APA KABAR PENGUNGSI INDONESIA

APA KABAR PENGUNGSI INDONESIA

Di tengah hiruk pikuk perpolitikan nasional dan begitu gencarnya pemberitaan tentang kondisi luar negeri terutama di Timur Tengah, kita sepertinya lupa bahwa masih ada saudara-saudara kita yang menjadi pengungsi di negaranya sendiri. Permasalahan pengungsian ini tidak begitu dilirik oleh elit politik nasional hanya karena melibatkan golongan minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah yang tidak memiliki pengaruh suara yang cukup signifikan di sebuah kontestasi politik. Bukankah politik itu adalah jalan menuju kekuasaan dan kekuasaan di Indonesia bisa didapatkan ketika memiliki massa yang signifikan.

Begitupun mereka yang sangat peduli dengan kondisi carut marut Timur Tengah tetapi melupakan mirisnya penderitaan pengungsi Syiah dan Ahmadiyah. Saya masih ingat ketika Jalur Gaza diserang oleh Israel di tahun 2014 kemarin (1), begitu banyak masyarakat yang peduli baik secara materi seperti penggalangan dana maupun dukungan moril yang diberikan dalam bentuk aksi massa. Tetapi hal itu akan sangat sulit kita temukan dalam kasus pengusiran dan pembunuhan masyarakat Syiah maupun Ahmadiyah. 

Kekejaman yang dilakukan oleh pemerintahan Israel terhadap masyarakat di Jalur Gaza, terjadi juga di Indonesia seperti pada kasus yang menimpa masyarakat Syiah (2). Mereka diusir, rumahnya dibakar, bahkan ada yang terbunuh hanya karena perbedaan pemahaman terhadap tafsiran agama. Jika laknat dan kutukan dilemparkan kepada pemerintahan Israel ketika bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat Jalur Gaza, mengapa tidak ada protes kepada mereka yang juga bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat Syiah? Bukankah perbuatan mereka sama saja dengan kekejaman pemerintahan Israel. 

Dimanakah juga kepedulian kita terhadap korban persekusi ini ketika kejadian yang nun jauh disana lebih menggetarkan hati kita? Bukankah Syiah adalah saudara sebangsa dan setanah air kita? Ataukah Syiah tidak begitu dipedulikan karena mereka bukan komoditi yang menggiurkan dari segi materi dan popularitas. Bahkan kejadian di wilayah Aleppo, Suriah lebih memantik keinginan kita bersedekah walaupun ternyata sedekah kita ada yang jatuh ke tangan teroris dan pemberontak. Saya melihat ada yang bermasalah dengan nasionalisme dan nilai kemanusiaan kita. Sekadar mengingatkan sila ke 5 di dalam Pancasila itu berbunyi, "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Apakah Jalur Gaza dan Aleppo itu Indonesia sedangkan Syiah itu bukan bangsa Indonesia? Konteks ini tidak untuk mengurangi kepedulian kita terhadap sesama manusia yang terjadi di Jalur Gaza dan Aleppo, tetapi terlihat menjadi sebuah ironi karena ketidak pedulian pada kasus intimidasi dan persekusi terhadap Syiah.

Kondisi yang sama juga dialami oleh kelompok minoritas lainnya yaitu Ahmadiyah. Tak ada ruang bagi mereka untuk mendirikan rumah ibadah. Dengan stigma sesat yang dilabeli kepada mereka berdasarkan fatwa MUI sebuah organisasi bentukan di zaman orde baru , maka dengan mudah tindakan intimidasi dan persekusi dilakukan terhadap mereka. Saya tidak paham posisi lembaga seperti MUI di dalam konstitusi negara kita. Padahal jika kita melihat aturan yang jelas maka di dalam UUD 1945 Pasal 29 Ayat 2 sangat gamblang disebutkan aturan kepercaan dan keberagamaan di Indonesia. Di situ disebutkan, "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu". Artinya bahwa seharusnya ada jaminan dari negara baik dari lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif terhadap kemerdekaan beragama dan berkepercayaan. Karena jika tidak, maka sebenarnya pemerintah sudah melakukan tindakan inkonstitusional dikarenakan tidak melaksanakan amanat UUD 1945. Dan sekali lagi, negara tidak hadir bagi masyarakatnya. Dan ini merupakan aib di dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Ada hal menarik yang dilakukan oleh penganut ahmadiyah yang merupakan korban persekusi dan intimidasi sentimen keagamaan. Di tengah kesulitan yang mereka hadapi, justru mereka tetap melakukan kebaikan (3). Apa yang mereka lakukan justru mengingatkan kita pada sikap Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi pembencinya terutama dari kaum kafir quraisy dan yahudi. Dengan ketinggian akhlak beliau, justru hal itu menarik simpati dari mereka yang awalnya membenci Nabi Muhammad SAW. Islam rahmatan lil alamin telah diaplikasikan dengan baik oleh jamaah Ahmadiyah. Tidak ada kalimat takbir sambil melempari rumah orang lain. Tidak ada kalimat takbir sambil membakar masjid komunitas lain. Tidak ada kalimat takbir disertai dengan pembunuhan. Kalimat takbir yang begitu sakral dan indah, telah dibentuk menjadi kalimat kebencian dan kematian oleh para kaum overdosis agama.

Mari menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh dakwah terbaik dalam menyiarkan agama islam. Kita tidak punya kewajiban menjadikan seluruh penghuni bumi ini untuk memeluk agama islam. Karena jika itu adalah sebagai sebuah kewajiban, maka Nabi Muhammad SAW pun gagal dalam melaksanakan kewajiban itu. Kewajiban kita adalah menyeru kepada kebaikan tanpa memaksakan kehendak karena memang kewajiban kita hanyalah sebatas itu. Jika Syiah dan Ahmadiyah sulit untuk diterima menjadi bagian dari sebuah masyarakat karena ada yang menganggapnya kafir, sesat, dan menyesatkan, maka pahamilah mereka ini sebagai sesama manusia, sehingga niat untuk mengintimidasi, memersekusi, bahkan membunuh mereka itu hilang. Tetapi jika itu tidak bisa, maka cara dalam memahami ajaran agama itu yang perlu dipertanyakan. Dakwah Nabi Muhammad SAW itu bagaikan air laut yang tidak memaksa penghuni laut untuk menjadi asin seperti dia. Malahan menjadi tempat tinggal untuk seluruh penghuni laut tanpa pandang bulu. Begitulah islam, kita tidak punya kewajiban untuk mengislamkan seluruh umat manusia. Tetapi kewajiban kita adalah berbuat baik kepada seluruh manusia tanpa pandang bulu.

Semoga sudah ada titik terang terhadap pengungsi Syiah Sampang dan pengungsi Ahamdiyah Mataram maupun korban intimidasi dan persekusi lainnya seterang pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintah. Jangan sampai pembangunan fisik yang dilakukan mengabaikan hak dasar warga negara untuk beragama dan berkeyakinan.

1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Konflik_Israel–Gaza_2014

2. https://m.tempo.co/read/news/2012/01/13/058377115/pengusiran-paksa-warga-syiah-sampang-dikecam

3. https://tirto.id/muslim-ahmadiyah-menebar-kebaikan-sekalipun-dipersulit-cqyV

Comments