Miris memang kondisi Palestina saat ini. Di saat beberapa negara telah memproklamirkan kemerdekaannya pasca Perang Dunia II, Palestina hingga saat ini masih menjadi bangsa tanpa negara yang terusir dari kampung halamannya sendiri akibat dari ekspansi imigran ilegal yang membuat negara zionis di daerah tersebut. Hal itupun berlangsung terus menerus hingga sekarang yang bahkan ada hingga 3 generasi menjadi pengungsi akibat ekspansi zionis Israel.
Dan sekarang yang lagi aktual adalah sikap represif dan brutal yang ditunjukkan tentara zionis Israel terhadap masyarakat Palestina yang ingin melakukan ibadah di Masjid Al Aqsha. Dalam tulisan ini, saya lebih tertarik membahas masalah internal bangsa Arab dan umat islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina ketimbang membahas faktor eksternal. Karena sesungguhnya, jika secara internal masyarakat Arab dan Umat Islam bersatu dalam menghadapi zionis Israel, maka dengan mudah negara ilegal itu akan musnah. Tetapi, justru disinilah titik lemahnya sehingga Palestina hingga saat ini belum merdeka. Mari kita lihat fakta-fakta berikut:
a. Hingga saat ini, Presiden Turki yaitu Racip Tayyib Erdogan masih menjalankan kebijakan dua kakinya dalam melihat persoalan Palestina. Seperti kata pepatah, Erdogan ini bagaikan air di daun talas. Menjadi kawan bagi Barat dan Israel sekaligus berusaha menjadi idola di negara-negara mayoritas muslim. Di satu sisi, Erdogan tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Israel bahkan memiliki konsulat jenderal yang menandai begitu tingginya hubungan kedua negara ini dengan harapan langkahnya menjadi anggota Uni Eropa dapat segera terealisasi. Sementara di sisi lain, Erdogan selalu menyuarakan dukungan kemerdekaan Palestina di berbagai konferensi negara-negara Islam maupun negara non blok. Bahkan lewat sihirnya (saya menyebutnya sihir karena sikap dua kaki erdogan) ini, membuat namanya menjadi idola di beberapa negara muslim. Tetapi, sikap Erdogan yang seperti ini justru terlihat anomali bagi kaum-kaum yang mau berpikir. Mengapa? Jika memang Erdogan ingin membantu kemerdekaan rakyat Palestina, mengapa harus menjalin hubungan diplomatik dengan penjajah Palestina? Bahkan tercatat hubungan mesra ini dimulai sejak 1949 (1). Dan hingga saat ini Erdogan tetap melanjutkan hubungan itu walaupun diwarnai pasang surut. Layaknya sebuah lakon, pasang surut ini bak hubungan antara sepasang kekasih yang saling membutuhkan (2) walaupun kadang dibumbuhi riak-riak pertengkaran kecil. Dan sesungguhnya, ini hanyalah sebuah trik Erdogan agar terlihat beda di mata pemimpin dunia islam. Walaupun sebenarnya hanyalah sebuah sandiwara.
Saya tidak mengerti dengan sikap dua kaki yang dijalankan oleh Erdogan ini malah menjadikannya idola beberapa kaum muslim. Gampangnya seperti ini, Erdogan memelihara hubungan bilateral dengan Israel. Artinya ada hubungan yang terjalin termasuk hubungan perdagangan. Bayangkan jika keuntungan perdagangan ini digunakan oleh rezim zionis Israel untuk terus menjajah Palestina. Tidak sadarkah kita bahwa memang Erdogan itu adalah seorang pragmatis sejati. Pintar memanfaatkan peluang sekecil apapun demi memuluskan kepentingannya. Kepentingan ekonomi dan politik dengan Israel di satu sisi, dan kepentingan dengan umat muslim di sisi lainnya. Bahkan ada kecendrungan, Erdogan memanfaatkan situasi di Palestina demi kepentingannya sendiri. Bahkan jika memang Erdogan serius mau memerdekakan Palestina, seharusnya dana yang digelontorkan kepada pemberontak dan teroris di Suriah diberikan saja kepada faksi-faksi bersenjata di Palestina. Erdogan malah lebih suka menghancurkan negara yang memerangi Israel seperti Suriah dengan dalih membatu muslim yang terbantai disana, ketimbang dukungan ril diberikan langsung kepada faksi-faksi bersenjata di Palestina yang jelas-jelas dijajah oleh Israel. Ini semakin menjelaskan bahwa Erdogan telah berhasil menjalankan skenario Israel dengan menghancurkan musuhnya seperti Suriah. Sekadar informasi, Suriah adalah satu-satunya negara Arab yang berperang langsung dengan Israel dan belum membuat perjanjian damai dengan Israel. Bahkan hingga saat ini, Dataran Tinggi Golan yang merupakan daerah teritori Suriah masih diduduki Israel.
