Di laman portal era
muslim tertanggal 12 Maret 2018 diwartakan sebuah berita dengan judul “Angola
Resmi Larang Islam di Negaranya”. Penjelasan dari berita itu disebutkan bahwa
bangunan berupa masjid, kitab suci Al Quran, pelaksanaan shalat, dan puasa di
bulan Ramadhan, serta semua yang berbau islam dilarang keras di Angola. Bahkan
Presiden Angola yaitu Jose Eduardo Dos mendukung penuh pelarangan ini.
Sebagaimana menurut era muslim berita ini dikutip dari Marocco News.
Di akhir
pemberitaannya, era muslim juga menulis bahwa proses pelarangan eksistensi
islam di Angola diyakini bukan tanpa sebab dan tanpa proses panjang. Mungkin
ada banyak sebab dan mungkin pula salah satunya adalah “serbuan investor dan
pekerja negara komunis RRC” ke Angola. Bahkan di salah satu akun facebook
dengan narasi yang sama ditampilkan oleh portal era muslim, kiriman dengan
keterangan seperti ini telah dibagikan sebanyak 14.525 kali. Dan itu angka yang
sangat luar biasa serta tentu saja fantastis.
Sebagai umat islam
apalagi berita ini berkaitan dengan islam, maka sebaiknya kita melakukan
klarifikasi terhadap berita ini. Sebenarnya berita ini pertama kali dimuat pada
tahun 2013 lalu. Dan pada tahun 2015 – 2016 pemberitaan ini hampir tidak ada
lagi. Menurut KBRI di Windhoek, Konselor Pensosbud Pramudya Sulaksono
menjelaskan bahwa ia mengaku mendapat juga kabar soal pelarangan ini. Pada
tahun 2015 yang lalu KBRI melakukan konfirmasi langsung terhadap Kementerian Luar
Negeri Angola dan Imam Besar Angola perihal berita ini. Dan mendapati berita
bahwa tidak ada pelarangan ajaran islam di sana.
Maka akan sangat wajar
jika kemudian muncul pertanyaan, mengapa berita yang sejatinya bermula di tahun
2013 ini muncul lagi di tahun 2018. Apakah ada agenda dan kepentingan tertentu
di balik pemberitaan ini. Bahkan ada penambahan narasi yang menyebutkan jika
pelarangan ini identik dengan intervensi Cina baik dari segi investasi maupun
serbuan tenaga kerja asing. Jadi ada penggiringan opini publik yang ditujukan
kepada pemerintah dikarenakan berita ini viral di tanah air. Sasaran opini yang
dibentuk seperti ini:
Pertama, portal era
muslim ingin mengidentikkan kerjasama ekonomi dengan negara komunis seperti RRC
adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Dijelaskannya bahwa negara seperti Angola
yang bekerjasama dengan RRC pada suatu saat ketika telah dikuasai akan
diintervensi kebijakan dalam negerinya. Dan dicontohkan bahwa akan ada
pelarangan ajaran agama termasuk ajaran islam dikarenakan RRC identik sebagai negara
komunis. Hal inilah yang akan terjadi juga dengan Indonesia di tengah gencarnya
berbagai kerjasama pemerintah dengan RRC. Padahal sejatinya kerjasama tidak
hanya dilakukan dengan RRC, negara seperti Arab Saudi, Rusia, Iran, Turki,
maupun Amerika Serikat juga menjadi mitra internasional pemerintah kita. Bahkan
itu sudah terjadi sejak pemerintahan sebelumnya dan tidak ada yang memprotes hal
tersebut.
Patut diketahui bahwa kerjasama
dengan Arab Saudi tentunya bukan untuk menjadikan negara kita bagian dari gerakan
wahabi. Sama halnya kerjasama yang dilakukan dengan Turki tidak membuat negara
kita otomatis menjadi sarang gerakan Ikhwanul Muslimin sebagaimana mereka yang
tergabung sebagai pendukung militan Erdogan. Begitu pula bekerjasama dengan
Iran tentunya bukan dengan tujuan ingin menjadikan Indonesia menjadi negara
syiah berikutnya. Demikian pula kerjasama dengan Amerika Serikat bukan berarti
kita ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Kristen ataupun negara kapitalis
dan meminggirkan umat islam. Harus dipahami bahwa Indonesia dalam hubungannya
dengan dunia internasioanl memiliki prinsip bebas aktif. Bebas berarti tidak
terikat dengan paham suatu negara untuk diajak kerjasama dan aktif berarti
senantiasa menyerukan perdamaian dunia internasional. Dan itu pulalah yang dilakukan
oleh Presiden Jokowi.
