Klasifikasi Pemahaman tentang Palestina Israel

Eskalasi kekerasan yang terjadi antara Palestina dan Israel memunculkan berbagai pendapat masyarakat Indonesia khususnya yang terpublikasi di media sosial, seperti facebook. Ada beberapa pembagian pendapat yang terbangun mengenai masalah ini. Beberapa diantaranya melihat konflik ini secara parsial saja tanpa melihat secara menyeluruh kompleksitas persoalan yang terjadi sehingga kesimpulan yang diambil bersifat prematur. Kekeliruan dalam mengambil kesimpulan secara prematur disebut fallacy of dramatic instance. Ada pula yang melihat persoalan ini dari romantisme sejarah sehingga kesannya terlalu determinis dalam memahami sebuah persoalan atau dalam kajian kesalahan berpikir disebut fallacy of retrospective determinism. Serta berbagai sudut pandang penerjemahan dalam memandang masalah Palestina Israel.

Dalam pembagiannya, pola pikir masyarakat Indonesia dalam memandang masalah Palestina Israel dapat dibagi sebagai berikut:

1. Kaum ekstrimis
Persoalan Palestina Israel dipandang oleh kaum ekstrimis sebagai persoalan agama. Baik yang pro Palestina maupun yang pro Israel, masing-masing memiliki pendukung yang radikal. Jika yang pro Palestina terjebak di sentimen agama sehingga cenderung berpikir prematur, di sisi lain mereka yang pro Israel sangat terpengaruh oleh sentimen sejarah bangsa Yahudi sehingga apapun pondasi premisnya maka konklusi yang terbangun sangat determinis.

Para pendukung Palestina dalam melihat masalah ini hanya berkutat pada pemahaman bahwa bangsa Palestina adalah bangsa Arab yang islam dengan simbolnya Masjid Al Aqsha sebagai kiblat pertama umat islam. Walaupun faktanya, bangsa Arab Palestina tidak semuanya beragama islam. Ada juga yang beragama kristen dan yahudi (walaupun memang mereka cenderung pro Israel dengan sentimen agamanya) sehingga tidak bisa disimpulkan jika hanya masyarakat muslim Palestina yang menderita akibat dari kekejaman rezim zionis Israel. Ini yang saya katakan kesimpulannya bersifat prematur dan terjebak di fallacy of dramatic instance dikarenakan mengambil kesimpulan parsial untuk mewakili objek yang universal. Menyimpulkan bahwa yang teraniaya disana adalah hanyalah bangsa Arab Palestina yang muslim dikarenakan media-media utama melaporkan seperti itu padahal faktanya bangsa Arab Palestina terdiri juga dari kristen dan yahudi yang teraniaya akibat dari kekejaman rezim zionis Israel.

Lain halnya dengan pendukung Israel. Propaganda yang menghegemoni mereka adalah tentang sejarah yang bersumber dari "kitab suci". Jadi menurut sejarah yang mereka pahami, bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan yang akan kembali ke tanah Palestina. Tanah ini diyakini adalah tanah yang dijanjikan sehingga adalah legal jika para imigran yahudi yang tercerai berai itu menuju tanah yang dijanjikan. Mereka juga dahulunya memiliki nenek moyang yang berasal dari Palestina sehingga suatu saat jika mereka ingin kembali, maka itupun menjadi legal berdasarkan klaim sejarah. Jadi sentimen sejarah dari "kitab suci" memegang peranan kuat disini. Benarkah demikian? Mari kita bahas. Mari kita mulai dengan pembahasan bangsa pilihan. Apa sebenarnya ciri-ciri dari bangsa pilihan Tuhan? Apakah bangsa pilihan itu mengusir penduduk yang mendiami suatu wilayah? Apakah bangsa pilihan itu membunuh dan merampas pemukiman penduduk yang tidak berdosa? Bangsa pilihan itu adalah bangsa yang menegakkan keadilan di muka bumi. Seharusnya, bangsa pilihan yang tercerai berai karena kelakukan Nazi Jerman inj melakukan hukuman pembalasan (karma) terhadap bangsa Jerman dan bukan malahan kepada bangsa Palestina. Bukankah Nazi berasal dari Jerman dan bukan berasal dari Palestina. Sehingga untuk adilnya, sang pelakulah dalam hal ini Jerman yang harus bertanggung jawab dengan membuatkan negara Israel di Jerman dan bukan malahan melimpahkannya kepada Palestina yang tidak terlibat.

