INI BUDAYA MAKASSAR, BUKAN BUDAYA TETANGGA


Sering saya jumpai banyak penggunaan istilah bugis makassar yang diarahkan untuk menunjuk suku yang mendiami Provinsi Sulawesi Selatan. Jika kita melihat sensus penduduk, memang mayoritas suku yang mendiami provinsi ini adalah Suku Bugis. Tetapi yang perlu dicatat adalah bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan ada banyak suku yang mendiami wilayah ini seperti suku Makassar, Mandar, Toraja, Bugis dan beberapa suku-suku kecil lainnya yang tetap menganggap jika mereka tidak termasuk di empat suku besar ini.

Jadi akan sangat keliru jika banyak orang yang menganggap bahwa suku Makassar dan suku Bugis itu sama. Nyatanya kedua suku ini banyak memiliki perbedaan walaupun di samping itu juga memiliki banyak persamaan. Mari kita lihat dari segi bahasa. Walaupun ada beberapa kosa kata yang sama, tetapi nyatanya perbedaan kosa kata kedua suku ini sangat banyak. Dan jika kedua suku ini bertemu maka mereka akan sangat sulit memahami bahasa diantara mereka kecuali salah satu dari mereka pernah belajar bahasa Makassar atau bahasa Bugis. 

Kemudian dilihat dari segi budaya, ada beberapa hal yang identik di kedua suku ini tetapi sebenarnya secara histori tidaklah demikian. Kita pasti tahu dan pernah mendengar tentang huruf lontara. Aksara lontara diciptakan oleh Syahbandar Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte atas perintah Raja Gowa Karaeng Tu Maparisika Kalonna. Dikatakan lontara karena pada saat itu yang digunakan untuk menulis semacam daun lontar sebagai pengganti kertas. Lontara pada mulanya dikenal dengan istilah lontara toa atau lontara jangang-jangang karena bentuknya yang menyerupai jangang-jangang (burung). Seiring dengan masuknya ajaran agama islam di Kerajaan Gowa, maka lontara jangang-jangang pun mengalami perubahan bentuk menjadi lontara bilang yang kita kenal seperti sekarang ini. Setelah itu bersamaan dengan ekspansi Kerajaan Gowa di jazirah Sulawesi bagian selatan maka pengaruh aksara lontara ini juga digunakan oleh orang Bugis. Masuknya lontara di daerah-daerah Bugis juga ditandai dengan penyesuaian dialeg. Mereka disana menambahkan kosa kata seperti nka, mpa, nra, nca, dan baris ‘e. Jadi dapat dipahami bahwa secara histori aksara lontara berasal dari budaya Makassar.

Selain tentang cikal bakal penemuan lontara, hal lain yang sering masiv dipropagandakan bahwa para pelaut ulung pada masa lampau yang dengan gagah dan berani mengarungi laut untuk berlayar dengan menggunakan perahu pinisi adalah orang-orang Bugis. Padahal sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1424 Pelaut Makassar yang berasal dari kerjaan Gowa Tallo sudah menjelajahi Selat Malaka. Bahkan pada saat itu penguasa Malaka Mahmud Syah memiliki utang sehingga Raja Tallo I Karaeng Loe ri Se'ro mengutus puteranya Karaeng Simaralluka untuk melakukan perjalanan ke Malaka dalam rangka mengambil hak ayahnya. Para pelaut makassar juga sering bersama orang Wajo dan Mandar yang merupakan sekutunya dalam melakukan penjelajahan ke berbagai daerah ke seperti ke Kalimantan, semenanjung Malaya, hingga ke daerah-daerah nusantara lainnya.

Hal lucu lainnya adalah seringnya beberapa tokoh Makassar disebut sebagai tokoh Bugis seperti Tuanta Salamaka Syeikh Yusuf. Beliau yang merupakan putera asli Gowa sebagai kerajaan terbesar Makassar, adalah seorang ulama besar. Bahkan nama beliau dikenal secara luas hingga ke negara Afrika Selatan. Pejuang kemanusiaan Afrika Selatan sendiri yaitu Nelson Mandela menjadikan Tuanta Salamaka Syeikh Yusuf sebagai insprisi perjuangannya dalam melawan politik apherteid di Afrika Selatan. Klaim yang tidak berdasar ini yang menyebutkan jika Tuanta Salamaka Syeikh Yusuf adalah seorang Bugis kadang membuat hati ini miris. Dan tentu kita sebagai orang makassar harus menjelaskan kepada orang-orang bahwa Tuanta Salamaka Syeikh Yusuf adalah putera Makassar asli dan bukan produk budaya lain.

Kemudian hal lain yang diklaim sebagai kebudayaan Bugis adalah perahu pinisi. Sejarah mencatat bahwa Pinisi merupakan sebuah kapal yang dimiliki oleh Raja Tallo VII yaitu I Mangiyarrang Daeng Makkio Karaeng Kanjilo Sultan Abdul Jafar Muzaffar Tummamalinga ri Timoro Tumenanga ri Tallo (1593-1641). Istilah Pinisi sendiri berasal dari dua kata yaitu kata picuru yang berarti contoh yang baik dan kata binisi sejenis ikan kecil yang lincah mirip ikan kopra tetapi memiliki bintik di kepalanya, sangat kuat dalam melawan arus dan gelombang. Dan tentunya istilah ini adalah istilah Makassar yang tidak kita jumpai di dalam kosa kata Bugis
Dr Mustari Bosra MA sendiri sebagai seorang sejarawan Universitas Negeri Makassar (UNM), menjelaskan bahwa kapal Pinisi mulai dikenal sejak kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan jadi kerajaan Maritim tepatnya abad ke 15 dan 16. Kerajaan yang merintis penggunaan kapal pinisi ini adalah Kerajaan Gowa Tallo untuk moda penyeberangan walaupun kemudian berkembang menjadi angkutan pengangkut pasukan perang. 