Sehingga sebenarnya sasaran
tembak dari pemberitaan portal era muslim ini adalah Presiden Jokowi. Dan
tentunya target mereka adalah memenangkan calon mereka sehingga Presiden Jokowi
tidak terpilih lagi pada pilpres 2019. Jadi sangat jelas disini bahwa sebagai
corong yang menolak Presiden Jokowi, portal era muslim melakukan segala cara
walaupun dengan berita bohong untuk menjatuhkan elektabilitas Presiden Jokowi.
Kemudian yang kedua adalah
mengenai tenaga kerja asing. Jika dibandingkan tenaga kerja asing keseluruhan
di Indonesia dengan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia, maka
angkanya tidaklah sebanding. Coba kita lihat bagaimana pemerintah Malaysia
tidak pernah mempersoalkan jutaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia padahal
jumlahnya hampir mencapai 10% dari total penduduk Malaysia. Sedangkan disini
para pekerja asing terutama asal RRC yang bahkan tidak mencapai 1 juta orang.
Sehingga adalah hal yang lucu ketika mengaitkan jumlah tenaga kerja asing asal
RRC dan peluangnya menguasai Indonesia. Pemikiran seperti ini bahkan terlihat
cengeng dibandingkan dengan bagaimana pemerintah Malaysia menyikapi jumlah
tenaga kerja asal Indonesia disana.
Sebenarnya ketakutan
ini hanyalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh para lawan politik Presiden Jokowi
seperti portal era muslim ini. Berita-berita yang memang sengaja dibuat dan
disebarkan ini sangat jelas bertujuan bagaimana menjatuhkan elektabilitas Presiden
Jokowi menjelang pilpres 2019. Karena mereka yang berada di belakang layar
portal era muslim sadar akan rendahnya tingkat literasi masyarakat disini. Bahkan
berita inipun di sebuah akun facebook telah dibagikan sebanyak 14.525 kali dan
tentunya ini menjadi angka yang sangat fantastis sekaligus menyedihkan.
Bayangkan ketika masyarakat
kita sudah sangat kecanduan hoax sehingga berita-berita yang belum dapat
dipastikan kebenarannya pun ditelan mentah-mentah dan dibagikan secepat kilat.
Negara ini memang sudah sangat darurat hoax dan ini yang dimanfaatkan betul
oleh mereka yang punya kepentingan dalam kancah politik baik lokal maupun
nasional karena malasnya masyarakat kita di dalam melakukan klarifikasi berita.
Dalam sejarahnya, para pembuat berita bohong ini sudah ada sejak zaman Yunani
kuno dan disebut kaum sophis yang memang sengaja membentuk opini publik yang
sesat di tengah minimnya minat literasi masyarakat. Dan masyarakat yang minim
literasi dan menelan mentah-mentah berita ini disebut sebagai paralogisme. Para
kaum sophis ini tahu bahwa dikarenakan minat literasi yang kurang maka akan
sangat mudah memperngaruhi persepsi masyarakat apalagi jika ditambahkan dengan
bumbu agama maka dagangan berita itu akan laris manis.
Terkhusus untuk berita
hoax yang menyerang Presiden Jokowi, serangan ini sudah bermula sejak
perhelatan pilpres 2014. Mulai dari berita keturunan Cina, antek asing, hingga
anak PKI menjamur di tengah masyarakat. Dan hasilnya sungguh luar biasa.
Walaupun Presiden Jokowi memenangkan pertarungan pilpres 2014, masih banyak
masyakarakt yang termakan isu tentang Jokowi. Kita bisa lihat di berbagai
akun-akun media sosial masih banyak yang mengangkat isu ini walaupun itu hoax
dkarenakan akalnya sudah tertutupi oleh rasa kebencian yang mendarah daging.
Hal ini pun sangat dipahami oleh produsen hoax sehingga melakukan penyebaran
berita bohong demi memenuhi ambisi politik di 2019. Dan sebagai masyarakat cerdas,
kita harus pahami itu termasuk juga memberikan pemahaman kepada saudara maupun
teman kita agar tidak terjebak di pemberitaan hoax.
Mengkritik boleh, hoax
jangan…

Comments
Post a Comment