HOAX DAN IMING-IMING SURGANYA


Fenomena hoax (berita bohong) agak meresahkan belakangan ini. Bahkan di Indonesia, sejak pesta demokrasi tahun 2014 hingga sekarang, berita hoax ini sudah dibumbuhi dengan ujaran kebencian. Sumber dan penyebar hoax ini pun beragam. Mulai dari masayarakat awam yang memang mendominasi pengguna sosial media di Indonesia hingga beberapa publik figur tidak luput dari wabah hoax ini. Sebenarnya berita hoax tidak akan mewabah seperti sekarang ini jika tidak ada yang menggerakannya di belakang layar entah disengaja maupun tidak disengaja.

Jika kita belajar konsep kesalahan berpikir, ada dua jenis pihak yang menjadi bagian dari hoax itu sendiri. Yang pertama adalah orang yang menyebarkan hoax dengan kesadaran penuh guna mencapai tujuan tertentu. Ini disebut sebagai sophisme. Di beberapa dekade silam, Amerika Serikat pernah menggunakan berita hoax dengan dukungan propaganda media guna mendapatkan legitimasi dalam melakukan agresi militer ke Vietnam yang dikenal dengan insiden Teluk Tonkin. Insiden ini bermula ketika Amerika Serikat menyalahkan Vietnam Utara atas penyerangan pada tanggal 2 Agustus 1964 terhadap kapal perusak USS Maddox ketika melakukan patroli. Tetapi faktanya adalah bahwa USS Maddox lah yang memulai peperangan dengan menembakkan tiga tembakan peringatan dan kemudian kapal Vietnam Utara melakukan serangan balasan dengan meluncurkan torpedo dan tembakan senapan mesin.

Tidak berhenti sampai disitu, Amerika Serikat kembali menuduh Vietnam Utara memulai peperangan di Teluk Tonkin jilid yang kedua pada tanggal 4 Agustus 1964. Padahal bukti yang ditemukan justru adalah sebuah citra radar palsu dan sebenarnya bukan kapal torpedo Vietnam. Akibat dari dua insiden ini adalah pengesahan Resolusi Teluk Tonkin oleh Kongres, yang memberikan kewenangan kepada Presiden Lyndon B Johnson untuk membantu setiap negara Asia Tenggara yang pemerintahnya dianggap terancam oleh "agresi  komunis". Resolusi ini berfungsi sebagai pembenaran secara hukum bagi Johnson untuk menggerakkan pasukan konvensional Amerika Serikat dan dimulainya perang terbuka terhadap Vietnam Utara. Dan akibatnya yang terjadi peperangan besar berkobar di negeri Vietnam yang ketika itu masih berpisah antara utara dan selatan.

Selain itu mungkin juga belum hilang di ingatan kita bagaimana propaganda senjata pemusnah massal dibangun oleh pemerintahan Bush guna mendapatkan dukungan internasional untuk menginvasi Irak. Dan setelah penyerangan itu ternyata berita tersebut adalah hoax. Seperti juga bagaimana begitu masivnya hoax dibangun di Libya dan Suriah demi meruntuhkan sebuah pemerintahan di sana yang memang tidak sejalan dengan agenda Amerika Serikat. Dan hasilnya adalah Irak, Libya, dan Suriah yang hancur dan porak-poranda. Perang kebencian baik yang berlatar belakang kelompok politik maupun sentimen kelompok tertentu begitu tidak terkontrol di sana dan tentunya yang paling menderita adalah para rakyat sipil.

