Zionisme dalam agama yahudi adalah cerminan dari Wahabisme di dalam umat islam. Sama halnya juga entitas Israel yang memiliki akar sejarah sama persis dengan dinasti Saud. Mungkin kedengarannya agak sentimentil, tetapi persamaan yang sangat banyak dari kedua entitas ini kita tidak bisa abaikan begitu saja. Ada beberapa persamaan dari mereka jika dilihat dari berbagai aspek, diantaranya:
1. SEJARAH
Sejarah terciptanya kedua negara ini berawal dari runtuhnya Kesultanan Turki Ustmani yang begitu luas. Konsekuensi dari keruntuhan itu adalah banyaknya daerah yang sebelumnya dikuasai, menjadi lepas. Baik itu merdeka maupun diambil alih negara lain. Kekuasaan Turki Utsmani meliputi sebagian besar daerah Timur Tengah termasuk di dalamnya daerah Yarussalem (Al Quds) hingga ke selatan yang mencapai sebagian besar dataran Hijaz. Britania Raya (Kerajaan Inggris Raya) sebagai pihak yang mengalahkan Kesultanan Turki Ustmani di dalam Perang Dunia I, memperoleh hak atas beberapa daerah kekuasaan Turki Ustmani. Demi menjaga kekuasaannya atas daerah di Timur Tengah yang sangat strategis, maka Britania Raya menciptakan beberapa negara boneka seperti Israel dan Arab Saudi. Dengan klaim kebohongan, maka diciptakanlah kedua negeri ini.
Sejarah membuktikan bahwa kedua negara ini dibentuk berdasarkan perintah para intelijen Inggris. Kerajaan Saudi yang ada saat ini dalam sejarahnya didirikan dan diatur oleh Harry St John Philby, yang dikenal dengan Haji Abdullah Philby, salah satu agen intelijen Inggris di Jazirah Arab kala itu. Sedangkan Israel telah dipersiapkan sejak adanya janji atau pernyataan Mantan Menteri Luar Negeri Inggris Leonid Arthur Balfour pada November 1917 (untuk membentuk negara Israel) yang ia kirim ke salah satu tokoh terbesar Zionist, Lionel Walter de Rothschild.
2. KLAIM SEKTARIANISME DAN MAZHAB
Israel didirikan dengan dalih mendirikan negara bagi bangsa Yahudi yang tercerai berai akibat dari pembantaian yang dilakukan oleh Nazi Jerman di masa lampau. Peristiwa ini lebih dikenal dengan istilah Holocaust. Dengan alasan peristiwa ini, ditambah lagi dengan doktrin bahwa mereka adalah "bangsa pilihan" maka okupasi terhadap Palestina akhirnya dimulai. Ada sebenarnya 2 alasan yang seharusnya menjadi pertimbangan kita bahwa benarkah alasan holocaust dan "bangsa pilihan" membenarkan pendirian Israel ini? Yang pertama tentang holocaust. Jika peristiwa ini benar terjadi seperti yang dipropagandakan oleh media-media pro rezim zionis Israel, maka seharusnya negara Israel didirikan saja di Eropa atau lebih tepatnya di Jerman bukan malahan dibuat di Palestina yang jaraknya ribuan kilometer dari Eropa. Logikanya pelaku Holocaust adalah Nazi Jerman dan korbannya kebanyakan adalah yahudi Eropa, maka yang bertanggung jawab adalah si pelaku yaitu Jerman dengan memberikan sebidang tanah untuk masyarakat yahudi sebagai tebusan atas kesalahan Nazi di masa lalu. Bukan malahan menimpakan kesalahan ke pihak lain, yaitu Palestina. Kedua yaitu tentang "bangsa pilihan". Pertanyaannya simpel saja, jika bangsa yahudi Eropa yang berimigrasi ke Palestina adalah "bangsa pilihan", maka seharusnya mereka menyebarkan kebaikan dan kedamaian. Bukan malahan mengusir, membunuh, dan menjajah masyarakat yang telah bermukim sebelumnya. Perbuatan ini malahan tidak mencerminkan sebagai "bangsa pilihan" Tuhan, malahan lebih seperti bangsa pilihan setan.