Pada saat Kerajaan Gowa Tallo kalah dalam Perang Makassar melawan VOC dan sekutunya yang dipimpin oleh Laksamana Cornelis Janzen Speelman, membuat banyak penduduk mengungsi terutama masyarakat Tallo/ Bira yang dikenal sebagai pembuat kapal Pinisi berpindah ke Bulukumba. Sehingga daerah tujuan mereka di sana diberi nama perkampungan Bira, sesuai asal daerahnya mereka berasal yaitu Bira/ Tallo. 

Songkok nibiring pun tak lepas dari hal yang ironis ini. Suatu ketika di sebuah pesta pernikahan, ada keluarga yang memakai songkok nibiring itu. Dia pun berfoto dan menulis penjelasan bahwa ia berfoto dengan songkok orang Bugis. Saya tidak akan menyalahkan ketidaktahuannya tentang sejarah songkok nibiring ini karena memang secara propaganda, orang awam akan mengenal jika songkok nibiring adalah songkok recca yang khas Bugis terutama Bone. Padahal dalam sejarahnya, awal mula yang menggunakan songkok nibiring atau songkok guru ini adalah para Panrita guru agama tu Mangkasaraka yang dipakai pada saat mengislamkan semua Raja Raja Bugis sebagai akibat dari sebuah ekspansi kerajaan baik yang ditaklukkan dengan peperangan maupun lewat jalur diplomasi. 

Sebagai buktinya adalah bahwa sebelum kerajaan-kerajaan Bugis memeluk islam, maka yang terlebih dahulu memeluk agama islam adalah kerajaan Makassar dalam hal ini kerajaan Gowa Tallo. Songkok yang identik dengan pengislam ketika itu menjadi bukti jika kerajaan yang lebih dahulu memeluk islam lah yang menunjukkan pemilik awal songkok. Barulah setelah kerajaan-kerajaan Bugis diislamkan, mereka mengadopsi songkok itu. Bahkan di daerah Bone mereka dengan bangganya mengklaim jika songkok ini adalah budaya mereka yang disebut songkok recca. Padahal di daerah Kabupaten Takalar tepatnya di Desa Sawakong, Kecaatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar adalah pusat kerajinan pembuatan songkok nibiring/ songkok guru. Jadi secara histori dapat dijelaskan bahwa songkok nibiring/ songkok guru bukanlah budaya yang berasal dari budaya Bugis tetapi akar sejarahnya berasal dari kebudayaan Makassar.

Sebenarnya masih banyak kebudayaan maupun istilah-istilah yang sebenarnya berakar dari budaya Makassar tetapi disebut sebagai budaya maupun istilah Bugis. Kita bisa melihat istilah sipakatau, sipakainge, maupun sipakalebbi yang sebenarnya adalah istilah Makassar yang diadopsi oleh suku Bugis. Padahal kosa kata dalam bahasa Makassar disebut sipakatau (saling memanusiakan), sipakainga (saling mengingatkan), dan sipakalabbiri (saling memuliakan). Kebudayaan lainnya yang diklaim sebagai budaya Bugis adalah “sigajang lalang lipa” (saling menikam di dalam sarung). Padahal sejarah membuktikan jika itu adalah budaya Makassar yang dikenal dengan istilah “sitobo lalang lipa”. Kita bisa membuktikannya jika itu budaya Makassar dengan melihat penutup kepala yang digunakan adalah passapu yang berwarna merah yang melambangkan orang Gowa dan passapu berwarna hitam yang melambangkan orang Kajang. Belum lagi hal lainnya seperti baju bodo hingga tari paraga yang diklaim sebagai budaya Bugis padahal akar dari budaya itu adalah dari budaya Makassar.



Sebenarnya pengklaiman budaya ini yang telah diadopsi setelah ratusan tahun tidak akan terjadi jika ada kepedulian diantara kita. Kepedulian awal yang dilakukan hendaknya berasal dari diri kita sendiri untuk bangga dengan budaya Makassar. Mengajarkan bahasa daerah Makassar dalam percakapan keseharian kepada keluarga kita bisa menjadi langkah selanjutnya. Selain itu kita harus juga melakukan penjelasan kepada khalayak ramai bahwa budaya-budaya yang diklaim tersebut adalah budaya yang berakar dari budaya Makassar. Sehingga ke depannya, orang akan memahami bahwa lontara, perahu pinisi, songkok nibiring, tarian paraga, baju bodo, maupun budaya makassar lainnya adalah budaya yang berakar dari Makassar dan akan tetap menjadi milik Makassar sehingga tidak ada lagi istilah Bugis Makassar. Yang ada hanyalah Makassar dan tidak memakai embel-embel suku lain. Dan itu menjadi tugas kita masing-masing sebagai orang yang terlahir dari rahim suku Makassar.


Comments

  1. dari sumber yang saya dapatkan tentang songkok recca yang anda jelaskan tadi sangat berbeda dengan pengakuan orang bone itu sendiri

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  4. Kasihannya mereka yg butuh pengakuan, yang pengen dianggap hebat dan menggap budaya bugis sebagai budaya dan tradisinya, hal ini sangat lucu krena budaya dan tradisi yg dilakukan secara turun temurun maka tidak pernah berubah dari zaman nenek moyang hingga saat ini, namun sangat lucu ketika tetangga mengklaim krena butuh pengakuan dan meresa paling hebat. orang bugis tidak keberatan kok kalau budaya dan tradisi mereka di klaim krena bugis tidak butuh pengakuan dan tidak meresa paling hebat namun tidak mundur jika di usik

    ReplyDelete

Post a Comment