Erdogan yang pragmatis ini sepertinya masih harus belajar dengan pemimpin Indonesia. Sejak awal kemerdekaan hingga sekarang, Indonesia tidak mengakui Israel sebagai sebuah bangsa demi penghormatan dan sikap menghargai bangsa Palestina. Jika belum bisa memerdekakan Palestina, minimal jangan membantu pihak yang menjajah Palestina.
b. Raja Salman lebih senang menghancurkan Yaman daripada menghancurkan Israel. Pasca naik tahta menggantikan Raja Abdullah yang wafat, Raja Salman menjalankan skenario AS dengan menyerang Yaman. Negara miskin yang terletak di ujung jazirah Arab ini telah porak-poranda akibat serangan brutal rezim Saudi. Hingga saat ini, tercatat ribuan orang telah tewas akibat serangan bar-bar ini. Dengan dalih menumpas gerakan Ansharullah yang menguasai ibukota Sanaa dan mengembalikan wibawa kepemimpinan mantan presiden Mansour Hadi, justru rezim Saudi beserta koalisinya melakukan genosida di Yaman (3).
Rezim Saudi tidak berani mengambilkan tindakan seperti yang dilakukannya terhadap Yaman, dilakukan pula terhadap rezim zionis Israel yang menjajah Palestina. Jika alasannya ingin menumpas gerakan Ansharullah dan mengembalikan kepemimpinan mantan presiden Mansour Hadi, maka hal itu pula seharusnya dilakukannya terhadap zionis Israel yang terang-terangan mambantai rakyat Palestina. Tetapi justru hal ini akan sangat sulit dilakukan mengingat Saudi bahkan memasukkan kelompok-kelompok yang melawan zionis Israel sebagai kelompok teroris seperti Hizbullah (4) dan Hamas (5). Sikap seperti ini sebenarnya tidak mengherankan, karena Saudi sepertinya sudah membuka diri terhadap Israel. Kita tentu belum lupa bagaimana pertemuan mantan pejabat Suadi yaitu Anwar Eshki dengan pejabat dari Israel yaitu Dore Gold (6). Sikap seperti ini sejalan dengan kepentingan sekutu Saudi dan Israel yaitu Amerika Serikat (AS). Saudi dan Israel adalah kartu yang sangat penting bagi AS dalam terus menjaga hegemoninya terhadap timur tengah.
Saudi juga sepertinya lupa bahwa Palestina adalah bangsa Arab dan mayoritas beragama Islam. Saudi hanya sibuk menjalankan skenario AS dengan menyerang Yaman yang dikuasai oleh gerakan Ansharullah yang berpotensi dekat dengan Iran, musuh AS dan Israel. Seperti diketahui, potensi itu mendekati kenyataan setelah Sanaa yang merupakan ibukota Yaman dikuasai oleh gerakan Ansharullah. Dengan dikuasainya Yaman oleh gerakan pro Iran, otomatis selat Bab El Mandab sebuah selat strategis penghubung Terusan Suez dengan laut lepas di Samudera Hindia serta pulau sokotra yang berada di selatan negara itu tidak bisa lagi dikendalikan oleh AS dan sekutunya. Ini tidak lebihlah dari plot yang dijalankan AS melalui kaki tangannya, Saudi.