Kemudian klaim asal neneka moyang. Ini alasan yang sangat absurd. Jika semua dikembalikan oleh romantisme sejarah, maka akan terjadi banyak klaim-klaim sejarah antar kelompok karena masing-masing merasa berada di pihak yang benar. Juga dengan alasan ini, maka seharusnya bangsa kulit putih di Amerika harusnya pulang ke Eropa, dan bangsa kulit hitam harusnya pulang ke Afrika karena mereka bukan penduduk asli. Biarkanlah bangsa Indian yang membangun Amerika. Apakah ini diterapkan oleh Amerika Serikat dan Israel? Terlihat bahwa romantisme sejarah hanyalah propaganda. Dan parahnya mereka yang terjebak di romantisme sejarah ini hanya berkutat pada konklusi bahwa Palestina adalah asal nenek moyang bangsa Israel terlepas dari pondasi premis apapun yang diberikan. Inilah yang saya katakan jika mereka terjebak di kesalahan berpikir fallacy of retrospective determinism. Apapun penjelasan dan contoh yang diberikan, romantisme sejarah bahwa bangsa Israel berasal dari Palestina adalah kesimpulannya.

2. Kaum apatis
Mereka yang berada pada kategori ini melihat masalah Palestina dan Israel tidak usah disangkut pautkan dengan Indonesia. Apalagi untuk sekarang ini, bangsa Indonesia juga memiliki banyak persoalan-persoalan yang harus diselesaikan. Sekilas pemahaman seperti ini sangat menarik. Tetapi jika ditelusuri lagi jika mengacu pada dasar negara kita, maka pendapat seperti ini keliru. Coba kita buka di pembukaan UUD 1945. Di salah satu paragrafnya berbunyi:

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Di pembukaan konstitusi kita menjelaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Maka menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia untuk menolak penjajahan dimanapun tempatnya. Terkhusus konflik Palestina Israel, para kelompok apatis banyak yang salah paham. Mereka meyakini bahwa konflik Palestina Israel adalah konflik dua negara atau dua bangsa dan seharusnya Indonesia tidak mencampuri konflik itu. Padahal buktinya, konflik Palestina Israel bukanlah konflik antar negara melainkan konflik ini adalah sebuah penjajahan. Sekelompok bangsa Eropa yahudi yang tercerai berai oleh kekejaman Nazi Jerman, melakukan migrasi besar-besaran ke Palestina dengan tujuan mendirikan negara. Sedangkan ketika itu, daerah Palestina sudah didiami oleh bangsa Arab baik itu muslim, kristen, maupun yahudi. Para imigran ini bahkan melakukan pengusiran terhadap penduduk Palestina dan setelah itu mendirikan negara. Anehnya lagi, PBB ketika itu menyetujui untuk memberikan sebagian tanah Palestina untuk imigran yahudi ini sehingga secara tidak langsung, deklarasi pendirian negara para imigran ini didukung oleh PBB.

Sama halnya juga seperti ini. Para bangsa Eropa seperti Belanda dan Inggris melakukan pelayaran ke nusantara. Dengan alasan ekonomi, mereka berniat mendirikan koloni-koloni di nusantara. Karena semakin kuatnya para pendatang asing ini, maka mereka mendirikan negara di nusantara. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah para penduduk nusantara rela jika negaranya diambil oleh para pendatang Eropa ini? Saya yakin jawaban yang akan keluar adalah, sangat banyak penduduk nusantara ini tidak akan setuju. Begitu pula yang dialami oleh bangsa Palestina, dan sebuah hal yang wajar jika mereka melakukan perlawan terhadap imigran yang menjajah tanah mereka. Perlawanan mereka bukan tindakan terorisme seperti yang digembar-gemborkan media pro zionis. Kan tidak mungkin juga kita katakan pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, maupun yang lainnya adalah teroris hanya karena mereka melawan penjajah.

