Saya
melihat sayup-sayup peringatan hari anti korupsi sedunia yang jatuh pada
tanggal 09 Desember untuk tahun ini terdengar kurang kencang. Gaungnya dikalahkan
oleh berita penyetujuan presiden Amerika Serikat yaitu Donald Trump untuk
memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat ke Al Quds (Yarussalem) yang memicu
kecaman dunia, maupun berita pertemuan antara Abu Janda dan Felix Siauw di
acara ILC beberapa waktu yang lalu. Tetapi momen hari anti korupsi sedunia
harus tetap digaungkan kepada masyarakat tentang bahaya laten korupsi karena
telah menggurita dan mendarah daging di banyak skruktur pemerintahan negara ini.
Terkhusus
untuk kali ini di momen hari anti korupsi sedunia saya akan mencoba mengaitkannya
dengan pesta demokrasi pemilihan gubernur di daerah Sulawesi Selatan. Memang jika
kita melihat secara nasional, pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Sulawesi
Selatan tidak terlalu mendapat porsi yang besar secara nasional dibandingkan
dengan pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta sebagai ibukota negara
maupun pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Jawa Barat yang nota bane
memiliki jumlah pemilih terbanyak se Indonesia. Tetapi sebagai warga Sulawesi
Selatan, saya akan mencoba memberikan pandangan pesta demokrasi ini dengan
keterkaitannya terhadap peringatan hari anti korupsi sedunia.
Tulisan
ini tidak mencoba untuk mendiskreditkan pasangan tertentu yang bertarung di
ajang pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan 2018. Tulisan ini
hanya mengingatkan pentingnya memahami latar belakang para calon yang bertarung
nanti. Hal ini penting mengingat mereka akan memimpin Sulawesi Selatan selama 5
tahun ke depan. Nama yang berkembang untuk pertarungan nanti adalah pasangan
Nurdin Halid (mantan Manajer PSM dan Ketua PSSI), Nurdin Abdullah (Bupati
Bantaeng 2 periode), dan Ichsan Yasin Limpo (Mantan Bupati Gowa 2 periode). Mari
kita bedah satu persatu jejak pribadi mereka dan jejak para pendukung mereka.
Nurdin
Halid adalah seorang politikus kawakan yang sekarang mencoba peruntungan ikut
serta dalam pertarungan pemilihan gubernur Sulawesi Selatan 2018. Sosok Nurdin Halid
sebenarnya tidak asing lagi bagi masyarakat Sulawesi Selatan terkhusus pecinta
PSM. Prestasi terbaiknya adalah membawa PSM juara ketika ia menjadi manajer
tim. Di samping prestasi tersebut yang tentunya membanggakan bagi masyarakat Sulawesi
Selatan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Nurdin Halid tercatat tiga
kali berurusan dengan kasus korupsi1 yaitu dugaan kasus
penyelundupan gula impor ilegal, korupsi distribusi minyak goreng dan
pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam.
Hal
ini seharusnya menjadi pelajaran buat kita sebagai masyarakat Sulawesi Selatan.
Bukankah korupsi adalah bahaya laten yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali. Ibarat
seorang mantan pecandu narkoba, ketika ada kesempatan untuk mencoba zat haram
itu kembali dan lingkungannya mendukung, maka tidak menutup kemungkinan dia akan
kembali ke dunia hitam tersebut. Begitupun dengan mantan terpidana korupsi,
bahaya laten korupsi suatu saat bisa muncul kembali. Memang setiap orang dapat
berubah seiring berjalannya waktu, tetapi perubahan itu tidak selamanya ke arah
positif apalagi jika didukung oleh lingkungan. Yang saya maksud adalah
lingkungan ketika ia menjadi seorang gubernur, maka potensi korupsi akan sangat
besar. Sudah cukuplah bagi kita mantan gubernur Banten dan gubernur Sumatra
Utara sebagai pelajaran. Jadi sudah siapkah kita dipimpin oleh gubernur mantan
terpidana korupsi tanpa memikirkan bahaya laten korupsi. Jika dahulu yang
dikorupsi adalah gula, minyak goreng, dan beras, maka ketika dia menjadi orang
nomor 1 di Sulawesi Selatan, lahannya malahan akan semakin besar.
Berbeda
dengan Nurdin Halid, sosok Nurdin Abdullah adalah sosok pemimpin yang belum
pernah terlibat dalam kasus korupsi. Banyak yang mengapresiasi pencapaian
bupate Bantaeng ini dalam memajukan kabupaten Bantaeng sejajar dengan kabupaten
lainnya di Sulsel. Pantai Marina yang disulap semegah pantai Losari di Makassar,
hingga adanya rumah sakit bertaraf internasional di kota Bantaeng. Dalam pembahasan
tentang sosok Nurdin Abdullah saya akan lebih menyoroti partai yang
mendukungnya untuk maju dalam pilgub sulesl. Ada 4 parpol yang mendukung
pencalonannya diantaranya PDIP, Gerindra, PKS, dan PAN2. Saya memahami
jika politik itu cair sesuai dengan kepentingannya, maka tidak heran ketika
partai yang kemarin saling bertarung di pilkada DKI Jakarta malah bisa
bergandengan tangan di pilgub Sulawesi Selatan. Hanya dalam posisi seperti ini,
dukungan dari partai akan sangat menentukan ke depannya.
