ISIS DAN DOMBA-DOMBA TERSESAT LAINNYA

Terbebasnya sebagian besar daerah Mosul oleh serangan militer Irak menandai makin memudarnya kekuasaan organisasi teroris transnasional terbesar di dunia yaitu ISIS. Perang pembebasan Mosul yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Haedar Al Abadi tahun lalu akhirnya mencapai titik klimaks dengan dibebaskannya sebagian besar daerah Mosul sebagai pusat kekhalifaan ISIS di Irak.

Sebenarnya membicarakan riwayat ISIS di Irak hingga penyerbuan Mosul sebagai pusat kekhalifaan mereka ada baiknya dimulai dari penyerbuan AS ke Irak dengan dalih menjatuhkan pemerintahan Saddam Husein yang dicurigai menyimpan senjata pemusnah massal walaupun dalih penyerangan itu tidak terbukti sampai sekarang. Justru akibat dari serangan itu, konflik sektarian pasca Saddam tumbang makin meningkat. Kehadiran pasukan koalisi internasional pimpinan AS malah membuat jurang desintegrasi Irak makin menganga. Di tengah situasi Irak yang makin kacau, sebagaimana yang diakui sendiri oleh Menteri Luar Negeri di zaman Presiden Obama yaitu Hillary Clinton bahwa ISIS adalah rekayasa ciptaan AS lewat tangan CIA. Di tengah berkobarnya sentimen sektarian di Irak yang ditengarai hasil kerjaan CIA pasca invasi AS ke Irak, diam-diam dibentuklah ISIS dengan tujuan melemahkan kekuatan di Timur Tengah yang anti AS. Sepak terjang ISIS bahkan melampaui kehebatan Al Qaeda maupun Taliban di Afganistan.

ISIS yang baru seumur jagung ketika itu bahkan dalam waktu yang sangat singkat sudah menguasai beberapa daerah Irak seperti Mosul dan hampir saja menguasai pusat pemerintahan di Baghdad. Sepak terjang ISIS yang sepertinya mendapat angin segar dari AS, dibuktikan dengan lambannya reaksi AS. Dan dengan kejadian ini pastilah memunculkan banyak pertanyaan. Dan sekarang terbukti bahwa memang AS adalah pencipta ISIS lewat operasi CIA seperti penjelasan dari Hillary Clinton.

Pola yang sama saya lihat digunakan di beberapa negara. Organisasi radikal dibina hingga bisa melakukan serangan-serangan teror dengan harapan bisa memunculkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat terhadap pemerintahan yg sah dan dengan sendirinya akan terjadi kekacauan. Kita bisa lihat bagaimana proses awal ISIS berdiri dengan jargon khilafahnya. Dengan kekuatan media baik AS maupun negara "pro jihad", ISIS diidentikkan dengan gerakan islam. Ketika ISIS sudah tidak bisa lagi dekendalikan bahkan menggigit tuannya sendiri seperti yang terjadi di AS, Turki, dan beberapa negara Eropa, maka narasi ISIS pun diubah lewat kekuatan media mereka. ISIS tidak lagi dilabeli "mujahidin" karena gerakannya sudah tidak menguntungkan AS dan negara-negara "pro jihad".

Pola ini pula sudah mulai terlihat di Indonesia. Organisasi-organisasi radikal dicitrakan sebagai gerakan jihad dan mujahidin. Perjuangan jihad mereka lakukan dikarenakan saat ini pemerintahannya adalah thogut dan zalim terhadap umat islam. Beberapa foto dan video di awal kemunculan ISIS (yang ketika itu masih dilabeli "mujahidin") yang menunjukkan mesranya ISIS dengan beberapa ormas radikal yang berafiliasi maupun hanya simpatisan seharusnya membuat kita waspada. Pola awal propaganda dan fitnah kepada pemerintahan yang sah, ajakan untuk bersikap ekslusif, intoleran, dan radikal, hingga pemufakatan jahat seperti gerakan terorisme dan lainnya. Indonesia harusnya belajar dari apa yang terjadi di Irak, Suriah, maupun yang terdekat ini di Filipina khususnya di daerah Marawi. Pola awal fitnah dan propaganda mereka gencarkan secara masif sehingga terbentuk sentimen kebencian yang dikombinasikan dengan sikap radikal dan intoleran sehingga pada akhirnya akan memunculkan aksi terorisme yang brutal.

Propaganda khilafah mereka adalah kosong, sekosong-kosongnya otak mereka yang telah dicuci oleh propaganda 72 bidadari. Gerakan mereka mungkin saat ini masih tidak sebesar di Timur Tengah, tetapi ancaman mereka sudah sangat nyata. Penyerangan dengan sentimen keagamaan kepada pemeluk agama lain dan aparat pemerintahan yang mereka anggap thogut dan zalim, ajaran ujaran kebencian sedari kecil bahkan dibumbuhi kata-kata bunuh sambil takbir, hingga terang-terangnnya beberapa organisasi radikal yang menghendaki penggantian pancasila. Semua hal itu harus dilawan dan sedini mungkin diantisipasi. Karena jika tidak, akan semakin banyak domba-domba tersesat macam ISIS. Domba akan tetap berbahaya jika mereka banyak, apalagi jika domba itu sudah tersesat karena otaknya telah dicuci oleh narasi kebencian perbedaan agama.

Comments