Pendirian Arab Saudi tidak jauh beda dengan Israel yang dipenuhi klaim kebohongan. Dengan dalih melakukan pemurnian ajaran agama islam, Muhammad bin Abdul Wahab melakukan kolaborasi dengan Muhammad bin Saud yang ketika menjadi penguasa kecil di dataran Hijaz. Lewat bantuan Intelijen Inggris yang pada saat itu juga melawan Kesultanan Turki Ustmani, kolaborasi ini memperoleh kemenangan hebat. Keturunan Saud sebagai pendiri kerajaan menjadi penerus tahta dan ajaran wahabi yang bersumber dari Muhammad bin Abdul Wahab difasilitasi oleh negara. Klaim mereka sebagai penjaga islam dan penjaga Haramain adalah kebohongan besar. Lewat pengkhianatan mereka bersama Inggris, maka Kesultanan Turki Ustmani yang ketika itu menjadi penguasa islam akhirnya runtuh. Klaim mereka sebagai penjaga islam terlihat absurd di tengah pengkhianatan mereka terhadap Kesultanan Turki Utsmani.
3. MENJAJAH WILAYAH LAIN
Israel adalah sebuah rezim yang agresor dan sering mengokupasi negara tetangganya. Perlahan tapi pasti, satu persatu daerah Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yarussalem (Al Quds) direbut secara paksa. Belum lagi Dataran Tinggi Golan yang mereka caplok dari Suriah pada saat Perang Arab-Israel yang hingga saat ini belum dikembalikan. Israel juga pernah menyerang dan menguasai Lebanon Selatan hingga terusir oleh perjuangan rakyat Lebanon pada tahun 2000 walaupun mencoba lagi menguasainya lagi pada tahun 2006.
Tidak berbeda jauh dengan zionis Israel, Arab Saudi adalah negara yang gemar mengokupasi negara lain. Tercatat bahwa pada rentang waktu tahun 1933-1934, Arab Saudi mencoba menguasai daerah selatan yaitu Yaman. Perang ini berakhir dengan gagalnya Arab Saudi menguasai Yaman yang ditandai dengan mundurnya pasukan Arab Saudi di daerah Yaman setelah dilakukan kesepakatan damai. Di tahun 2015, peristiwa ini kembali terulang. Dengan dalih menumpas gerakan Ansharullah yang dipimpian oleh Houthi dan demi mengembalikan wibawa presiden yang mengundurkan diri yaitu Mansour Hadi, proyek penjajahan kembali dilakukan. Dengan keyakinanya, Raja Salman yang memerintahkan langsung penyerangan ini beranggapan jika gerakan ansharullah akan dikalahakan dalam beberapa bulan saja. Tetapi yang terjadi, perang yang telah terjadi lebih dari 2 tahun ini tidak berhasil menumpas gerakan ansharullah. Bahkan hingga saat ini, ibu kota Sanaa masih dikuasai gerakan ansharullah.
4. POLITISASI AGAMA
Apa yang dilakukan oleh Israel baru-baru ini dengan membatasi warga Palestina melakukan shalat Jumat di Masjid Al Aqsha, mengingatkan kita dengan apa yang dilakukan oleh Arab Saudi yang melarang masyarakat dari Suriah, Yaman, dan Iran untuk melakukan ibadah haji. Ibadah keagamaan yang seharusnya menjadi hak paling mendasar untuk dipenuhi, tidak diberikan oleh pemerintah Arab Saudi. Walaupun dengan alasan keamanan, justru yang terlihat lebih dominannya konflik politik dalam persoalan ini. Narasi yang sama dari Israel tentang pelarangan shalat Jumat, mencerminkan jika kedua rezim ini memiliki sudut pandang yang sama. Yaitu sering menggunakan agama sebagai sarana politiknya. Kita bisa juga lihat bagaimana Israel dipropagandakan untuk dianggap sebagai tanah air bagi orang-orang Yahudi dan Hukum Dasar Israel dalam konstitusinya mendefinisikan negara tersebut sebagai Negara Yahudi. Yahudi mendapatkan perlakuan istimewa, seperti hak bagi orang-orang Yahudi di mana saja untuk berimigrasi ke Israel dan otomatis menjadi warga negara, sementara non yahudi menghadapi diskriminasi sehari-hari dan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.