Saya
mengambil contoh apa yang dilakukan oleh walikota Bogor yaitu Arya Bima. Pencalonannya
yang didukung kekuatan islam radikal seperti HTI berdampak pada kebijakan Arya Bima
yang tidak lagi toleran bagi warganya seperti akses kegiatan keagamaan yang
tidak diberikan terutama terhadap mereka yang minoritas dari segi kuantitas. Padahal
kita ketahui sendiri seorang Arya Bima adalah sebelum menjadi bupati adalah seorang
pemikir moderat. Hal yang sama terulang di pilgub DKI Jakarta. Seorang Anis
Baswedan yang dikenal moderat bahkan ada sebagian yang mengklaimnya liberal,
ternyata menjadi gubernur yang dielu-elukan kelompok islam radikal dan Anis Baswedan
memahami konsekuansi logis dari tindakannya ini. Cap liberal akhirnya hilang
seiring dengan dukungan dari kelompok islam radikal.
Begitupun
dengan pencalonan Nurdin Abdullah ini, saya tidak meragukan komitmen Nurdin
Abdullah terhadap pancasila tetapi sepak terjang Gerindra dan PKS dalam pilkada
DKI Jakarta menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya tidak bermaksud
menggiring opini bahwa kedua partai ini buruk, tetapi pengalaman berbicara
seperti itu. Kedekatan 2 partai ini dengan kelompok radikal dan kehebatan mereka
dalam memainkan isu agama dalam politik membuat saya mual ketika berbicara
tentang dua partai ini. Belum lagi jika dikaitkan dengan petinggi partainya
hingga sekelas presiden partai pun terjerat kasus korupsi dan semoga Nurdin
Abdullah tidak mengulangi kesalahan ini.
Yang
terakhir adalah sosok Ichsan Yasin Limpo. Adik kandung dari Gubernur Sulawesi
Selatan Syahrul Yasin Limpo ini adalah sosok yang memimpin kabupaten Gowa
sebelum bupati sekarang yang tidak lain adalah anaknya sendiri yaitu Adnan
Purichta Ichsan Yasin Limpo. Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan kekuasaan
dinasti dalam sebuah perpolitikan lokal maupun nasional. Toh hal ini dapat kita
lihat dari contoh Bung Karno dengan Megawati, maupun SBY dan AHY. Saya malah
lebih menyeroti kinerja Ichsan Yasin Limpo ketika menjabat bupati Gowa. Tidak ada
hal fenomenal yang ia lakukan seperti Nurdin Abdullah di kabupaten Bantaeng
maupun Ahok di Jakarta. Jika kita melihat pasar di sekitar jembatan kembar Sugguminasa,
tidak ada perbaikan yang signifikan. Pasar yang tetap semrawut dan meluber
hingga di jalan raya yang mengakibatkan kemacetan. Ia tidak bisa melakukan
seperti apa yang dilakukan Ahok di pasar Tanah Abang. Seperti itupun dengan Sungguminasa
yang menjadi ibukota kabupaten Gowa. Ia tidak bisa menyamai prestasi Nurdin Abdullah
yang membuat rumah sakit bertaraf internasional di kota Bantaeng. Ichsan Yasin
Limpo pun terancam jika ia terpilih nanti akan kesulitan dalam merealisasikan
anggaran karena maju sebagai calon independen. Ketiadaan dukungan parpol di legislatif
akan menyebabkan berbagai kebijakannya tersandera dan ujung-ujungnya kinerja
yang akan tidak berjalan efektif dan tentunya percepatan pembangunan di Sulawesi
Selatan akan terhambat.
Seperti
inilah perbandingan yang saya lihat. Saya tidak menyarankan apapun dalam pesta
demokrasi ini. Anda mau pilih Nurdin Halid, Nurdin Abdullah, maupun Ichsan
Yasin lompo, atau malahan memilih menjadi golongan putih adalah sebuah hak
konstitusional yang dilindungi undang-undang. Saya hanya mengingatkan lewat
opini ini perihal ketiga calon gubernur itu karena mereka akan mengontrol
kebijakan di sulsel selama 5 tahun ke depan. Semoga ke depannya kita tidak
salah pilih.
2. 2. http://makassar.tribunnews.com/2017/11/03/empat-ketua-partai-pengusung-silaturahmi-dengan-nurdin-abdullah

Comments
Post a Comment