Politik SARA sepertinya
masih menjadi primadona di dalam melakukan propaganda pembentukan pilihan
masyarakat. Pengalaman politik di Pilkada DKI tahun 2017 kemarin mencerminkan
jika isu ini berhasil. Bukan lagi adu gagasan, ide, serta prestasi kerja yang
ditonjolkan, melainkan kampanye berbalut sentimen agama dan ras. Hal itu pula
yang hendak diulang kembali di tahun politik ini menjelang pilkada serentak
2018 dan pemanasan menuju pilpres 2019.
Adalah wajar jika di
dalam sebuah negara demokrasi, kehidupan pro dan kontra terjadi dan bahkan
seharusnya dijamin oleh undang-undang. Tidak boleh ada kekuasaan mutlak di
negeri ini termasuk presiden. Pembagian kekuasaan di negara ini meliputi tiga,
yaitu eksekutif oleh presiden dan kabinetnya, legislatif oleh DPR, dan
kekuasaan yudikatif oleh unsur kehakiman. Kritik terhadap ketiga entitas kekuasaan
ini di dalam struktur negara demokrasi adalah wajar karena demokrasi adalah
dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jadi adalah tidak benar jika
presiden, anggota DPR, maupun unsur kehakiman tidak boleh dikritik. Bahkan kritik
itu sendiri sangat diperlukan dalam upaya memantau kinerja dari pemerintahan itu
sendiri.
Namun sepertinya bagi
sebagian masyarakat Indonesia, hak untuk mengkritik kepada pemerintah justru
digunakan sebagai alat propaganda menjatuhkan kredibilitas pemerintah dengan
menambahkan bumbu fitnah secara keji. Dengan menggunakan topeng agama maka
serangan fitnah itupun diluncurkan. Hebatnya lagi serangan itu berhasil menghegemoni
sebagian masyarakat kita sehingga dininabobokan oleh fitnah ini bahkan
cenderung menikmatinya.
Saya ambil contoh
dengan foto yang saya sertakan di bawah ini. Isu tentang PKI yang dimulai dari
pernyataan dari salah seorang mantan Jenderal ini terus digoreng. Terbaru bagaimana
potongan gambar pasukan pemberontak komunis di Filipina dijadikan sebagai bahan
untuk mempropagandakan bahwa komunis telah memiliki jutaan kader di Indonesia. Apa
alasan di balik semua ini? Akun yang menyebarkan berita ini jelas punya
kepentingan dengan suksesi kepemimpinan di negeri ini. Bukankah pilkada DKI 2017
adalah contoh yang pas untuk diulangi kembali. Jadi ada tujuan dari propaganda
ini. Tujuan awalnya adalah ingin menunjukkan bahwa bahaya PKI telah ada di
depan mata karena kepemimpinan sekarang tidak tegas. Sehingga harus dilakukan
pergantian presiden di 2019 nanti dan jelas siapa yang didukung oleh mereka.
Penggorengan fitnah ini
sebenarnya tidak dilakukan oleh mereka yang mabuk agama saja, tetapi oleh
mereka yang mabuk kekuasaan. Jadi lingkarannya seperti ini, ada satu pihak yang
sangat bernafsu ingin berkuasa di negeri ini dan ada pihak lain yang sangat
bernafsu mendirikan pemerintahan sesuai ideologi mereka. Seperti bahsa Karl Marx
ketika Eropa masih di dalam masa kegelapan, dia melihat adanya persekongkolan
jahat antara pemuka agama dan para penguasa ketika itu. Begitu pula yang coba
dilakukan oleh para kaum mabuk ini, mabuk kekuasaan dan mabuk agama. Tidak ada
bedanya ketika kaum agamawan dan penguasa di masa kegelapan Eropa yang saling
melegitimasi perbuatan mereka. Begitupun dengan sekarang, teriakan bela ulama,
stop kriminalisasi ulama, ulama akan dibunuh, adalah hasil karya mereka. Padahal
jika kita menengok sedikit saja ke belakang, bukankah ada beberapa ulama yang
dikriminalisasi sebelumnya. Sebut saja Rizieq Shihab dan Abu Bakar Baasyir. Mereka
berdua dipidanakan bukan karena mereka orang islam, tetapi mereka dipidanakan
karena mereka melakukan pelanggaran hukum. Tetapi pada saat itu tidak ada
teriakan kriminalisasi ulama. Belum lagi suara mereka untuk bela ulama bak hilang
ditelan bumi ketika yang difitnah adalah ulama pembawa kedamaian di Indonesia
seperti Said Aqil Siraj, Buya Syafii Maarif, maupun Quraish Shihab. Sadarkah kita
dengan semua ini.
