Saya awali tulisan ini dengan mengutip perkataan seorang ulama besar. Beliau berkata “Kupersembahkan buku (tulisan) ini kepada mereka yang mau menggunakan akal sehatnya; baik ia seorang sarjana yang ahli di bidang penelitian, dan berkecimpung dalam kehidupan ilmiah, serta gemar menguji kebenaran di dalamnya. Ataukah ia serang ulama yang ahli dan dipercaya di bidang ilmu-ilmu agama. Ataukah ia seorang diantara kaum muda kita, harapan masa depan nan cerah, yang dinamis jiwanya, luas pengetahuannya, bebas pikirannya dari berbagai macam ikatan dan belenggu .”
Untuk tulisan ini saya bagi dalam berbagai bagian-bagian, diantaranya:
Kelahiran Ali bin Abi Thalib
Keluarga Abi Thalib adalah pemelihara ka’bah. Ketika Abi Thalib bersama Fatimah (istrinya) yang sedang hamil 9 bulan melakukan thawaf mengelilingi ka’bah pada hari Jumat, 13 Rajab 10 tahun sebelum Muhammad SAW diutus sebagai nabi, tiba-tiba istrinya merasa mulas. Abi Thalib membawa istrinya masuk ka’bah, tak lama kemudian istrinya melahirkan seorang bayi mungil. Inilah satu-satunya jabang bayi yang terlahir di dalam ka’bah. Istri Abi Thalib memberikannya nama Haidarah yang artinya singa-singa perkasa. Kemudian Rasulullah SAW memberikan nama Ali untuk bayi mungil itu. Suatu hari Rasulullah SAW menggendong bayi tersebut, karena menangis maka beliau menjulurkan lidahnya ke dalam mulut si bayi mungil, dan dengan lahapnya bayi itu mengulum lidah Rasulullah SAW sampai pulas tertidur. Ali adalah lelaki pertama setelah Nabi SAW yang masuk islam. Sejak kecil Rasulullah SAW memelihara Ali. Sering nabi mengimani shalat dan Ali ada di belakangnya. Nabi sang penerima wahyu adalah gurunya, pengasuhnya, pembimbingnya, dan pendidiknya.
Ayat-ayat Al Quran yang Berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib
Ada beberapa ayat al-Quran yang turun (asbabun nuzul) berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, diantaranya:
QS 5 : 55
“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah) ”.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika seorang pemimta-minta datang kepada Ali bin Abi Thalib, yang pada saat itu sedang melaksanakan shalat, ia (Ali bin Abi Thalib) tanggalkan cincinnya dan diserahkannya kepada si peminta-minta. Berkenaan dengan peristiwa itu, maka turunlah ayat ini. (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam kitab al-Ausath, Abdurrazzaq dari Abdul Wahab bin Mujahid bapaknya yang bersumber dari Ibnu Abbas, Ibnu Marduwaih melalui rawi yang bersumber dari Ibnu Abbas, Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ali, Ibnu Jarir dari Mujahid, dari Abi Hasim yang bersumber dari Salamah bin Kuhail);
QS 2 : 207
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya ”
Dalam riwayat disebutkan pada malam ketika Ali menggantikan Rasulullah SAW tidur di tempat beliau biasa tidur (yaitu malam hijrah). Maka turunlah kedua malaikat, yaitu Jibril (menjaganya) dari arah kepala (Ali), dan Mikail dari dari arah kedua kakinya. Maka berkenaan dengan itu, maka turunlah ayat ini. (Dirawikan oleh pengarang kitab-kitab as-Sunan. Dan disebutkan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya juz II);
QS 70 : 1 dan 2
“Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa. Atas orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya ”
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan an-Nadhr bin al-Harts yang berkata dengan sinis, “Wahai Tuhan! Sekiranya (ucapan Muhammad mengutamakan Ali lebih dari kami) itu benar-benar dari padamu, turunkanlah hujan batu dari langit !”. Pada saat itu juga Allah SWT menurunkan batu kearah tubuhnya dan membunuhnya seketika. (Kejadian ini telah disebutkan secara terperinci oleh al-Imam ats-Tsa’labi dalam tafsirnya al-Kabir, asy-Syablanji dalam kitabnya Nurul Abshar, al-Halabi dalam sirahnya, dan al-hakim dalam kitabnya al-Mustadrak).
Hadist-hadist yang berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib
Selain ayat di atas, masih banyak hadist yang menjelaskan tentang keutamaan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), yaitu:
Dari Ummu Sulaim, Rasulullah bersabda : “Hai Ummu Sulaim, sesungguhnya Ali adalah darah dagingku sendiri. Kedudukannya di sisiku, seperti kedudukan Harun di sisi Musa.” (Dirawikan oleh Ummu Sulaim, dalam kitab Muntakhab al-Kanz, dan kitab Musnad Imam Ahmad);
Rasulullah bersabda : “Wahai manusia semua, kiranya telah dekat saatnya aku akan dibawa pergi dengan secepat-cepatnya, dan aku telah berpesan padamu sebelum ini demi melepaskan tanggung jawabku padamu. Ketahuilah, aku telah meninggalkan bagimu kitab Allah dan Itrahku, Ahlu Baitku ”. Lalu beliau mengangkat tangan Ali sambil berkata : “Inilah Ali bersama al-Quran. Dan al-Quran bersama Ali. Tiada akan berpisah sampai keduanya menghadap aku di al-Haud ”. (Ditulis oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya as-Sawaiqul Muhriqah);
Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang mengakui aku sebagai maulanya (pemimpin), maka Ali adalah maulanya juga!”. (al-Hakim setelah merawi kan hadist ini berkata : “Ini hadist yang shahih sanadnya sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak merawikannya)”;
Dan telah Rasulullah bersabda : “Tertulis di pintu surga yaitu “Tiada Tuhan kecuali Allah; Muhammad Rasul Allah; Ali adalah Saudara Rasul Allah ””. (Di rawikan oleh ath-Thabarani dalam al-Ausath dan kitab al-Khatib dalam al-Muttafaq).
