CAPAIAN DAN PRESTASI PRESIDEN JOKOWI


Dalam mewujudkan program nawacitanya, Presiden Jokowi dalam masa menjelang 4 tahun kepemimpinannya berhasil menunjukkan beberapa prestasi gemilang. Banyak yang berkata jika masivnya proyek infrastruktur yang dibangun Presiden Jokowi sebenarnya tidak menyentuh langsung ke masyarakat. Padahal faktanya selain program peningkatan infrastruktur, Presiden Jokowi juga banyak melakukan program pro rakyat yang langsung dapat dinikmati. Mari kita mulai dari Program 1 juta rumah. Sejak digulirkan, program ini telah berhasil membangun ratusan ribu rumah bersbusidi di seluruh pelosok nusantara. Pada tahun 2015 ada sekitar 600.000 yang dibangun. Kemudian pada tahun 2016 ada sekitar 800.000 unit yang dibangun. Sedangkan di tahun 2017 Presiden Jokowi berhasil membangun 900.000 unit rumah subsidi. Untuk tahun 2018 dan 2019 target pemerintah adalah membangun 1 juta unit rumah subsidi.

Kemudian Presiden Jokowi juga berhasil membagikan sertipikat tanah di tahun 2016 sebanyak 3 juta penerima, di tahun 2017 sebanyak 5 juta penerima. Sedangkan di 2018 sertipikat yang berhasil dibagikan sebanyak 7 juta penerima dan di 2019 target sertipikat yang akan dibagikan adalah 9 juta penerima. Presiden Jokowi juga memberikan kemudahan usaha untuk kalangan UMKM. Pembiayaan UMKM lewat PNM berhasil mencapai 3,2 juta nasabah. Sedangkan target di tahun 2019, dicanangkan ada 5 juta nasabah.

Di era Presiden Jokowi, bahan bakar minyak (BBM) mengalami pemangkasan subsidi yang diarahkan kepada sektor yang lebih produktif demi menjamin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indinesia. Kita bisa lihat adanya keberhasilan pemerintah dalam mewajudkan BBM satu harga di Papua sebagai dampak dari pencabutan subsidi yang telah sekian lama dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Sekadar diketahui perbandingan harga premium di era Jokowi sebesar Rp. 6.550/liter dengan tidak menggunakan subsidi dari APBN sedangkan di tahun 2014 harga premium sebesar Rp. 6.500/liter dengan alokasi subsidi sebesar 200 trilyun. Jadi dapat dibayangkan bagaimana tingginya beban APBN yang digunakan di sektor BBM di zaman SBY yang berbanding terbalik dengan era Jokowi tetapi masih tetap bisa menjaga harga bahkan mewujudkan BBM satu harga di Papua.

Selain premium, jenis BBM solar adalah konsumsi BBM bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Pada tahun 2014 atau era pemerintahan SBY harga solar subsidi sebesar Rp. 5.500/liter dengan subsidi dari APBN sebesar 45 trilyun. Sedangkan di tahun 2018 harga solar subsidi bisa ditekan lebih murah yaitu sebesar Rp. 5.150/liter dengan subsidi 15,6 trilyun dari APBN. Artinya ada pemangkasan subsidi sekitar 30 trilyun untuk alokasi solar subsidi yang berhasil dilakukan pemerintahan Jokowi dan bahkan harganya lebih murah dengan selisih Rp. 350/liter. Inilah bukti bahwa Presiden Jokowi selain berusaha mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, di sisi lain ia juga berusaha memangkas ketergantungan subsidi kita dari APBN. Dan pemikiran seperti itu hanya dimiliki oleh seseorang yang memang betul-betul bekerja untuk negara serta memiliki visi dan misi yang gemilang.