Para kaum mabuk kekuasaan
ini juga akan dengan gigih membantu dari segi finansial pergerakan kaum mabuk
agama dengan tujuan menjatuhkan lawan politik. Ingat, mereka sebenarnya
menggunakan kaum mabuk agama ini ketika hanya butuh dan siap-siap akan tidak
terpakai ketika keinginannya sudah tercapai. Mereka sebenarnya tidak peduli
dengan agama yang dianut oleh para kaum mabuk agama ini karena bukan rahasia
lagi jika pendukung mabuk kekuasaan ini juga berada di dalam lingkaran
pengusaha Kristen yang pro Amerika Serikat dan jelas itu zionis. Belum lagi
foto-foto mereka yang justru bersama dengan Donald Trump, orang yang sangat
phobia dengan umat islam. Mereka hanya melihat dari sisi simbiosis mutualismenya
dan tidak ada yang lain.
Dan di lain pihak
justru mereka yang bergerak atas nama agama ini masih tega membuat berita
bohong seperti ini. Bukankah mereka mengaku sebagai pejuang islam. Apakah mereka
tidak tahu bahwa salah satu contoh orang munafik adalah ketika ia berkata maka
ia berbohong. Ini tidak ada ubahnya dengan barang siapa yang menyebarkan berita
hoax baik penyebar awal maupun penyebar selanjutnya dapat dikategorikan
munafik. Dan ironisnya, para kaum munafikin ini malah tidak sadar dengan
keadaan mereka. Apakah islam tidak terinternalisasi di dalam jiwa mereka. Apakah
keimanan mereka tidak tergadai dengan tindakan seperti ini. Bukankah golongan
ini yang sering menolak memberikan ucapan selamat keagamaan kepada pemeluk
agama lain dengan alasan takut imannya tergadai padahal menyebarkan berita
bohong jauh lebih parah menggadaikan keimanan itu sendiri.
Itu hanyalah salah satu
contoh betapa hoax sudah meracuni mereka yang sebenarnya dekat dengan agama dan
ternyata beritanya disebarkan oleh mereka yang memakai topeng agama. Dalam kajian
kesalahan berpikir, si penyebar hoax ini adalah para kaum sophis yang sengaja
menyebarkan berita bohong demi melakukan penyesatan di kalangan masyarakat. Perilaku
seperti ini tidak lebih baik bahkan lebih rendah lagi dari mereka yang mengaku
Nabi dan kemudian menyebarkan ke masyarakat. Sedangkan keadaaan masyarakat yang
“menikmati” kesesatan itu disebut paralogisme. Keadaan dimana mereka tidak
menyadari akan kesesatan berpikir mereka.
Marilah kita sadar akan
bahaya penyebaran berita seperti ini dengan tidak mudah mempercayai atau bahkan
membagikan sebuah berita sebelum melakukan verifikasi. Karena kebenaran itu
adalah kesesuaian antara ide dengan realitas. Ketika berita yang disampaikan
tidak sesuai dengan realitas maka otomatis berita itu tidak benar. Jangan sampai
di tangan kita, berita bohong tersebar dengan massif karena itu adalah dosa
jariyah. Jadi bukan hanya tentang foto-foto perempuan di media sosial yang bisa
menjadi dosa jariyah. Menyebarkan berita bohong pun termasuk di dalam situ.
Kita pasti tidak ingin negara
ini seperti Suriah yang porak-poranda dikarenakan masifnya berita bohong
tersebar sehingga puluhan ribu “jihadis” datang kesitu yang justru
menghancurkan Suriah yang dahulunya adalah negara yang aman. Kita tidak butuh
para “jihadis” dari berbagai negara datang ke Indonesia apalagi jika tujuannya
hanyalah mencari bidadari sebagai pelampiasan nafsu semata. Kita juga tidak
butuh para remaja putri yang datang ke Indonesia hanya karena tujuan ingin
melayani nafsu para “mujahidin” tersebut. Keindahan Indonesia sudah lebih dari
bidadari dan dari semua pemikiran seksualitas para “mujahidin” tersebut. Keindahan
dimana berbagai agama, suku, dan ras dapat bersatu di bawah panji NKRI. Keindahan
itu tidak akan kita temukan di negara-negara Arab yang sangat gemar berperang
satu dengan lainnya. Keindahan itu pula tidak akan kita temukan di negara-negara
Eropa yang justru takut dan paranoid dengan simbol-simbol agama. Tidak Arab dan
tidak pula Barat karena Indonesia jauh lebih indah dari mereka.

Comments
Post a Comment