

Terakhir adalah pelarangan menyalakan kembang api yang dianggap mengikuti ritual kaum majusi dalam menyembah api. Konklusi yang dibangun dari pemikiran seperti ini terlihat sangat dangkal. Seperti dua contoh sebelumnya, mereka jika ingin konsisten menolak menyalakan api maka tidak ada kehidupan yang terjadi untuk mereka. Segala bentuk penolakan penyalaan api adalah bentuk kebodohan walaupun menggunakan tameng agama. Hidup ini tidak akan berjalan tanpa api. Bahkan ketika kita berada di dalam hutan, api itu sangatlah penting baik itu untuk memasak, menghangatkan tubuh maupun mengusir binatang buas. Jika mereka yang berada di dalam hutan sangat bergantung kepada api, apatah lagi jika itu masyarakat kota dan pedesaan.

Jika yang ditolak bukanlah apinya tetapi penyembahannya, maka saya dapat katakan penyalaan kembang api sama sekali tidak ada unsur penyembahan. Jika mereka yang menolak ini sekali-kali ikut menyalakan kembang api maka dia pasti akan sadar bahwa kembang api dinyalakan bukan sebagai bentuk penyembahan. Ini dilakukan murni hanyalah untuk keceriaan dan kesenangan. Jika itu dilakukan untuk penyembahan, toh ketika menyalakan kembang apai pastilah ada bahasa “tuhan api terima kasih atas berkahnya” atau redaksi lain yang intinya menganggap api sebagai tuhan. Apakah ungkapan seperti itu ada. Jika tidak ada, apa dasar klaimnya sehingga menyalakan kembang api disamakan dengan pemujaan kaum majusi terhadap api.

Bagi saya sempit dan ekslusifnya pahaman agama yang didapat menjadikan seseorang mengambil kesimpulan secara prematur. Selain itu, siapa guru agama akan sangat penting dalam membentuk pola pikir seseorang. Ingat, bahwa selain suku dan ras, agama adalah sentimen yang sangat sensitif. Sehingga seseorang yang salah memahami agama baik dikarenakan salah belajar maupun salah memilih guru, akan cenderung prematur dan ekslusif dalam memahami ajaran agama. Sehingga yang terjadi setelah itu adalah sikap radikal terhadap ajaran selain yang dianutnya dan tentu proses dari itu menghasilkan sikap intoleran. Muara dari sikap intoleran ini seperti yang kita ketahui bersama sangat berpotensi menjadi perusuh bahkan teroris. Mereka yang terlibat dalam peledakan bom tentu mereka yang intoleran karena menganggap selain dari mereka adalah salah.

Kedepan ini menjadi tugas yang sangat berat. Mungkin awalnya mereka hanya melarang menggunakan atribut-atribut yang tidak berasal dari islam. Kemudian menuju fase menyatakan bidah dan syirik perbuatan tersebut. Dan setelah itu, label kafir akan menjadi ucapan sehari-hari mereka. Ini yang banyak terjadi dan seharusnya menjadi perhatian kita bersama.



Comments