Di bidang pembangunan infrastruktur yang menjadi andalannya bersama Menteri Basuki selaku menteri PUPR, Presiden Jokowi memiliki prestasi yang sangat luar biasa. Untuk kategori desa, pemerintah berhasil membangun 5.220 pasar. Selain itu ada 123.145 KM jalan di desa yang berhasil dikerjakan, ada juga 791.145 M jembatan yang berhasil dibangun. Terdapat pula 26.070 unit Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang berhasil didirikan sebagai dana pembangunan di desa serta ada 28.091 unit irigasi yang telah berhasil dikerjakan. Di bidang infrastruktur lainnya, Presiden Jokowi berhasil membuat 649 KM jalan tol trans Jawa. Kemudian ada sepanjang 176,2 KM trans Papua yang berhasil dibangun untuk pertama kalinya.

Daerah perbatasan juga tidak ketinggalan dari masivnya pembangunan infrastruktur yang dibangun Presiden Jokowi. Di perbatasan dengan Malaysia di daerah Kalimantan, ada 1.920 KM jalan perbatasan yang telah dibuat. Sedangkan di perbatasan Timor Leste di daerah NTT ada sepanjang 4.330 KM jalan perbatasan yang telah dibuat. Selain itu, Presiden Jokowi juga berhasil menuntaskan proyek-proyek mangkrak di era pemerintahan sebelumnya seperti Bandara Kertajati di Majalengka yang mangkrak 10 tahun. Jakarta MRT yang telah mangkrak 20 tahun berhasil juga diselesaikan. Terus Presiden Jokowi juga berhasil menuntaskan jalan tol Solo-Kertasono yang telah mangkrak hampir 10 tahun. Begitu juga Nipah Dam dan Batang Power Plant yang berhasil dituntaskan di era pemerintahan Jokowi.

Di bidang ekonomi, Presiden Jokowi berhasil membuat gebrakan-gebrakan hebat. Kita mulai dari inflasi. Di tahun 2010 inflasi tercatat sebesar 6,86%. Di tahun 2014 inflasi tercatat sebesar 8,36%. Di tahun 2015 inflasi tercatat sebesar 3,35% dan di tahun 2018 inflasi sebesar 3,18%. Artinya ada tren penurunan inflasi yang berhasil dicapai oleh pemerintahan Jokowi. Presiden Jokowi juga berhasil menaikkan tren pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Di tahun 2015 pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9%. Di tahun 2016 sebesar 5,02%. Di tahun 2017 sebesar 5,07%. Dan di tahun 2018 sebesar 5,27%. Tren kemiskinan di era Presiden Jokowi mengalami penurunan. Di tahun 2014 sebesar 11,25%, di tahun 2015 sebesar 11,13%, di tahun 2016 sebesar 10,64%, di tahun 2017 sebesar 10,12%. Dan di tahun 2018 untuk pertama kalinya dalam sejarah, angka kemiskinan kita menurun hingga mencapai satu digit saja yaitu 9,84%. Pengangguran juga di era Presiden Jokowi mengalami penurunan. Di tahun 2015 pengangguran tercatat sebesar 6,18%, di tahgun 2016 sebsar 5,61%, di tahun 2017 sebesar 5,50% dan di tahun 2018 sebesar 5,13%. Di sektor penerimaan negara pun, era Presiden Jokowi memperlihatkan kinerja yang hebat. Tercatat penerimaan pajak sebesar Rp. 1,781 trilyun. Kemudian rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 12,1%. Penerimaan bukan pajak sebesar Rp. 361,1 trilyun dan ditargetkan pada tahun 2019 pertama kali pendapatan negara dan hibah akan tembus di angka Rp. 2.000 trilyun.

Prestasi yang dicapai oleh Presiden Jokowi akan dapat ditingkatkan lagi di masa yang akan datang jika kita mendukung program-programnya yang sangat pro rakyat. Tidak ada lagi anggapan bahwa saudara-saudara kita di Papua menjadi anak tiri dan yang di pulau Jawa menjadi anak emas sebagai akibat dari kebijakan orde baru yang Jawa Sentris. Presiden Jokowi menenkankan jika pemerintahannya yang menjadi pusat adalah Indonesia itu sendiri dengan sebutan Indonesia Sentris. Sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan dapat diwujudkan sebagaimana yang tertera di pasal lima pancasila.



Comments