Dalam
sebuah kesempatan, Abdul Somad sedang berada bersama Kapolri Jenderal Tito
dalam pertemuan di Majelis Az Zikra pimpinan Arifin Ilham pada tanggal 04 Maret
2018. Jenderal Tito pun bertanya tentang konflik yang terjadi di negara yang
mayoritas muslim seperti Suriah, Afghanistan, Yaman dan melibatkan sesama
muslim serta bagaimana menyikapinya jika itu terjadi di Indonesia. Abdul Somad
yang bertindak sebagai narasumber pun memberikan jawaban perihal pertanyaan
itu. Menurutnya hal yang harus dilakukan agar dapat mencegah konflik seperti
yang terjadi di beberapa negara muslim tersebut adalah melakukan tabayyun atau
klarifikasi sembari mengutip firman Allah SWT di dalam Surah Al Hujarat Ayat 6:
“Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatan kamu itu.”
Pernyataan
Abdul Somad yang mengutip firman Allah SWT memang sudah sangat tepat. Bahwa
Allah SWT telah mengingatkan kita agar melakukan terlebih dahulu klarifikasi
terhadap sebuah berita. Ini sangat penting karena berita bohong yang tersebar
dengan masiv akan dapat menjadi sebuah “kebenaran” ketika sebagian besar orang
telah mempercayainya. Bukankah kebohongan yang terus diulangi akan menjadi
sebuah kebenaran. Hanya saja yang perlu digaris bawahi disini adalah bahwa
Abdul Somad sepertinya tidak belajar dari apa yang dia ucapkan sendiri.
Ungkapannya
tentang perlunya melakukan suatu klarifikasi terhadap sebuah berita, ia justru kurang
mempraktekannya di konflik Suriah. Dalam sebuah ceramah yang diunggah di
Youtube, Abdul Somad berceramah tentang konflik Suriah. Pada garis besarnya
ceramah yang ia kemukakan banyak menyerang Presiden Suriah Bashar Al Assad.
Abdul Somad menyebut jika Assad adalah manusia terlaknat. Ia pula menyebut jika
di Suriah Allah SWT lagi memperjelas mana yang sebagai sampah, mana yang
sebagai beras, dan beberapa ungkapan-ungkapan lainnya. Selain itu, Abdul Somad
pun berkata jika di Suriah sedang terjadi penyaringan. Yang pertama adalah
naiknya Bashar Al Assad menjadi Presiden Suriah yang merupakan Syiah Nushairiyah.
Kemudian yang kedua adalah masuknya intervensi kafir dengan proyek
kristenisasi. Dan yang ketiga adalah munculnya kembali komunis.
Mari kita
lihat apakah Abdul Somad telah mempraktekkan firman Allah SWT di dalam melihat
konflik Suriah. Ada beberapa poin penting yang disebutkan di dalam ceramahnya.
Dimulai dari perkataan Abdul Somad yang menilai jika Bashar Al Assad adalah
manusia terlaknat. Entah dasar apa Abdul Somad mengatakan jika Bashar Al Assad
adalah manusia terlaknat. Apakah perbuatan Bashar Al Assad dalam menyelamatkan
negaranya dari serangan teroris berkedok agama adalah tindakan laknat. Misalnya
jika kota Makassar dikuasai oleh pemberontak kemudian pemerintah melakukan
tindakan pembebasan kota, apakah itu disebut dengan tindakan laknat. Terus
bagaimana dengan tindakan Presiden Turki yaitu Racip Erdogan yang menginvasi
kawasan Arfin dengan dalih menjaga perbatasan dari gerakan separatis Kurdi
padahal merupakan wilayah kedaulatan Suriah serta justru membunuh banyak warga
Kurdi disana, apakah itu bukan tindakan laknat. Tidak usahlah menggunakan kata
laknat, coba kata “salah” saja apakah Abdul Somad berani memberikan label Racip
Erdogan seperti itu.
Faktanya Assad
bukanlah tipe orang seperti Racip Erdogan yang sangat pragmatis dan terkesan
licik di dalam konstalasi politik global. Mungkin Abdul Somad belum tahu atau
pura-pura tidak tahu bagaimana dekatnya hubungan Israel dan Turki di bawah
pimpinan Racip Erdogan. Di satu sisi Racip Erdogan dipuji oleh banyak kaum
muslimin karena kepeduliannya terhadap Palestina, tetapi di sisi lain banyak
yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya Israel dan Turki
adalah sahabat. Bukankah berteman dengan musuh teman adalah sebuah
pengkhianatan. Bashar Al Assad yang dicap oleh Abdul Somad sebagai manusia
terlaknat justru melakukan hal sebaliknya. Suriah sejak zaman mendiang ayahnya
yaitu Hafeez Al Assad hingga sekarang menjadi negara yang berperang langsung dengan
Israel dan belum menandatangani perjanjian damai. Dengan konsekuansi daerahnya
yaitu Dataran Tinggi Golan dianeksasi. Bahkan sebelum konflik 2011, Suriah
membuka kantor perwakilan Hamas di Damaskus ketika hampir semua negara Arab
menolak Hamas. Adakah fakta itu disembunyikan dan tidak disadari oleh Abdul
Somad.