Hoax dalam perspektif sophisme tidak hanya dimanfaatkan oleh kekuatan global seperti Amerika Serikat untuk memuluskan ambisinya. Tetapi juga dilakukan oleh beberapa pihak di negeri ini yang dengan sengaja membangun opini sesat dalam mencapai tujuannya. Sebut saja pegiat media sosial yang ternyata muallaf dan sekarang telah dijatuhi vonis 1,5 tahun penjara, Jonru Ginting. Di dalam postingannya tercatat beberapa kali ia melakukan penyebaran berita bohong. Yang pertama adalah memfitnah orang tua dari Presiden Jokowi. Jonru berujar di media sosial bahwa Presiden Jokowi adalah Capres ketika itu yang tidak jelas siapa orang tuanya. Padahal orang tua dan keluarga Presiden Jokowi adalah silsilah keturunan yang jelas. 

Kemudian Jonru mencoba membangun persepsi di masyarakat dengan mengaitkan Presiden Jokowi itu PKI hanya dikarenakan PDIP melakukan studi banding ke Partai Komunis Cina (PKC). Jelas pernyataan ini adalah pernyataan yang sangat tidak memiliki dasar pijakan ilmiah yang jelas. Mari kita berpikir sejenak, apakah dengan sendirinya Presiden Jokowi dapat dikatakan PKI hanya karena partai pengusungnya melakukan studi banding ke PKC. Jika hal itu memiliki relevansi dan dapat dibenarkan, maka seharusnya capres yang diusung PKS ketika itu juga paling tidak memiliki hubungan dengan PKC dikarenakan pernyataan dari Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP PKS sendiri yaitu Taufik Ramlan yang mengatakan PKS dan PKC beberapa kali saling menghadiri agenda masing-masing. Jika cara berpikirnya adil, maka baik PKS dan PDIP semua berafiliasi ke PKC karena masing-masing pernah melakukan kegiatan bersama.

Dan fitnah selanjutnya yang disampaikan oleh Jonru adalah postingan yang mengatakan tidak ada Kementerian Agama di kabinet Jokowi. Dan setelah kabinet ini dibentuk, bukan hanya Kementerian Agama yang tetap ada, tetapi beberapa kegiatan Presiden Jokowi sangat dekat dengan hal-hal yang berkaitan dengan agama termasuk beliau meresmikan Hari Santri Nasional, mengadakan Festival Shalawat, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Fitnah kejam Jonru sangat jelas adalah hal yang disengaja dengan mencoba memainkan persepsi masyarakat tentang siapa Presiden Jokowi itu.

Hoax di negeri ini tidak hanya diproduksi oleh pegiat sosial media yang ternyata muallaf seperti Jonru. Hoax pun ternyata diproduksi oleh mereka yang bergerak di bidang dakwah. Sebut saja seorang ustad yang bernama Zulkifli Muhammad Ali. Dalam sebuah ceramahnya ia berkata tentang adanya pencetakan jutaan KTP di Paris walaupun hingga saat ini tuduhan yang ia lontarkan tidak terbukti. Selain tentang KTP, Zulkifli juga seperti membangun sentimen kebencian terhadap kelompok tertentu. Ia berujar jika di Jakarta akan terjadi revolusi komunis dan revolusi syiah sehingga akan terjadi pertumpahan darah. Dalam sejarahnya revolusi Iran 1979 (jika ingin dilihat sebagai revolusi syiah) bukanlah revolusi pertumpahan darah seperti ketakutan Zulkifli. Revolusi Iran 1979 adalah revolusi damai karena memang diinginkan oleh rakyat Iran. Itupun kalau memang akan ada revolusi syiah di Indonesia. Itu yang pertama. Dan yang kedua adalah, apa dasar Zulkifli berkata jika di Jakarta akan terjadi revolusi komunis daan syiah. Hingga saat ini, berita dari seorang pensiunan jenderal yang berkata jika ada 15 juta kader PKI di Indonesia adalah bohong besar dan terkesan berfantasi. Sampai sekarang dari Badan Intelijen Negara tidak pernah menemukan adanya pergerakan massa PKI baik individu maupun secara organisasi hingga melibatkan jutaan orang.