5. MUSUH YANG SAMA, SEKUTU YANG SAMA
Tidak ada yang meragukan bahwa Israel adalah sekutu utama Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Selain Israel, AS juga bersekutu dengan Arab Saudi sebagai salah satu kekuatan utama di Timur Tengah. Sedangkan keduanya juga memiliki musuh yang sama, yaitu Iran. Israel adalah negara yang dimusuhi oleh Iran pasca revolusi islam 1979. Slogan mampus Israel, sangat biasa menggema di seantero negeri Iran. Hal inilah yang membuat Israel begitu membenci Iran ditambah juga dengan keberhasilannya mengembangkan teknologi persenjataan yang ternyata buatan dalam negeri. Selain itu, kedekatan Iran dengan Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Jalur Gaza, menjadi alasan lain mengapa Israel begitu membenci Iran. Seperti yang diketahui pada tahun 2000, Hizbullah beserta rakyat lebanon berhasil mengusir Israel dari Lebanon Selatan. Bahkan di tahun 2006, mereka kembali berhasil menghalau serangan Israel yang berusaha kembali menguasai Lebanon Selatan.
Arab Saudi memusuhi Iran lebih diakibatkan oleh faktor politik dan tidak laten. Tidak seperti Israel, sebenarnya Iran dan Arab Saudi pernah memiliki hubungan yang mesra dibawah persahabatan Raja Abdullah dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Hubungan kedua negera ini lebih bersifat pasang surut dengan memerhatikan kompleksitas dan kepentingan kawasan. Arab Saudi memilih bersekutu dengan AS karena sangat bergantung dengan teknologi persenjataannya, sedangkan Iran lebih mengandalkan hasil karya ciptaan dalam negeri. Iran memilih mendukung gerakan-gerakan perlawanan yang revolusioner seperti Hizbullah di Lebanon Selatan, Hamas di Jalur Gaza, dan Ansharullah di Yaman sedangkan Arab Saudi lebih memilih bekerjsama dengan lembaga ataupun negara yang tidak memusuhi sekutu utama mereka yaitu AS. Mendukung Fatah di Palestina walaupun pemilu 2006 memenangkan Hamas, mendukung kudeta militer Al Sisi di Mesir karena takut gerakan Ikhwanul Muslimin berkembang di Arab Saudi dan mengancam status quo penguasa, serta membiayai para pemberontak Suriah yang ingin menggulingkan Presiden Bashar Al Assad padahal seperti yang kita ketahui, Suriah adalah satu-satunya negara Arab yang berperang langsung dengan Israel dan hingga saat ini tidak menandatangani perjanjian damai dengan Israel dengan risiko Dataran Tinggi Golan masih dicaplok dan belum dikembalikann.
Israel dan Arab Saudi ibarat 2 sisi mata uang. Satu sisi adalah rezim zionis Israel dan sisi di baliknya adalah rezim wahabi Arab Saudi. Kedua sisi ini memiliki akar sejarah yang sama dan saat ini dikendalikan oleh setan besar yaitu Amerika Serikat. Dan terbukti, 2 rezim ilegal ini menjadi kanker di Timur Tengah yang memicu awal mula konflik yang tidak berkesudahan.

Comments
Post a Comment