Mengapa
kita harus memikirkan Palestina, bukankah di negeri kita masih banyak masalah
yang harus diselesaikan. Itulah sekelumit kata-kata yang sering dilontarkan
oleh mereka yang menganggap persoalan Palestina hanyalah urusan bangsa Arab
semata. Mengapa kita yang berada jauh di Indonesia harus memikirkan itu.
Pikiran
seperti ini sangat dominan diantara mereka yang termakan propaganda holocaust, bangsa
pilihan, dan tanah yang dijanjikan. Pertama saya tidak menyangkal peristiwa
masa lalu seperti holocaust itu pernah terjadi. Tetapi dalam konsep keadilan
yang umum kita pahami apakah pantas pelaku dari holocaust itu menimpakan
kesalahannya kepada pihak yang sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa itu. Jika
masyarakat Eropa pada umumnya dan Jerman pada khususnya merasa bersalah dalam
peristiwa meninggalnya kaum Yahudi tersebut, seharusnya negara Israel itu
didirikan di Eropa dan tepatnya di Jerman. Bukan malah mendirikan Negara ilegal
itu di sebuah daerah yang jauh dari peristiwa holocaust itu sendiri. Contoh gampangnya
seperti ini, demi memenuhi rasa keadilan maka seharusnya seorang pencuri yang
telah terbukti bersalah harusnya dihukum dan bukan justru orang lain yang tidak
terlibat dalam pencurian itu yang harus dihukum. Kesalahan berpikir seperti ini
yang sama sekali tidak bisa dibenarkan.
Dalam
lingkupnya, kesalahan ini disebut argumentum ad misericordiam. Dengan alasan
belas kasihan sebagai bangsa yang teraniaya (bangsa yahudi Eropa), maka
dibuatlah sebuah negara untuk mereka walaupun sebenarnya klaim kebenaran
pembantaian itu (holocaust) masih harus diperdebatkan. Dan sebaliknya, justru
holocaust modern telah terjadi kepada bangsa Palestina itu sendiri. Mereka terusir
dari kampung halaman sendiri demi menampung bangsa yahudi yang teraniaya itu. Pengusiran
dan pembunuhan ini malah berlangsung dengan sistematis. Dan itulah
sebenar-benarnya holocaust.
Kedua
tentang klaim bangsa pilihan. Bagi saya klaim ini hanyalah sebuah propaganda
murahan yang tidak memiliki relevansi sejarah yang jelas. Banyak pertanyaan
yang bisa diajukan terhadap klaim ini. Jika memang mereka adalah bangsa pilihan
Tuhan, mengapa mereka harus tercerai berai akibat dari tindakan Hitler. Bukankah
bangsa pilihan Tuhan adalah bangsa yang hebat? Jika pula mereka adalah bangsa
pilihan Tuhan, mengapa mereka melakukan kekejaman terhadap masyarakat yang
terlebih dahulu mendiami daerah Palestina tersebut. Apakah bangsa yang dipilih
oleh Tuhan adalah bangsa pembunuh dan pengusir? Jika itu benar, maka saat itu
pula Tuhan telah pensiun dari jabatanNya karena salah memilih bangsa pilihan.
Kemudian
mereka yang disebut sebagai bangsa pilihan Tuhan apakah benar adalah keturunan
dari mereka yang bersama dengan Nabi Musa AS ketika melawan kekejaman raja Firaun
dari Mesir. Bukankah sebagian besar imigran gelap ini yang sekarang mengokupasi
Palestina adalah pelarian dari yahudi Eropa yang dikejar-kejar Hitler. Tidakkah
kita dapat berpikir jernih jika keturunan bangsa yahudi yang bersambung dengan
nabi Musa AS memang ada di tanah Palestina itu sendiri dan tidak berasal dari Eropa.
Bukankah pula memang sejak dahulu sebelum terbentuknya negara ilegal ini (Israel)
sudah ada kaum yahudi yang mendiami Palestina. Maka tidak salah jika para
imigran dari Eropa ini lebih tepat dikatakan sebagai imigran gelap yang ingin
menjadi penguasa di daerah tujuannya. Maka tidak heran pula justru ada beberapa
kaum yahudi Palestina yang tidak setuju dengan pendirian dengan Israel itu
sendiri. Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Israel ini mirip kolonialisasi
bangsa Eropa terhadap benua Amerika yang berhasil menyingkrikan penduduk asli
yaitu bangsa Indian. Maka tidak mengherankan jika pemerintah AS melakukan
tindakan ini dengan mengakui Al Quds (Yarussalem) sebagai ibukota Israel,
karena tindakan itupun pernah mereka lakukan terhadap bangsa Indian dan
tentunya Israel adalah contoh yang baik bagi pemerintah AS.
Yang
ketiga adalah propaganda tanah yang dijanjikan. Palestina (termasuk Al Quds) bagi
sebagian bangsa yahudi dan sebagian kaum nasrani adalah tanah yang dijanjikan. Klaim
seperti ini akan memunculkan banyak pertanyaan. Seperti adanya terjemahan Al
Quran sebagian kaum muslim terhadap pemilihan pemimpian kafir, maka makna dari
tanah yang dijanjikan dalam literasi kitab yahudi dan nasrani pun harus
didiskusian dengan panjang. Jika terjemahan langsung yang digunakan, maka apa
bedanya pemikiran seperti ini dengan pemikiran intoleran beberapa kaum muslim
yang tidak bersedia memilih pemimpin kafir. Maka dengan masih terjebaknya
pemikiran seperti itu, bukan hanya radikal islam yang ada di Indonesia, tetapi
radikal nasrani dan yahudi pun ada dan tentunya pemikiran seperti ini sangat
berbahaya bagi keutuhan NKRI.
Ketiga
propaganda ini sangat dominan bagi sebagian kaum nasrani dan yahudi dalam
melihat persoalan Palestina. Padahal persoalan ini adalah persoalan
kemanusiaan. Persoalan amanat UUD 1945 yang mengamanatkan kita sebagai bangsa
Indonesia untuk menghapuskan segala bentuk penjajahan di atas dunia. Palestina sebagai
sebuah daerah yang didiami muslim, nasrani, dan yahudi yang masih terjajah
hingga saat ini akibat ekspansi dari imigran gelap Eropa. Para imigran ini
tidak lebih dari sekelompok manusia serakah yang mengusir penduduk pribumi di
suatu daerah dengan embel-embel agama.
Jika
Arab Saudi menggunakan propaganda penjaga haramian untuk mengukuhkan dirinya
sebagai pemimpin umat muslim dunia, maka Israel menggunakan propaganda bangsa
pilihan dan tanah yang dijanjikan sebagai senjata untuk memuluskan ambisinya. Keduanya
pun baik Arab Saudi maupun Israel menggunakan sentiment agama untuk melakukan
upaya pembodohan ini. Karena mereka sadar, bungkuslah sesuatu dengan agama maka
upaya pembodohan akan mudah dilakukan. Tidak mengherankan karena memang kedua negara
ini saudara tetapi lain bapak. Satunya memiliki bapak orang Arab Badui dan
satunya lagi punya bapak orang Eropa.

Comments
Post a Comment