Selain itu, persoalan perpecahan antar negara Arab yang dikomandoi Saudi pasca kedatangan Presiden AS yaitu Donald Trump menambah pelik situasi ini dan tentunya berdampak pada perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina. Watak bangsa Arab yang mudah dipecah belah memang dimanfaatkan betul oleh Trump sehingga sesama negara Arab justru saling berkonflik. Dan ketika mereka berkonflik, maka perjuangan bangsa Palestina dalam melawan musuh sebenarnya yaitu zionis Israel akan semakin sulit. Ini problem yang seharusnya disadari oleh pemimpin-pemimpin negara Arab. Karena jika tidak, akan semakin sulit mewujudkan kemerdekaan Palestina.
c. Persoalan internal umat islam lainnya yang menyebabkan Palestina masih belum merdeka adalah adanya keyakinan beberapa umat islam yang terpropaganda oleh hasutan zionis bahwa mereka adalah "bangsa pilihan" Tuhan dengan merujuk teks kitab. Saya tidak akan masuk pada persoalan apakah teks kitab itu benar atau tidak, tetapi konsentrasi kritikan saya adalah perilaku mereka yang disebut "bangsa pilihan" ini. Adakah "bangsa pilihan" Tuhan berperilaku mengusir orang-orang dari tanah kelahirannya. Adakah pula "bangsa pilihan" itu adalah mereka yang merampok, membunuh, dan membantai masyarakat yang tidak berdosa. Jangan mau terpengaruh dengan propaganda murahan seperti itu bahwa mereka adalah "bangsa pilihan" Tuhan dan Palestina adalah tanah yang dijanjikan oleh mereka.
Propaganda murahan lainnya adalah peristiwa Holocaust yaitu peristiwa yang diklaim adalah pembantian bangsa Yahudi oleh Nazi Jerman yang digunakan dalih untuk membuat negara zionis Israel. Logika sederhanya seperti ini, jika memang peristiwa ini betul maka seharusnya negara Israel yang diperuntukkan bagi mereka yang terusir akibat kekejaman Nazi Jerman bukan didirikan di Palestina karena mereka tidak melakukan pembantian itu. Melainkan seharunya didirikan di Eropa atau tepatnya di Jerman. Selain karena yang dibantai adalah mayoritas Yahudi Eropa, pemerintahan negara yang melakukan pembantaian itu adalah Jerman. Jika X yang melakukan kejahatan, maka X yang bertanggung jawab dan bukannya dilimpahkan ke Y. Logika hukumnya seperti itu. Tetapi mengapa justru negara ilegal ini didirikan di Palestina yang tidak terletak di Eropa dan sangat jauh dari Jerman. Ini kan sangat aneh.
Jadi sebenarnya, inilah yang membuat hingga saat ini bangsa Palestina belum merdeka. Tidak semua negara muslim mendukung penuh kemerdekaan Palestina karena ada yang berhubungan baik dengan Israel seperti Turki. Selain itu, perpecahan antar negara-negara Arab justru mengakibatkan semakin tidak solidnya mereka dalam gerakan membantu kemerdekaan Palestina. Ada yang menyerang negara Arab lain, hingga terjadinya pemutusan hubungan diplomatik sesama negara Arab. Belum lagi ditambah dengan semakin banyaknya masyarakat muslim yang termakan propaganda yang menyebut imigran ilegal ini adalah "bangsa pilihan". Selama masalah internal seperti ini belum dapat diselesaikan, maka kemerdekaan bangsa Palestina masih sulit untuk direalisasikan.
1. https://m.merdeka.com/dunia/erdogan-turki-israel-saling-membutuhkan.html
2. https://m.merdeka.com/dunia/menguak-hubungan-mesra-turki-israel.html
3. http://m.detik.com/news/bbc-world/d-3032090/korban-tewas-serangan-pesta-pernikahan-di-yaman-menjadi-130-orang
4. https://m.cnnindonesia.com/internasional/20150528072252-120-56184/saudi-masukkan-dua-petinggi-hizbullah-ke-daftar-teroris/
5. http://www.pikiran-rakyat.com/luar-negeri/2017/06/08/hamas-marah-saat-saudi-minta-qatar-hentikan-bantu-keuangan-402730
6. http://m.antaranews.com/berita/574856/delegasi-arab-saudi-kunjungi-israel

Comments
Post a Comment