Hadist-hadist di atas dengan sangat jelas memperlihatkan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Masihkah kita ragu terhadap keutamaan beliau. Bahkan dalam hadist lain disebutkan kedudukan Ali di sisi Rasulullah seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Dan kita sendiri tahu bahwa kedudukan Harun AS adalah maula/ wali/ wazir baik ketika Musa AS masih hidup maupun ketika beliau sudah wafat (melanjutkan tugas kepemimpinan). Apalagi beliau (Ali bin Abi Thalib) terkenal sebagai orang yang zuhud , bahkan beliau sangat malu pada diri sendiri ketika ada seorang seorang perempuan yahudi mengadu kepadanya bahwa ada seorang muslim yang mencuri gelangnya ketika masa kekhalifaan beliau.
Beliau adalah seorang pemimpin yang selalu menjaga warganya setiap malam karena takut ada warganya yang tidak makan. Dan masihkah kita membela para lawan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) di perang Shiffin? Serta kaum Khawarij yang berkhianat kepada beliau. Dan adalah wajar para pengikut beliau yang setia sangat membenci orang-orang maupun kelompok yang membenci Amirul Mukminin karena Rasulullah sendiri bersabda bahwa Ali adalah darah dagingku. Semoga kita adalah orang-orang yang terus mencintai Rasulullah SAW dan Amirul Mukminin.
Terakhir saya akan persembahkan berbagai aforisme maupun ucapan yang dikeluarkan oleh Ali bin Abi Thalib, diantaranya:
“Keyakinan adalah (sumber) malu; Sifat pengecut adalah cacat; Kemiskinan menggagalkan lelaki cerdas membela dirinya; Orang melarat adalah orang yang asing di kotanya sendiri”;
“Barangsiapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya”;
“Bilamana kalian hanya mendapat nikmat yang kecil, janganlah kalian menolaknya dengan tidak bersyukur”;
“Membantu orang yang terlanda kesukaran dan menghibur orang yang dalam kesusahan berarti menebus dosa-dosa besar”;
“Zuhud yang terbaik adalah zuhud yang disembunyikan ”;
“Jadilah dermawan, tetapi jangan mubazir. Berhematlah, tetapi jangan kikir ”;
“Lidah adalah hewan buas; Bila dibebaskan ia menerkam ”;
“Carilah rezeki dengan memberi sedekah”;
“Tak boleh menaati seseorang yang menentang perintah Allah ”;
“Iman berarti pengakuan dengan hati, pernyataan dengan lidah, dan pengamalan dengan anggota tubuh”;
“Hak kaum tertindas atas kaum penindas akan lebih keras daripada hak kaum penindas atas kaum tertindas ”;
“Cintailah sahabat Anda sampai suatu batas, karena mungkin ia akan berbalik menjadi musuh Anda di suatu hari. Dan bencilah musuh Anda hingga suatu batas karena mungkin kelak ia berbalik menjadi sahabat Anda”;
“Sedikit amal yang dilanjutkan dengan teratur lebih bermanfaat daripada amal panjang yang dilakukan dengan enggan”;
“Orang miskin adalah utusan Allah. Barangsiapa menolaknya berarti ia menolak Allah dan barangsiapa memberi kepadanya, maka berarti ia memberi kepada Allah ”;
“Al-Quran mengandung berita-berita tentang masa lalu, meramalkan tentang yang akan datang, dan perintah-perintah untuk sekarang”;
“Hak Allah yang paling kecil atas Anda ialah bahwa Anda tidak menggunakan nikmatnya untuk berbuat dosa kepadanya ”;
“Orang yang berdoa tetapi tidak berusaha adalah seperti orang yang menembakkan panah tanpa tali busur”;
“Dosa yang paling parah adalah dosa yang dianggap ringan oleh pelakunya ”;
“Janganlah menganggap buruk ungkapan yang diucapkan seseorang apabila Anda dapat menemukan kemungkinannya mengandung suatu kebaikan”;
“Sesungguhnya kebenaran itu berat dan sehat, sedang kebatilan itu ringan dan menular ”;
“Janganlah bersombong, lepaskan tipu diri, dan ingatlah akan kuburan Anda”;
“Kearifan adalah (ibarat) keluarga ”;
“Manusia adalah musuh dari apa yang tidak dilihatnya”;
“Sedikit yang langgeng lebih baik daripada banyak yang membawa kesedihan”;
“Barangsiapa hanya melihat pendapatnya sendiri, hawa nafsunya nampak entang baginya”;
“Banyak orang yang terjerumus ke dalam kejahatan karena dipuji-puji ”.
Comments
Post a Comment