Tidak seperti ucapan
seorang pendakwah yang meyakini islam rahmatan lil alamin akan tegak di bawah
tampuk kekuasaan sIstem khilafah, justru islam nusantara yang ada di Indonesia telah
melakukan itu. Jika kita menganggap bahwa islam rahmatan lil alamin terakhir
dipraktekkan oleh Khilafah Turki Ustmani di Turki seperti keyakinan para
pendukung Racip Erdogan, maka hal itu salah. Tumbal terbesar dari tegaknya
khilafah pada saat itu adalah adanya genosida terhadap etnis Armenia yang
hingga saat ini masih disanggah oleh sang presiden. Belum lagi begitu masifnya
Racip Erdogan membunuh para pejuang Kurdi di tenggara Turki bahkan memburunya
hingga di di wilayah Afrin, yang sesungguhnya telah memasuki wilayah utara Suriah.
Apakah memang islam rahmatan lil alamin itu mengajarkan okupansi terhadap
kedaulatan negara lain. Tindakan ini tidak ubahnya seperti yang dilakukan oleh
para penjajah di nusantara maupun yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina
dan Lebanon. Adakah para pemuja Racip Erdogan memahami ini bahwa pemimpin yang mereka
dielu-elukan sebagai khalifah kaum muslimin ternyata berlumur darah karena
kebenciannya terhadap suatu kelompok masyarakat baik yang dilakukan oleh
pendahulunya terhadap etnis Armenia maupun saat sekarang yang ia lakukan
terhadap etnis kurdi.
Atau mungkin yang
dimaksud islam rahmatan lil alamin adalah sistem islam yang berlaku di Arab
Saudi. Negara yang justru mempolitisasi kegiatan ibadah seperti haji. Belum hilang
di ingatan kita bagaimana pemerintah Arab Saudi melarang perjalanan haji dari negara
tertentu seperti Iran, Yaman, Suriah, maupun yang terbaru ini Qatar hanya
karena persoalan politik. Belum lagi fatwa-fatwa para pemuka agama disana yang
mengekang hak warga sipil hingga yang terkecil seperti hak mengendarai mobil
bagi kaum perempuannya. Itukah yang disebut islam rahmatan lil alamin. Ataukah
itu hanyalah islam rahmatan lil muslimin. Belum lagi tangan-tangan berdarah
para penguasa Saudi ini dalam kampanye terornya di Yaman. Apakah islam rahmatan
lil alamin mengajarkan kita untuk menyerang negara yang tidak sepaham dengan negara
kita terutama pada persoalan suksesi kepemimpinan. Bisa dibayangkan jika itu
terjadi di Indonesia, hanya karena perkara suksesi kepemimpinan di negara Jiran
semisal Malaysia ataupun Singapura yang tidak sesuai dengan keinginan
pemerintah Indonesia, maka dengan serta merta melakukan kampanye teror seperti
yang dilakukan Saudi terhadap negara jirannya yaitu Yaman.
Realitasnya memang bahwa
islam nusantara telah berhasil mewujudkan islam yang rahamatn lil alamin
setidaknya dalam konteks keindonesiaan. Islam yang mengayomi semua ketika ada
yang tertimpa musibah. Islam yang tidak mengenal lintas agama untuk melakukan
pembelaan. Islam yang tidak merasa
selalu ingin membunuh ketika memasuki tempat peribadatan agama lain karena
menganggapnya kafir. Islam nusantara justru meleburkan diri dalam kegiatan
kemanusiaan lintas keyakinan. Membersihkan rumah peribadatan semisal gereja
yang hancur karena perbuatan seseorang yang mengaku muslim, tidak serta merta
meruntuhkan keyakinan kita. Apalagi karena ini pelakunya adalah seorang yang
mengaku muslim yang sangat merindukan bidadari. Maka sebenarnya ini adalah
sebuah keharusan sehingga islam tidak dicitrakan agama teror.
Sebenarnya di belahan
bumi yang lain tepatnya di wilayah Timur Tengah tetapi bukan di Turki maupun di
Saudi, islam nusantara juga ada. Dalam sebuah kesempatan seorang anggota
Hizbullah Lebanon membersihkan reruntuhan isi-isi gereja di wilayah Suriah yang
porak-poranda akibat keganasan para pemberontak di sana. Hizbullah yang oleh
Yusuf Qardhawi disebut Hizbusyaithan justru menjadi rahmat bagi penduduk di sana.
Apakah ada syaitan yang menjadi rahmat bagi rumah ibadah. Mungkin Yusuf Qardhawi
yang merupakan simpatisan Ikhwanul Muslimin ini dan merupakan kelompok pemuja
Racip Erdogan di Turki lupa bagaimana Rasul SAW mengajarkan kebaikan kepada
Yahudi yang justru sering melemparinya kotoran ketika beliau SAW hendak shalat
subuh. Hingga sang yahudi kagum akan akhlak Rasul SAW dan dengan sukarela masuk
islam. Hal ini ternyata telah dilakukan oleh tentara Hizbullah yang Syiah ini dan
mazhabnya dipersekusi di Sampang beberapa tahun yang lalu justru mengajari kita
akhlak berhubungan dan memperlakukan orang yang berbeda agama dengan kita
seperti yang diajarkan oleh Rasul SAW.

Comments
Post a Comment