Bukan hanya Zulkifli, banyak juga pendakwah di negeri ini yang ternyata gemar menyebarkan berita hoax. Dalam sebuah cuitan di tengah proses pilkada yang sementara berlangsung, AA Gym mengunggah gambar jari-jari palsu dan memperingatkan tentang potensi kecurangan dan berkata, "tak ada salahnya semua pihak berhati hati, siapa tau ada yang kalap saking ingin menang, menghalalkan segala cara”. Padahal  foto tersebut nyatanya adalah jari prostetik di Jepang, yang menurut wartawan lepas di Akiko Fujita dalam situsnya, dibuat untuk bekas anggota Yakuza yang kehilangan jarinya. Ustad yang lagi terkenal pun seperti Abdul Somad tidak terlepas dari fenomena hoax ini. Ia berkata bahwa Bashar Al Assad adalah syiah padahal nyatanya Assad shalat dengan sedekap. Ia juga berujar jika di Suriah terjadi kristenisasi padahal buktinya yang terjadi adalah pembunuhan yang dilakukan oleh teroris atas nama agama. Itu juga belum termasuk dari pernyataanya bahwa di Suriah telah muncul komunis. Pemahaman Abdul Somad tentang perbedaan Uni Soviet jaman dahulu dan Federasi Rusia di zaman sekarang yang kurang menyebabkannya menyebarkan berita bohong.

Dari dunia pendidikan ada seorang guru SMA yang menyebarkan berita hoax tentang 15 juta anggota PKI yang dipersenjatai dan akan membunuh ulama telah ditangkap termasuk juga adanya salah satu anggota MCA yang diciduk polisi padahal ia adalah seorang dosen. Ini cerminan dunia pendidikan kita yang mendekati titik nadir. Di saat dunia pendidikan adalah dunia intelektual yang mengedepankan pembuktian sebuah berita, di saat itu pula ada oknum yang menjadikan dunia pendidikan terlihat suram akan perbuatan yang ia lakukan. Hoax juga pernah dilakukan oleh Tifatul Sembiring. Menteri di kabinet SBY sekaligus politisi PKS ini sempat memposting foto mayat yang disebutnya korban kekerasan Rohingya. Namun ternyata foto tersebut merupakan peristiwa di Thailand pada 2014. Dan setelah itu barulah ia menghapus postingan itu. Coba bayangkan, politisi dari partai dakwah ini pun tidak terlepas dari hoax. Walaupun mungkin tujuannya baik tetapi jika caranya salah, maka akan tetap menjadi salah seperti perumpaan Jonru di sebuah postingannya yang bercerita tentang Robin Hood yang melakukan pencurian guna membantu mereka yang miskin.

Jenis hoax yang kedua adalah paralogisme. Keadaan seperti ini adalah keadaan dimana yang menyebarkan hoax ini tidak tahu bahwa berita tersebut adalah hoax. Ini banyak menjangkiti masyarakat kita yang awam dan minim literasi. Dikarenakan minim literasi, maka minat membaca dan meneliti berita itu benar atau tidak sangatlah kurang. Apalagi jika berita itu bersifat tendensius yang diikuti bumbu-bumbu sentimen primordial, maka akan dengan cepat berita hoax itu tersebar. Isu PKI, sentimen pribumi-non pribumi, dan sentimen mazhab adalah bahan sehari-hari yang digerakkan oleh kaum sophis sebagai produsen hoax dan begitu dinikmati kalangan paralogisme sebagai penikmat hoax.

Di fenomena ini saya sepakat dengan perkataan seorang ustad bahwa para penyebar hoax akan masuk surga, tetapi surganya juga adalah surga hoax. Semoga kita semua dan termasuk ustad yang berkata tentang hoax ini tidak termasuk di dalam para penghuni surga hoax. Coba dibayangkan jika kita menjadi penghuni surga hoax, sia-sialah perbuatan hoax mereka selama di dunia ini. Dan ini bahkan lebih kejam daripada fatamorgana.


Comments