Belum
lagi sepak terjang Raja Salman di Yaman yang telah memasuki tahun ketiga
menginvasi Yaman dengan dalih menyelamatkan pemerintah Mansour Hadi. Dimana
suara Abdul Somad ketika bom-bom Arab Saudi dan koalisinya dijatuhkan ke rakyat
Yaman. Dimana suara Abdul Somad ketika Arab Saudi dan koalisinya memblokade
Yaman dan mengancam jutaan rakyat Yaman dalam kelaparan. Apakah rakyat Yaman
itu bukan bagian dari islam. Apakah Yaman itu bukan bagian dari bangsa Arab. Mengapa
hal ini tidak menjadi perhatian Abdul Somad, padahal korban sipil pun
berjatuhan di sana. Tidak usahlah mengutuk tindakan rezim Saud di Yaman, bahkan
ucapan bela sungkawa terhadap korban kebrutalan Saudi di Yaman akan sangat
sulit keluar dari mulut Abdul Somad.
Selanjutnya
adalah tuduhan yang dilancarkan Abdul Somad bahwa Bashar Al Assad adalah
kelompok Syiah Nushairiyah. Ia mungkin belum pernah melihat banyaknya fakta
yang memperlihatkan foto Bashar Al Assad shalat dengan muftih Suriah yaitu Syeikh
Ahmad Hassoun atau Syeikh Ahmad Baddruddin Hassoun yang menjabat sejak Juli
2005 menggantikan Grand Mufti Suriah sebelumnya yaitu Syeikh Ahmed Kuftaro atau
Syeikh Ahmad Muhammad Amin Kuftaro (wafat tahun 2004) yang merupakan ulama Sunni,
pimpinan Tarekat Sufi Naqsyabandiyah dan termasuk salah satu pendiri Liga
Muslim Dunia. Beliau merupakan Doktor dalam mazhab fiqh Syafi’i yang diperoleh
dari Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Lahir di Aleppo pada tahun 1949. Dan fakta
yang tersaji dari foto-foto tersebut adalah bahwa Bashar Al Assad shalat dengan
tangan bersedekap yang merupakan fikih Ahlussunnah. Jadi agak mengherankan jika
Abdul Somad mengambil kesimpulan seperti ini yang kesannya sangat prematur dan
mengada-ada.
Kemudian
Abdul Somad juga berujar bahwa di Suriah sedang terjadi intervensi kafir dengan
proyek kristenisasi. Entah data darimana yang ia dapatkan bahwa terjadi
kristenisasi disana. Sekadar yang kita pahami bahwa Republik Arab Suriah adalah
sebuah negara sosialis arab yang sekuler dan bersatu. Sekuler berarti ada
pemisahan antara urusan privat dan urusan publik yang diatur oleh negara. Urusan
privat seperti kebebasan memilih agama tidak akan diintervensi oleh negara
bahkan dijamin kebebasannya. Sedangkan urusan publik seperti hubungan antar
warga negara maka hal itulah yang menjadi tupoksi dari pemerintah. Sedangkan bersatu
disini menjelaskan jika Suriah merupakan negara multi agama dan etnis. Selain
agama islam, di Suriah juga terdapat banyak pemeluk agama kristen. Begitu juga keberagamaan
Suriah dapat dilihat dari etnis. Selain mayoritas Arab, penduduk Suriah
terutama di bagian utara banyak didiami oleh etnis Kurdi dan Armenia.
Jadi
agak mengherankan jika ada pernyataan keliru seperti itu yang dikeluarkan oleh
seorang pendakwah. Entah kafir siapa yang dimaksud akan melakukan proyek
kristenisasi itu. Bukankah pilihan agama seseorang adalah hak paling asasi dan
negara pun tidak berhak merampok kemerdekaan itu. Jangan sampai hanya karena
melihat banyak pengungsi Suriah yang mengungsi ke Eropa dan berpindah keyakinan
langsung mengambil kesimpulan telah terjadi proyek kristenisasi. Kesimpulan seperti
itu sangat naif. Seharusnya yang patut dipersalahkan disini adalah para
penyokong baik dana maupun senjata kepada para teroris. Arus pengungsi tidak
akan ada ketika sebuah negara aman. Mereka yang mengungsi ke Eropa tidak akan
menggadaikan keimanannya seandainya para pemberontak dan teroris itu tidak
menghancurkan Suriah maupun tidak memperlihatkan tindakan bar-bar seperti
pemenggalan kepala yang justru membuat orang akan semakin antipati terhadap
islam.