3. Kaum Moderat
Yang termasuk dalam kelompok moderat ini adalah mereka yang melihat konflik Palestina Israel secara menyeluruh. Konflik ini tidak melulu berbicara tentang sejarah maupun agama, tetapi lebih dari itu melihat konflik ini dari berbagai dimensi. Penekanan yang ditekankan lebih berbicara pada aspek kemanusiaan baik itu Palestina maupun Israel. Mereka mengutuk kekerasan yang diakibatkan oleh represifnya rezim zionis Israel terhadap bangsa Palestina, tetapi di sisi lain tidak membenarkan juga jika ada kekerasan yang menimpa warga sipil Israel. Kita tidak mungkin juga mengusir penduduk Israel yang telah beranak pinak hingga 3 generasi, tetapi di sisi lain kita tidak mungkin acuh terhadap nasib pengungsi Palestina yang telah terusir dari kampung halamannya hingga 3 generasi. Karena baik Palestina maupun Israel adalah manusia. Kaum moderat pun dalam memahami konflik ini memiliki pandangan yang beragam soal masa depan Palestina Israel.

Yang pertama adalah mereka yang sepakat dengan solusi 2 negara (two state solution). Jadi masa depannya adalah tetap berdirinya negara Israel yang bertetangga dengan negara Palestina. Solusi seperti ini merupakan pendapat mayoritas dari pihak-pihak yang mencari jalan keluar persoalan ini. Solusi 2 negara telah lama dibahas oleh para pemimpin dunia walaupun hingga saat ini solusi tersebut belum terealisasi. Watak ekspansif dan agresor rezim zionis Israel membuat solusi ini sangat rapuh. Bayangkan saja, jika pun solusi pembagian wilayah Palestina menjadi wilayah Arab dan yahudi (sebagai sebuah bangsa) terealisasi maka daerah itu tidak aman. Karena realitasnya di Tepi Barat pun yang kinj secara internasional menjadi daerah otoritas Palestina, rezim zionis Israel gencar melakukan pembangunan pemukiman ilegal yang banyak dikecam masyarakat internasional karena terbutki melanggar resolusi PBB yang seharusnya ditaati oleh semua pihak. Tetapi nyatanya Israel tidak peduli. Hal inilah yang saya katakan jika solusi 2 negara ini sangat rapuh.

Kedua, adalah solusi 1 negara (one state solution). Pendapat ini sebenarnya bukan pandapat mayoritas tetapi bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam memecahkan konflik Palestina Israel. Jadi akan ada sebuah negara baru, entah itu tetap memakai nama Israel, atau Palestina, atau Israel Palestina, ataupun nama lainnya yang jelas menampung seluruh bangsa baik bangsa Palestina yang terusir dan harus dikembalikan ke kampung halamannya maupun bangsa imigran Israel dengan catatan wilayah yang mereka tempati harus ditinggalkan jika wilayah itu sah dimiliki oleh bangsa Palestina sebelumnya. Mereka yang tidak memiliki tempat tinggal akan ditampung oleh pemerintahan yang terpilih. Jadi tidak ada lagi yang tinggal di pengungsian dan tidak ada pula yang dikembalikan ke Eropa. Tidak ada lagi rezim zionis yang melakukan penggusuran dan pembangunan pemukiman ilegal karena bangsa Palestina dan Israel telah disatukan dalam satu negara. Solusi ini mirip dengan yang dilakukan oleh Nelson Mandela di Afrika Selatan. Bangsa pendatang kulit putih berbaur menjadi satu dengan bangsa pribumi kulit hitam dan dengan sendirinya sentimen apartheid itu hilang. Saya melihat hal itu juga bisa diterapkan untuk Palestina dan Israel. Ketika kedua bangsa ini berbaur dan menjadi satu negara, dengan sendirinya sentimen zionisme Israel berangsur-angsur akan hilang.

Semoga kedamaian segara terlaksana di bumi Palestina...

Comments