PESULAP KATA-KATA DAN PEMBELA AGAMA


Bagi saya penjelasan panjang Rocky Gerung mengenai pemahaman fiksi tidak lebih lah dari kepandaiannya menyulap kata-kata untuk menghegemoni masyarakat awam. Konteks pemahaman fiksi yang sudah melekat di masyarakat adalah cerita rekaan baik itu roman, novel, dan sebagainya yang didasarkan pada khayalan atau pikiran saja. Kemudian di sebuah acara, Rocky Gerung mencoba untuk meredefinisi kata fiksi itu sendiri.

Menurutunya fiksi adalah kata benda yang selalu memiliki literatur. Pada poin ini, saya masih dapat memahami pemahaman yang diucapakannya. Karena memang berbagai karya fiksi memiliki banyak literatur baik yang didasari pada hal faktual maupun keterangan yang belum teruji kebenarannya. Kemudian ia menambahkan bahwa fiksi itu berisi enerji untuk mengaktifkan imajinasi. Pada poin ini menjadi titik awal kegelisahan saya untuk berkomentar mengenai pemahaman fiksi yang ia maksud.
Imajinasi seperti yang kita pahami adalah produk khayalan. Jadi kitab suci yang dimaksud oleh Rocky Gerung tidak lebih adalah hal yang berupa khayalan. Misalnya saja ketika kita berimajinasi menjadi orang kaya, ketika itu pula maka status kita sebagai orang kaya adalah fiksi. Sama juga ketika kita berimajinasi untuk menikah, maka pada saat itu realitas kita belum menikah sehingga itu dikatakan fiksi. Sekarang mari memahami apakah konteks definisi ini bisa dilekatkan pada kitab suci. Kita ambil contoh pada saat kalimat di dalam Al Quran, “Katakanlah Dialah Allah yang Esa” (QS Al Ikhlas : 1).  Apakah ke Esaan Allah SWT seperti yang dijelaskan di dalam Al Quran adalah hal yang fiksi. Apakah ke Esaan Allah SWT tidak lebihlah dari sebuah enerji untuk mengaktifkan imajinasi. Bukankah ke Esaan Allah SWT adalah hal yang sudah terjadi dan itu adalah sebuah realitas.

Pernyataan tambahan dari Rocky Gerung bahkan semakin menjelaskan jika ia tidak memahami apa isi sebenarnya dari sebuah kitab suci terutama Al Quran. Dengan lantang ia berkata jika fiksi itu adalah lawan dari realitas. Jika kita sependapat dengan pernyataan itu, maka konsekuensinya adalah fiksi adalah hal yang tidak akan terjadi karena lawan dari realitas. Seperti kata muda lawan dari tua, karena seseorang yang muda tidak akan bersamaan sekaligus menjadi tua. Begitupun dengan fiksi yang berlawanan dengan realitas. Maka fiksi tidak akan mungkin di saat yang bersamaan sekaligus menjadi realitas. Ini hal yang harus kita pahami terlebih dahulu.

Sekarang mari kita lihat jika kitab suci itu dikatakan fiksi padahal di dalamnya terdapat penjelasan bahwa Allah SWT itu Esa. Bagaimana mungkin hal yang sudah terjadi misalanya ke Esaan Allah SWT disebut sebegai fiksi yang berkonsekuensi menolak itu sebagai realitas. Mudahnya dipahami bahwa ke Esaan Allh SWT jika mengamini pendapat Rocky Gerung maka dipahami sebagai hal yang tidak tidak terjadi. Padahal ke Esaan Allah SWT adalah hal yang pasti bagi kami umat islam.

Kemudian Rocky Gerung juga berpendapat jika kitab suci itu belum selesai. Padahal yang dipahami oleh umat islam, kitab suci mereka yaitu Al Quran adalah kitab penutup yang artinya tidak ada lagi kitab suci setelahnya. Hal ini semakin menunjukkan jika kualitas pemikiran Rocky Gerung sebenarnya sangat berbahaya karena mengagresi kepercayaan seseorang tentang realitas sebuah kitab suci. Pernyataannya yang menyamaratakan semua kitab suci adalah fiksi menunjukkan kekacauan dari cara berpikirnya. Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan kepercayaannya jika kitab suci yang dimaksud adalah kitab suci yang dia yakini di dalam internal agamanya, tetapi jika menyamaratakan semua kitab suci adalah fiksi bahkan menyandingkannya dengan buatan manusia seperti Babad Tanah Jawa adalah sebuah agresi terhadap keyakinan agama tertentu. Kitab suci bukanlah rekaan manusia yang tidak memiliki realitas, tetapi sebuah wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Nya untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Sebenarnya pernyataan Rocky Gerung yang menyamakan kitab suci sebagai produk fiksi sudah pernah disinggung di dalam Al Quran. Dijelaskan bahwa kata dongeng, legenda, maupuan mitos yang bisa dikatakan sebagai produk khayalan manusia itu berasal dari bahasa arab yang disebut sebagai “asathir” yang merupakan bentuk jamak dari kata “ustharah”. Kata “asathir” biasanya digabungkan dengan kata “awwalin”. Frasa “asathir” dan “awwalin” disebutkan di dalam Al Quran sebagai penjelasan adanya sekelompok orang yang menganggap berita kebenaran Al Quran tidak lebih hanya dongeng saja. Kita bisa lihat di salah satu firman Allah SWT berikut ini:

“Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “ (Ini adalah) dongeng-dongengan orang –orang dahulu kala.” (QS Al Qalam : 15)

“Dan diantara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan Al Quran) Mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata :”Al Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (QS Al An’Am : 25)

Jadi jelas bahwa apa yang dijelaskan oleh Al Quran tentang adanya sekelompok orang yang menganggap ayat-ayat di dalam Al Quran sebagai dongeng telah diperlihatkan oleh seorang Rocky Gerung. Redefinisi yang ia ungkapkan tentang makna dari fiksi telah menyejajarkan kitab suci dengan karya menusia. Dan itu memang sudah dijelaskan oleh Al Quran bahwa akan ada model manusia semacam ini. Model manusia yang memahami kitab suci tidak berisi hal-hal yang bersifat reliatas dengan hanya sebatas melihat contoh eskatologi (hari akhir). Padahal ke Esaan Allah SWT, mujizat Nabi-Nabi terdahulu, hingga kebenaran sains Al Quran yang telah terbukti sekarang menjelaskan bahwa hal itu realistis dan tentu saja hal ini sebuah realitas.

Setelah melihat kekeliruan Rocky Gerung dalam memahami redefinisi fiksi dengan kitab suci, konteks selanjutnya yang harus diperhatikan adalah tanggapan dari para “pembela agama”. Beberapa hari yang lalu masih segar di ingatan kita bagaimana perdebatan soal puisi tentang cadar dan azan yang dilakukan oleh perempuan berkonde. Reaksi yang timbul dari para pembela agama ini bahwa sang perempuan berkonde ini menistakan agama. Hal yang berbeda justru diperlihatkan dalam menanggapi pernyataan Rocky Gerung. Entah sang pembela agama sekarang lebih bersikap dewasa dalam memahami perbedaan penafsiran agama, ataukah bisa jadi mereka merasa bahwa pernyataan Rocky Gerung tidak ada masalah sehingga tidak ada alasan untuk didemo.

Baginya pernyataan yang menyamakan kitab suci termasuk di dalamnya Al Quran sebagai karya fiksi yang berlawanan dengan realitas bukanlah masalah. Sedangkan membahas cadar dan azan dengan membandingkannya dengan konde dan nyanyian kidung dianggapnya sangat bermasalah. Makanya tidak heran pula muncul pertanyaan mendasar, apakah memang pembelaan terhadap agama dilakukan dengan ikhlas ataukah pembelaan agama dilakukan demi kepentingan kelompok tertentu. Kita tidak usah menutup mata bagaimana sang pembuat puisi konde yaitu Sukmawati Soekarno Putri adalah pendukung Jokowi sedangkan Rocky Gerung adalah orang yang selalu mengkritik Jokowi. Para pembela agama ini sangat mudah menimpakan tuduhan penistaan agama kepada mereka yang dekat dengan Jokowi. Sedangkan mereka yang kontra dengan Jokowi, para pembela agama tidak merasa risih walaupun kitab sucinya dipahami sebagai khayalan yang belum terjadi sekarang.

Inilah sebenarnya kekacauan beragama dari kelompok yang menamakan dirinya sebagai pembela agama. Pembelaan sebenarnya terjadi bukan pada objek pernyataan seorang tokoh ketika membicarakan agama, tetapi objek sebenarnya adalah siapa yang berada di balik pernyataan itu tanpa peduli isi pernyataannya. Dalam kajian kesalahan berpikir ini disebut sebagai “Argumentum ad Hominem”. Bagiamana kritikan dilakukan bukan pada pernyataannya, tetapi ditujukan kepada siapa yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Jadi sebenarnya bukan masalah ketika ada seseorang yang berpandangan bahwa kitab suci itu hanyalah fiksi dalam artian khayalan yang belum terjadi, selama ia masih di dalam satu barisan kelompok dengan kepentingan yang sama. Sedangkan jika mereka berada di luar barisan, apapun penjelasan maupun permohonan maafnya maka ia tetap salah.

Dan saya menganggap para pembela agama ini justru sedang dalam keadaan yang kacau balau dalam beragama karena meyakini kebenaran agama berada di dalam kelompok yang sama sedangkan di luar dari kelompok itu semuanya salah karena itu sangat berhubungan dengan kepentingan. Jadi masihkah kita percaya dengan isi pernyataan si pesulap dan tindak tanduk hingga demo para pembela agama ini.





Comments