Yang
terakhir mengenai ucapan Abdul Somad bahwa di Suriah telah muncul komunis. Tak lain
yang dimaksud komunis disini adalah Rusia yang menjadi sekutu dari Bashar Al
Assad. Lagi-lagi Abdul Somad seperti kekurangan literatur valid dalam mengambil
kesimpulan ini. Jadi penjelasan awal dimulai dari kawasan Timur Tengah sendiri
dalam melihat komunis. Di beberapa negara Arab seperti Yaman dan Palestina,
gerakan komunis bukanlah sebuah gerakan yang dilarang. Bahkan gerakan komunis
Palestina menjadi salah satu faksi perjuangan dalam melawan kekejaman rezim
zionis di samping Hamas dan Jihad Islam. Jadi persepsi awal seperti ini yang
harus kita pahami. Kemudian menganggap Rusia sekarang di bawah pimpinan Presiden
Vladimir Putin sebagai negara komunis adalah kebodohan yang nyata. Federasi
Rusia adalah sebuah negara berbentuk federasi dan Vladimir Putin bukanlah
seorang politikus dari partai komunis. Ia adalah politikus dari partai
persatuan Rusia yang dicalonkan pada pemilu presiden 2018. Bahkan lawan politik
Putin berasal dari Partai Komunis Rusia yaitu Pavel Grudinin.
Kemudian
sebuah negara komunis umumnya menganut sistem satu partai seperti yang terjadi
di Cina. Sedangkan di Rusia, terdapat banyak partai. Selain itu sistem ekonomi
Rusia telah jauh meninggalkan warisan Soviet sejak keruntuhannya dan mengadopsi
berbagai kebijakan sistem ekonomi negara kapitalis. Jadi sangat tidak tepat
jika kehadiran Rusia di Suriah dipahami sebagai masuknya komunis disana. Pemimpin
Rusia yaitu Vladimir Putin adalah seorang kristen dan kehadirannya di Suriah
adalah permintaan resmi dari Bashar Al Assad guna memerangi teroris di sana. Coba
bandingkan dengan Racip Erdogan yang seenaknya memasuki Afrin tanpa izin dari
Damaskus. Justru saya melihat tindakan Erdogan ini mengingatkan kita dengan tindakan
semena-mena Israel dalam mencaplok Dataran Tinggi Golan yang merupakan milik
Suriah.
Banyak
hal yang sebenarnya harus dipahami sebelum berkomentar tentang konflik Suriah,
apalagi jika hal itu dilakukan oleh pendakwah. Abdul Somad harus paham bahwa
awal mula konflik Suriah bukan masalah penindasan Bashar Al Assad kepada
warganya, karena jika hal itu menjadi pemicu awal maka nasib Assad akan sama
seperti Husni Mubarak di Mesir maupun Ben Ali di Tunisia yang gerakan
perubahannya memang dikehendaki oleh rakyatnya sendiri. Justru gerakan
perubahan diinginkan oleh kekuatan multi nasional yang merasa kepentingannya
tidak dapat diakomodir oleh Assad. Dia yang memilih untuk tidak berdamai dengan
Israel membuat Amerika Serikat mencari segala cara untuk menjatuhkannya. Sama seperti
keinginan Qatar dan Turki yang hendak membuat saluran pipa gas melalui Suriah
dan tidak direstui oleh Assad, maka mereka dengan cekatan membuat propaganda
bengis guna menghancurkan Suriah.
Cukup
sudah bagaimana Libya menjadi pelajaran. Negeri yang awalnya makmur ini di
bawah pemerintahan Muammar Khadafi, akhirnya menjadi negara rusuh pasca
digulingkannya Khadafi oleh koalisi NATO. Tidak ada penegakan khilafah disana
seperti yang digembar-gemborkan oleh para pemberontak. Malahan yang terjadi
adalah perampokan sumber daya alam oleh kekuatan asing. Hal inilah yang coba
diulangi di Suriah dengan mengirim pemberontak dari berbagai dunia. Yang ternyata
membuat Suriah porak-poranda.
Melihat
realitas dalam konfik Suriah ini, maka tidak mengherankan jika kita sepertinya
bertanya-tanya. Apakah Abdul Somad lupa dengan fakta-fakta ini. Atauakah ia
kekurangan literatur yang valid dalam melihat konflik Suriah secara
komprehensif. Atau memang ia lagi amnesia dengan pernyataannya sendiri terkait
klarifikasi sebuah berita. Semoga Indonesia aman-aman saja di tengah arus
propaganda busuk yang sengaja dihembuskan guna memecah belah negara ini.

Bagaimanapun juga yg namanya pemimpin harus melindungi rakyatnya....apalagi bagi seorang muslim...tepat apa yg dikatakan Abdl Somad
ReplyDeleteBEDA PENFAPAT DAN PANDANGAN BOLWH SAJA, GITU AJA KOK REPOT
ReplyDeleteAbdul somad pura2 pikun yaaa... kasihan
ReplyDeleteIngin Cari Kaos Dakwah Terbaik, Disini tempatnya:
ReplyDeleteTshirt Dakwah Quote
Mau Cari Bacaan Cinta Generasi Milenia Indonesia mengasikkan, disini tempatnya:
Punya Pasangan Sempurna Nggak Indah Kelihatannya